Tangisan Anak-Anak Gaza Menembus Langit Dunia

*) Oleh : Andi Hariyadi
Ketua Majelis Pustaka, Informatika, dan Digitalisasi PDM Surabaya
www.majelistabligh.id -

Tangisan anak-anak Palestina yang menjadi korban genosida masih terus menggema, memanggil nurani kita untuk tidak tinggal diam. Sejak tahun 1948, penderitaan rakyat Palestina, terutama anak-anak, terus berlanjut akibat kekejaman rezim zionis Israel yang tak mengenal batas kemanusiaan.

Penderitaan ini kian memburuk pasca operasi balasan yang dilakukan Palestina melalui Badai Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023.

Serangan brutal militer Israel pun semakin membabi buta, menghantam tanpa pandang bulu, tanpa mengenal usia, tanpa menghargai nilai-nilai kemanusiaan.

Anak-anak yang seharusnya menikmati masa kecil dengan tawa dan permainan, justru dipaksa tumbuh dalam ketakutan dan penderitaan. Tawa mereka direnggut paksa oleh dentuman bom dan suara sirine serangan udara.

Halaman rumah yang semula menjadi tempat bermain berubah menjadi lautan puing dan reruntuhan. Banyak di antara mereka yang terkubur hidup-hidup, meregang nyawa dalam kondisi yang memilukan. Ada pula yang selamat, namun dengan luka di sekujur tubuh, menahan sakit di balik timbunan debu dan batu.

Ketegaran anak-anak Palestina begitu luar biasa. Mereka kehilangan orang tua, kehilangan rumah, kehilangan teman-teman sepermainan, namun masih mampu menahan air mata dan berdiri dengan kepala tegak.

Sosok mungil mereka menjadi simbol keberanian, ketangguhan, dan harapan di tengah derita yang tiada henti. Orang tua yang biasanya mendampingi dengan pelukan kasih sayang, kini hanya menjadi kenangan yang tak terjangkau. Teman-teman sebaya yang dulu riang bermain bersama, kini telah tiada, dipisahkan oleh maut.

Pengungsian yang semestinya menjadi tempat berlindung, justru menjadi ruang penderitaan baru. Israel terus melancarkan serangan tanpa henti. Belum reda satu bom meledak, bom lainnya menyusul, membawa lebih banyak korban jiwa dan luka parah.

Pembatasan yang ketat atas bantuan kemanusiaan membuat situasi semakin menyedihkan. Makanan yang tak cukup, pakaian lusuh yang tak layak, dan obat-obatan yang minim membuat anak-anak Palestina harus bertahan dalam rasa lapar, dingin, panas, dan sakit yang berkepanjangan.

Saya masih teringat saat berkesempatan berkunjung ke Masjidil Aqsa, sekitar lima belas tahun lalu. Seusai salat zuhur dan ashar, saya menemui beberapa anak kecil yang berdiri di depan pintu masjid. Ingin berbagi, saya mengulurkan beberapa lembar uang dolar kepada mereka.

Namun, dengan sopan mereka menolak dan meminta agar uang tersebut dimasukkan ke dalam kotak infak. Saya terharu dan langsung memenuhinya.

Sebagai gantinya, saya memberikan beberapa butir permen yang ada di saku. Senyum ceria mereka kala itu membekas di hati saya hingga hari ini—senyum kecil yang menyimpan duka dan harapan dalam waktu yang bersamaan.

Anak-anak Palestina juga berhak merasakan bahagia, aman, dan damai. Mereka juga pantas mendapatkan kehidupan yang layak, pendidikan yang baik, dan masa depan yang cerah. Namun apa daya, selama penjajahan zionis masih berlangsung, impian itu seolah menjadi angan-angan yang jauh.

Wajah-wajah mungil mereka masih terbayang jelas dalam ingatan saya. Senyum mereka yang tulus seakan sedang memanggil kita semua, saudara seiman, sesama manusia, untuk peduli.

Ada panggilan kemanusiaan yang nyata—panggilan dari korban kejahatan perang dan genosida yang hingga kini terus berlangsung di Gaza.

Suara tangis dan rintihan anak-anak Gaza masih terdengar lirih di tengah kebisingan mesin-mesin perang. Dentuman bom yang tak pernah berhenti justru dijawab dengan pekikan takbir yang menggema dari tanah suci para syuhada.

Perjuangan kemanusiaan ini tak boleh berhenti. Kita harus terus menyuarakannya dengan lantang. Ketegaran anak-anak Gaza yang tak bersenjata namun tetap tegar menghadapi brutalnya tentara Zionis adalah bukti keberanian yang luar biasa.

Ketangguhan mereka justru membuat ciut nyali para penjajah. Dunia telah muak dengan kebijakan arogan dan tak berperikemanusiaan dari rezim zionis Israel.

Kini, saatnya kita menjawab panggilan jihad kemanusiaan. Salah satu cara nyata adalah dengan mengoptimalkan donasi untuk membantu saudara-saudara kita di Gaza.

Salurkan bantuan melalui lembaga terpercaya seperti Lazismu yang telah terbukti amanah dalam aksi kemanusiaan. Donasi kita bukan sekadar pemberian materi, tetapi wujud kepedulian dan solidaritas.

Tangisan anak-anak Palestina adalah tangisan kita juga. Luka mereka adalah luka kita. Penderitaan mereka adalah penderitaan kita sebagai satu tubuh umat.

Mari rapatkan barisan, gerakkan aksi-aksi kemanusiaan, dan terus suarakan keadilan bagi Palestina. Dunia harus tahu: ada genosida yang sedang berlangsung di Gaza, dan kita tidak akan diam. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search