Tafsir, Subuh, dan Kehidupan: Warisan KH Abdurrahim Nur dalam Ingatan Sulthon Amien

www.majelistabligh.id -

Tidak semua perjalanan hidup dimulai dari jalan yang lapang. Ada masa-masa penantian yang panjang, kegagalan yang berulang, dan keraguan yang menyelimuti hati.

Namun, di balik setiap penantian, kadang tersimpan pertemuan yang tak terduga, perjumpaan yang mengubah jalan hidup seseorang secara mendalam.

Hal itulah yang dialami oleh Dr. HM. Sulthon Amien, MM, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur.

Dalam sebuah obrolan hangat di Podium Podcast Channel YouTube PWMU.TV, dia mengenang satu fase penting dalam hidupnya: saat di mana ia, sebagai pemuda yang tengah gelisah mencari arah, menemukan suluh terang melalui pengajian tafsir Al-Qur’an yang diasuh KH Abdurrahim Nur, MA.

Kala itu, Sulthon muda sedang berjuang menata masa depan. Dia telah melamar ke berbagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), namun tak satu pun membuahkan hasil. Bahkan, sebelum sempat menyerahkan berkas lamaran, ia pernah ditolak mentah-mentah.

Di tengah waktu luang yang dipenuhi rasa cemas dan kecewa, ia mengambil satu keputusan kecil yang ternyata berdampak besar dalam hidupnya: menghadiri pengajian tafsir Al-Qur’an ba’da Subuh yang diasuh KH Abdurrahim Nur di Porong, Sidoarjo.

“Saya datang hampir setiap hari. Di situ saya menemukan ketenangan dan pencerahan,” kisah pria yang juga bos perusahaan laboratorium medis ini.

Sulthon mengenang, jarak antara rumahnya dan lokasi pengajian saat itu sekitar enam kilometer. Setiap hari ia mengendarai sepeda motor dan sudah berangkat sebelum azan Subuh berkumandang.

KH Abdurrahim Nur adalah sosok ulama yang disegani, bukan hanya karena keilmuannya, tetapi juga karena keteladanan akhlaknya. Lahir di Porong, Sidoarjo, pada 17 September 1932, beliau adalah alumnus Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Sejak 1967 hingga 1997, ia mengabdikan diri sebagai dosen di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel (kini UINSA) Surabaya. Dia juga pernah menjabat sebagai Ketua PWM Jawa Timur dua periode: 1990–1995 dan 1995–2005.

KH Abdurrahim dikenal sebagai pribadi yang sangat rendah hati. Ia tidak pernah membedakan undangan dari Muhammadiyah atau Nahdlatul Ulama. Siapa pun yang ingin belajar, akan diterima dengan tangan terbuka. Ceramahnya lembut, penuh makna, dan membumi.

Tafsir, Subuh, dan Kehidupan: Warisan KH Abdurrahim dalam Ingatan Sulthon Amien
KH Abdurrahim Nur yang menjabat ketua PWM Jatim dua periode. foto: dok/wordpress

Model Tafsir yang Menghidupkan

Yang membuat pengajian KH Abdurrahim begitu khas adalah pendekatannya dalam menafsirkan Al-Qur’an. Dia tidak menggunakan kitab tafsir populer seperti Al-Maraghi atau Ibnu Katsir secara langsung, melainkan membacakan ayat Al-Qur’an dan menafsirkannya dengan merujuk kepada ayat-ayat lain yang saling berkaitan.

Pendekatan ini menjadikan makna ayat lebih luas, kontekstual, dan menyentuh kehidupan sehari-hari. Beliau bukan sekadar menjelaskan, tapi membuka ruang dialog.

“Kita bisa ngobrol gitu,” kenang Sulthon.

Pengajian ba’da Subuh bukan satu-satunya forum. Ada juga “Pengajian Reboan,” yang diikuti jamaah dari berbagai penjuru Jawa Timur.

Suasananya penuh kekhusyukan, tetapi tetap hangat dan bersahabat. Mereka yang hadir tidak hanya mendengar, tetapi benar-benar menyerap ilmu dengan antusias.

Sulthon mengaku bahwa pengajian tafsir ini menjadi bekal utama dalam perjalanan hidupnya. Bukan hanya dalam ranah keagamaan, tetapi juga saat ia menapaki dunia bisnis dan kepemimpinan.

Nilai-nilai seperti kejujuran, keberanian mengambil keputusan, kecermatan membaca situasi, dan keteguhan prinsip, semua ia pelajari dari tafsir-tafsir yang disampaikan KH Abdurrahim Nur.

“Kalau saya harus menyebut satu momen penting yang membentuk saya hari ini, maka itu adalah masa-masa saya ikut pengajian tafsir beliau,” tegasnya.

Disalahpahami, Tapi Tetap Luhur

Salah satu momen yang paling membekas adalah ketika KH Abdurrahim dituduh menafsirkan Al-Qur’an secara bil ra’yi, yakni menggunakan akal sendiri tanpa dasar. Dia menanggapi tudingan itu dengan santai.

“Beliau bertanya ke kami, ‘Apakah penafsiran saya ada yang aneh?’ Dan kami semua menjawab, ‘Tidak, Ustadz.’ Justru karena penjelasan beliau, kami jadi makin terbuka cara berpikirnya,” cerita Sulthon.

Kini, KH Abdurrahim Nur telah wafat. Namun ilmu dan teladannya terus hidup dalam diri para muridnya. Model pengajian yang dia bangun, yang tak hanya menyampaikan, tapi juga memantik perenungan dan dialog, menjadi warisan langka di tengah gempuran zaman yang serba instan dan dangkal.

Semoga akan lahir kembali ulama-ulama seperti beliau. Ulama yang bukan hanya hafal kitab, tapi juga mampu menafsirkan kehidupan.

Karena sejatinya, sebagaimana yang diwariskan KH Abdurrahim, tafsir bukan hanya tentang memahami teks, tapi tentang menyambungkan firman Tuhan dengan denyut nadi zaman. Itulah tafsir yang menghidupkan jiwa. (wh)

Tinggalkan Balasan

Search