Tanda Kebaikan Islam Seseorang

*) Oleh : Dr. Ajang Kusmana
Pengajar Mata Kuliah AIK UMM
www.majelistabligh.id -

Tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya, baik ucapan maupun perbuatan, serta menjaga lisan dan perbuatan agar tidak menyakiti orang lain.

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw, “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi) dan “Seorang muslim (yang baik) adalah yang tangan dan lisannya tidak menyakiti orang lain” (HR. Bukhari, Muslim).

Ini mencakup fokus pada hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat, serta menjauhi yang haram, syubhat, atau makruh.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976).

Makna hadis ini, bahwasanya di antara kebaikan keislaman seseorang ialah ia meninggalkan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat baginya. Dia hanya mencukupkan diri dengan berbagai perkataan dan perbuatan yang bermanfaat baginya.

Makna (يَعْنِيْهِ) “ya’nîhi” dalam hadis ini, ialah perhatian (inâyah)nya tertuju padanya, kemudian sesuatu tersebut menjadi maksud dan tujuannya. Makna al-inâyah, ialah perhatian yang lebih terhadap sesuatu.

Seseorang meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya, dan tidak ia inginkan bukan karena pertimbangan hawa nafsu dan keinginan jiwa, namun karena pertimbangan syariat Islam. Oleh karena itu, beliau menjadikan sikap seperti itu sebagai bukti kebaikan keislamannya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim (yang baik) adalah yang tangan dan lisannya tidak menyakiti orang lain” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40).

Jika Islam seseorang itu baik, maka sudah barang tentu ia meninggalkan pula perkara yang haram, yang syubhat dan perkata yang makruh. Begitu pula berlebihan dalam hal mubah yang sebenarnya ia tidak butuh.

Meninggalkan hal yang tidak bermanfaat semisal itu menunjukkan baiknya seorang muslim.  Demikian perkataan Ibnu Rajab Al Hambali yang kami olah secara bebas (Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 289).

Jadi, jika keislaman seseorang baik, dia meninggalkan ucapan dan tindakan-tindakan yang tidak bermanfaat baginya, karena Islam mengharuskan seseorang mengerjakan kewajiban-kewajiban seperti yang telah dijelaskan dalam hadis Jibril Alaihissallam (hadits ke-2 kitab al-Arba’în) dan hadis-hadis yang lainnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

…احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَتَعْجَزْ…

“… Berkemauan keraslah kepada apa-apa yang bermanfaat bagimu, dan minta tolonglah kepada Allah dan janganlah bersikap lemah….” HR Muslim (no. 2664)

Kedua kedudukan itu membuahkan sifat malu kepada Allah Ta’ala dan meninggalkan apa saja yang membuatnya malu kepada-Nya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

اِسْتَحْيُوْا مِنَ اللهِ حَقَّ الْحَيَاءِ ، مَنِ اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ حَقَّ الْحَيَاءِ فَلْيَحْفَظِ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى، وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى ، وَلْيَذْكُرِ الْمَوْتَ وَالْبِلَى ، وَمَنْ أَرَادَ اْلآخِرَةَ تَرَكَ زِيْنَةَ الدُّنْيَا، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ ؛ فَقَدِ اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ حَقَّ الْحَيَاءِ.

“Hendaklah kalian malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu. Barang siapa yang malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu, hendaklah ia menjaga kepala dan apa yang ada padanya, menjaga perut dan apa yang ada di dalamnya, dan hendaklah ia selalu mengingat kematian dan busuknya badan. Barang siapa menginginkan kehidupan akhirat, hendaklah meninggalkan perhiasan dunia, dan barang siapa melakukan hal itu, sungguh, ia telah malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu.” HR Ahmad (I/387)

Diriwayatkan dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا أَحْسَنَ أَحَدُكُمْ إِسْلاَمَهُ ؛ فَكُلُّ حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ، وَكُلُّ سَيِّئَةٍ تُكْتَبُ بِمِثْلِهَا، حَتَّى يَلْقَى اللهَ عَزَّ وَجَلَّ.

“Jika salah seorang dari kalian memperbaiki keislamannya, maka setiap kebaikan yang dia kerjakan ditulis dengan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat, dan setiap kesalahan yang dilakukannya ditulis dengan kesalahan yang sama hingga dia bertemu dengan Allah Azza wa Jalla.” HR Muslim (no. 129).

Satu kebaikan dilipatgandakan hingga sepuluh kali lipat merupakan suatu kepastian. Pelipatgandaan kebaikan itu sangat terkait dengan kebaikan keislaman seseorang, keikhlasan niat, dan kebutuhan kepada amal tersebut dan keutamaannya.

Dalam Islam, setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya minimal 10 kali lipat hingga 700 kali lipat atau lebih, berdasarkan rahmat Allah Swt. Janji ini tertuang dalam QS. Al-An’am: 160, yang menegaskan bahwa satu kebaikan dibalas 10 kali lipat, sementara keburukan hanya dihitung satu. Amal infaq/sedekah dan puasa sering mendapat keistimewaan kelipatan pahala tak terbatas

مَن جَآءَ بِٱلْحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰٓ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).”

Tafsir QS Al-An’am ayat 160

Ayat tersebut menjelaskan prinsip keadilan ilahi: siapa yang berbuat kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipat (bahkan lebih), sedangkan yang berbuat keburukan hanya dibalas seimbang (satu banding satu), tanpa adanya kezaliman atau kerugian sedikit pun bagi mereka, menegaskan bahwa Allah Maha adil dan memberikan karunia besar untuk kebaikan. Ayat ini menjadi janji dan ancaman, menentang kaum musyrik dengan pahala berlipat untuk iman dan keadilan mutlak untuk dosa, serta sebagai anti-tesis dari siksaan yang diancamkan pada ayat sebelumnya.

Kandungan Utama Tafsir

  1. Pahala Berlipat Ganda untuk Kebaikan: Setiap amal baik dibalas minimal sepuluh kali lipat, menunjukkan kemurahan Allah Swt, belum termasuk lipatan yang jauh lebih besar (hingga 700x) untuk infak di jalan Allah atau kebaikan yang ditinggalkan karena Allah.
  2. Keadilan Mutlak untuk Keburukan: Dosa hanya dibalas setimpal, tidak lebih, sebagai wujud keadilan mutlak Allah Swt dan bukan kezaliman.
  3. Penegasan Keadilan Allah: Ayat ini menepis prasangka bahwa Allah akan menganiaya atau merugikan hamba-Nya, karena balasan-Nya adil dan berdasarkan amalan murni. (*)

Tinggalkan Balasan

Search