Syukur, Husnuzan, dan Ikhlas adalah Kunci Kebahagiaan Seseorang

www.majelistabligh.id -

Wakil Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren Muhammadiyah (LP2M) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Khoiruddin Bashori, mengatakan bahwa anak-anak sebagai generasi bangsa, harus mendapat pendidikan tentang syukur, husnuzan, dan ikhlas untuk menghadapi masa depan.

“Masa depan itu kita sebut sebagai VUCA, adalah akronim dari Volatility (volatilitas), Uncertainty (ketidakpastian), Complexity (kompleksitas), dan Ambiguity (ambiguitas),” kata Khoiruddin Bashori.

Pakar Psikologi ini melihat, konsep syukur dan prasangka baik atau husnuzan yang diajarkan dalam Islam sebagai salah satu aspek yang menimbulkan kebahagiaan di hati manusia. Rasa syukur ini membantu meningkatkan efek positif pada diri manusia.

Konsep syukur dan husnuzan ini yang menjadikan seorang muslim dapat merasakan kebahagiaan secara terus menerus. Sebab, dalam diri seorang muslim memiliki keyakinan bahwa segala harapan atau doa yang dipanjatkan itu akan dikabulkan, namun dengan waktu yang tak terduga. Meskipun jika doa tidak dikabulkan, seorang muslim akan tetap bersyukur karena itu bagian dari bentuk cinta Allah Swt.

Selain syukur dan husnuzan, konsep selanjutnya yang membuat seorang muslim selalu merasa bahagia adalah ikhlas. Di tengah masa depan yang serba tidak pasti, ambigu, dan kompleks, konsep-konsep yang diajarkan dalam Islam itu menjaga kesehatan jiwa manusia.

Fakta objektif sudah tidak relevan lagi digunakan untuk mengukur kebahagiaan. Sebab dalam pandangan psikologi mutakhir, memandang bahwa kebahagiaan itu terjadi secara subyektif.

“Penelitian-penelitian psikologi kemudian menyimpulkan bahwa ternyata kebahagiaan itu tidak objektif, tetapi subyektif. Maka kemudian istilah yang digunakan tidak lagi happiness, tapi subjective well being,” tandasnya. (*/tim)

Tinggalkan Balasan

Search