Oleh:Nashrul Mu’minin
Content writer Yogyakarta
Muhammadiyah bukan sekadar organisasi, melainkan gerakan tajdid yang terus menantang stagnasi peradaban. Di tengah arus globalisasi yang menyeragamkan nilai-nilai lokal, Muhammadiyah justru menawarkan paradigma segar: bagaimana mempertahankan identitas keislaman sekaligus merespons zaman tanpa terjebak dalam romantisme masa lalu.
Namun, sejauh mana Muhammadiyah mampu menjadi mercusuar peradaban, bukan hanya di tingkat nasional, melainkan global?
Kalender Hijriah Global Tunggal yang diusung Muhammadiyah adalah contoh nyata upaya tajdid. Ini bukan sekadar persoalan teknis penanggalan, melainkan simbol perlawanan terhadap fragmentasi umat Islam. Selama ini, perbedaan kalender kerap memicu polemik sektarian, seolah Islam tak mampu bersatu bahkan dalam hal yang seharusnya sederhana. Muhammadiyah, dengan pendekatan astronomis yang rigid, berani keluar dari belenggu taqlid buta. Tapi apakah langkah ini cukup?
Problem terbesar Muhammadiyah bukan pada konsistensi gerakan, melainkan pada tantangan eksternal: hegemoni Barat yang mendikte standar “peradaban”. Saat dunia mengukur kemajuan dengan parameter kapitalistik, Muhammadiyah harus mampu menawarkan alternatif—bukan hanya di level wacana, tapi praktis. Pendidikan, kesehatan, dan ekonomi kerakyatan yang digarap Muhammadiyah selama ini adalah fondasi, tapi belum cukup untuk menggeser dominasi sistem global yang timpang.
Di sisi lain, Muhammadiyah juga harus waspada terhadap reduksi tajdid menjadi sekadar modernisasi tanpa ruh. Gerakan ini lahir untuk memurnikan sekaligus memajukan, bukan mengekor pada arus liberalisme atau konservatisme sempit. Tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara mengadopsi kemajuan teknologi dan mempertahankan nilai-nilai etik Islam.
Muhammadiyah punya modal besar: jaringan luas, tradisi keilmuan, dan komitmen pada kemandirian. Tapi di era disrupsi digital dan krisis multidimensi, ia harus lebih lantang bukan hanya sebagai pelayan masyarakat, tapi sebagai pengkritik sistem dunia yang tidak adil. Tajdid peradaban bukan lagi tentang memperbaiki yang rusak, melainkan membongkar yang zalim dan menawarkan tatanan baru. Sanggupkah Muhammadiyah?
Jika ingin tetap relevan, Muhammadiyah harus berani melompat dari gerakan amal sporadis ke gerakan pemikiran transformatif. Tajdid sejati adalah ketika ia tidak hanya menyinari Indonesia, tapi menjadi cahaya bagi peradaban global yang sedang gelap.
“Tajdid bukan hanya memperbarui yang usang, tapi mencipta yang belum ada—karena peradaban butuh terobosan, bukan sekadar perbaikan.” (*)
