Masalah regenerasi dan kaderisasi kaum muda Muhammadiyah adalah persoalan mendasar yang terjadi di wilayah Jaya Baya Jawa Timur. Wilayah ini meliputi Kota dan Kabupaten Blitar, Kota dan Kabupaten Kediri, juga Kabupaten Trenggalek dan Tulungagung.
Hal ini terungkap dalam focus group discussion (FGD) pada acara Akademi Mubaligh Muhammadiyah (AMM) Tahap III yang berlangsung di Tulungagung. Dalam FGD ini, langsung dipandu oleh Dr. Hairul Warizin, MM. dan Imam Budi Utomo, SH., dari majelis tabligh PWM Jatim.
“Kami harus berhadapan dengan banyak hambatan dalam berdakwah, karena di daerah kami masih banyak masyarakat abangan dan banyak acara-acara ritual khas abangan,” kata salah seorang peserta AMM dari Tulungagung.
Ia menambahkan sulitnya melakukan kaderisasi dan regenerasi terutama di kalangan millenial dan Gen Z. Mereka belum banyak tertarik dengan gerakan dakwah Muhammadiyah. “Meskipun demikian, kami tetap berusaha dengan memanfaatkan klinik-klinik Muhammadiyah dalam pengobatan masyarakat. Dari situ Muhammadiyah akan semakin dikenal dan dibutuhkan,” tandasnya.
Semangat itulah yang patut diacungi jempol. Sebab para peserta tidak berkecil hati dan tetap melakukan personal branding sebagai mubaligh Muhammadiyah. “Hal hal seperti ini kami anggap sebagai tantangan bagaimana kita terus berdakwah khususnya pada anak-anak muda,” paparnya.
Salah satu tujuan dari AMM ini adalah diharapkan menambah “amunisi” Muhammadiyah untuk hadir di tengah-tengah masyarakat yang semakin heterogen. Dari pemetaan awal, memang di beberapa daerah di Jatim memiliki kekhasan tertentu. Seperti di Tulungagung dan Trenggalek banyak abangan. Sedangkan di Kediri banyak pondok pesantren besar dari organisasi keagamaan di luar Muhammadiyah.
Karena itu, harapan besar bagi para peserta AMM untuk berkiprah di masyarakat dengan percaya diri, karena sudah dibekali dengan berbagai pengetahuan dan ilmu berdakwah. AMM juga dipahami sebagai salah satu bentuk kaderisasi dan regenerasi Muhammadiyah dalam mengemban amanat untuk mengimplementasikan Rahmatan Lil Alamin. Para peserta harus berkontribusi dalam mewujudkan dunia yang lebih baik, lebih adil, lebih damai, dan lebih sejahtera bagi seluruh umat.
Karena itu, AMM bisa dikatakan sukses diukur bagaimana output dari kegiatan ini akan muncul banyak generasi baru mubaligh Muhammadiyah yang tidak hanya pandai memberikan tausiah, tetapi mampu menjadi teladan bagi masyarakat sekitar. Nama besar Muhammadiyah berada di pundak pada alumnus AMM. Regenerasi dan kaderisasi benar-benar berjalan, menyatukan antara pelatihan, alamiah dan bakat.
Revitalisasi perkaderan bukanlah pilihan, tetapi suatu keharusan. Tanpa pembaruan sistem kaderisasi, Muhammadiyah bisa mengalami stagnasi. Karena itu, AMM yang dilaksanakan oleh Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim menjadi salah satu sistem pengkaderan yang sangat baik. Sistem pengkaderan seperti ini harus dipertahankan, dibaharukan, dan dievaluasi terus menerus. Revitalisasi perkaderan sebagai strategi jangka panjang untuk memastikan keberlangsungan, daya tahan, dan daya saing gerakan ini. (nun)
