Dalam perkembangan dunia pendidikan Islam, empat istilah ini sering muncul: Ta’lim, Tafhim, Tarbiyah, dan Ta’dib.
Masing-masing memiliki makna, tujuan, dan posisi strategis dalam membentuk manusia berilmu sekaligus beradab.
Namun, di tengah hiruk-pikuk aktivitas belajar mengajar, pertanyaan yang menggelitik pun muncul: di tahap manakah kita sebenarnya berada?
Empat Terminologi, Empat Spektrum Pendidikan
Menurut literatur klasik dan kajian kontemporer, Ta’lim (تعليم) dimaknai sebagai proses memberikan ilmu pengetahuan. Ini tahap paling dasar, di mana guru menyampaikan materi dan murid menerima.
Selanjutnya, Tafhim (تفھيم) adalah memahamkan ilmu, mengantar peserta didik agar tidak sekadar hafal, tetapi memahami konsep, logika, dan makna di balik pengetahuan.
Tarbiyah (تربية) melangkah lebih jauh: menumbuhkan dan mengembangkan kepribadian peserta didik secara utuh—akademis, moral, dan sosial.
Sedangkan Ta’dib (تأديب) dianggap sebagai puncak dari pendidikan Islam: pembentukan adab, yakni kesadaran menempatkan sesuatu pada tempatnya, menginternalisasi nilai moral, dan mengamalkan ilmu secara bijak.
Perspektif Ilmiah dan Tantangan Modern
Sejumlah akademisi pendidikan Islam, seperti Prof. Syed Naquib al-Attas, menegaskan bahwa Ta’dib adalah inti sejati pendidikan Islam, bahkan lebih tinggi dari sekadar Tarbiyah.
Sementara dalam praktik, banyak institusi masih berkutat di level Ta’lim dan Tafhim, karena fokus besar diarahkan pada capaian kurikulum kognitif.
Prof. Haedar Nashir dalam refleksinya tentang pendidikan Muhammadiyah menekankan pentingnya integrasi ilmu dan adab. “Ilmu tanpa adab akan melahirkan kekacauan moral, sementara adab tanpa ilmu akan kehilangan arah,” ujarnya dalam salah satu ceramah kebangsaan.
Dimanakah Posisi Kita?
Jika kita masih menganggap tugas kita hanya mengajar, Maka kita baru berdiri di pintu Ta’lim.
Di sana hanya ada hafalan, Suara yang masuk telinga, Tanpa menyentuh jiwa. Jika kita sudah menjelaskan makna di balik kata, Menuntun murid- murid memahami, Bukan sekadar tahu. Maka kita telah masuk ke ruang Tafhim.
Tempat ilmu menjadi cahaya yang mulai menerangi. Namun bila kita memilih bersabar, kita mendampingi murid- murid menapaki jalan akhlak, Menanamkan kebiasaan, membentuk karakter. Maka sungguh kita sedang berjalan di jalan Tarbiyah.
Dan jika kita mulai mendidik dengan keteladanan, Menjadi cermin kasih sayang, Mengubah ucapan menjadi perilaku, Menjadikan pelukan lebih bermakna dari perintah, Mengajarkan doa dengan air mata. Maka saat itu kita telah menapaki jejak jalan Ta’dib.
Jika kita bercermin pada praktik pendidikan saat ini, masih banyak yang berhenti di Ta’lim: guru menyampaikan, siswa mencatat, ujian mengukur hafalan.
Sebagian telah naik ke Tafhim dengan diskusi dan analisis. Namun, tidak semua mampu menginternalisasi Tarbiyah pembentukan karakter berkesinambungan apalagi sampai mencapai Ta’dib, di mana adab menjadi nafas kehidupan.
Pertanyaan ini bukan sekadar retorika, tetapi ajakan refleksi. Apakah sekolah, guru, dan orang tua sudah membawa generasi menuju puncak piramida pendidikan Islam? Ataukah kita masih sibuk di lapisan bawah, sementara fondasi adab belum kokoh?
Menatap Masa Depan
Para pendidik dan penggerak pendidikan Islam sepakat: ke depan, pembelajaran harus menggabungkan seluruh spektrum ini. Ta’lim dan Tafhim dibutuhkan sebagai dasar, Tarbiyah memperkuat kepribadian, dan Ta’dib menjadi mahkota yang memuliakan manusia.
Di era disrupsi moral dan informasi, mengabaikan Ta’dib sama saja membiarkan generasi pintar namun kehilangan arah. Maka, saatnya kita bertanya dan bertindak: di tahap manakah kita, dan ke mana kita akan menuju?
Maka, di manakah posisi kita saat ini? Sudahkah kita menjadi tauladan? Ataukah masih hanya menjadi penyampai pelajaran?
Sudahkah kita mendidik dengan cinta? Ataukah hanya menegur dengan suara? Sudahkah kita pada tarbiyah atau ta’dib?
Atau jangan jangan hanya sebatas menggugurkan kewajiban administrasi kurikulum atau karena sertifikasi semata?
Coba tanyakan pada diri kita sendiri.
Waallahu a’lam bissawab. (*)
