Dakwah komunitas tidak dapat dilakukan secara instan, dan tidak bisa disamakan dengan dakwah di ruang-ruang formal yang audiensnya telah siap menerima pesan. Dakwah komunitas harus diawali dengan pemetaan sosial yang cermat, memahami latar belakang budaya, kondisi ekonomi, serta persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
“Dakwah yang efektif bukan dimulai dari apa yang ingin kita sampaikan, tetapi dari apa yang benar-benar dibutuhkan oleh komunitas,” kata Muchamad Arifin, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dalam Pelatihan Tabligh Digital dan Komunitas bagi Muballighat yang diselenggarakan Majelis Tabligh dan Ketarjihan PP ‘Aisyiyah, Sabtu (7/2/2026).
Mengangkat tema “Pemetaan Komunitas dan Analisis Kebutuhan Dakwah” Muchamad Arifin membagikan pengalaman LDK PP Muhammadiyah dalam mendampingi berbagai komunitas, termasuk masyarakat marginal, wilayah terpencil, hingga komunitas mualaf.
“Dalam konteks ini, dakwah tidak cukup hanya dengan ceramah, tetapi menuntut pendekatan yang humanis, kesabaran dalam proses, serta keberanian untuk hadir dan hidup bersama masyarakat yang didampingi,” tuturnya.
Ia menekankan bahwa tantangan dakwah komunitas jauh lebih kompleks dibanding dakwah mimbar. Proses membangun kepercayaan membutuhkan waktu panjang dan konsistensi. “Namun dari proses itulah lahir dakwah yang menguatkan iman sekaligus memberdayakan kehidupan sosial umat,” sambungnya.
Pelatihan ini berlangsung interaktif, ditandai dengan diskusi dan tanya jawab yang aktif antara peserta dan pemateri. Materi disampaikan secara sistematis dan diperkuat dengan contoh nyata dari lapangan, sehingga peserta memperoleh gambaran utuh tentang praktik dakwah komunitas yang kontekstual dan relevan dengan tantangan zaman.
Melalui pelatihan ini, Majelis Tabligh dan Ketarjihan PP ‘Aisyiyah berharap para muballighat semakin siap menghadapi tantangan dakwah era digital, sekaligus mampu mengembangkan dakwah komunitas yang membumi, inklusif, dan berorientasi pada kebutuhan nyata masyarakat. Hal ini sejalan dengan misi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dalam menghadirkan Islam yang mencerahkan dan menggembirakan.
Kegiatan ini diikuti oleh pengurus dan muballighat ‘Aisyiyah dari berbagai wilayah di Indonesia, dengan semangat memperkuat kapasitas dakwah di ruang digital sekaligus di tengah komunitas masyarakat. (*/tim)
