Kehadiran bulan suci Ramadan selalu disambut umat Islam dengan penuh suka cita, kerinduan, dan penghormatan. Ada tiga istilah yang sering digunakan dalam menyambutnya, yaitu Tarhib, Targhib, dan Marhaban ya Ramadan.
Tarhib Ramadan: berarti menyambut dengan kegembiraan melalui berbagai kegiatan seperti pengajian, doa bersama, pawai, hingga tradisi megengan.
Targhib Ramadan: adalah rasa rindu dan harapan agar dapat beribadah secara maksimal di bulan mulia.
Marhaban ya Ramadan: merupakan ungkapan selamat datang kepada tamu agung yang dinanti dengan hangat dan penuh kebahagiaan.
Mengapa Ramadan disambut demikian istimewa?
Pertama, karena Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Allah berfirman,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia…” (QS. Al-Baqarah: 185).
Ramadan menjadi momentum kembali kepada cahaya petunjuk Ilahi, memperbaiki hidup berdasarkan nilai-nilai Al-Qur’an.
Kedua, pada bulan ini pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ (HR. Bukhari dan Muslim).
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
Ini adalah peluang emas untuk memperbanyak amal saleh dan meninggalkan dosa.
Ketiga, Ramadan adalah bulan penuh ampunan (maghfirah). Nabi ﷺ bersabda dalam (HR. Bukhari dan Muslim):
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
bahwa siapa yang berpuasa dengan iman dan penuh harap, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Hati yang kotor diputihkan, jiwa yang lelah disegarkan kembali.
Keempat, di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan (QS. Al-Qadr: 3).
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Satu malam bernilai lebih dari 83 tahun ibadah, sebuah anugerah spiritual yang luar biasa.
Kelima, Ramadan Bulam pendidikan jiwa dan akhlak, yang melatih kesabaran, kejujuran, keikhlasan, empati sosial, dan pengendalian diri dari hawa nafsu. Ramadan adalah madrasah ruhani dan akhlak.
Lalu bagaimana bentuk menyambut Ramadan dengan sukacita, kerinduan dan penghormatan?
Menyambut Ramadan tidak hanya bersifat seremonial, seperti pengajian, doa bersama, pawai, hingga tradisi megengan, dan berbagi makanan dengan tetangga.
Tetapi juga spiritual. Secara batiniah, ada tiga langkah penting:
- Takhalli, yaitu mengosongkan diri dari sifat buruk seperti rakus, dengki, sombong, pemarah, kasar, memfitnah, bohong, kikir dan riya’ dan lain-lain;
- Tahalli, menghiasi diri dengan sifat terpuji seperti pemaaf, rendah hati, adil, menjaga lisan, sabar, jujur, dermawan, dan amanah;
- Tajalli, merasakan kedekatan mendalam dengan Allah hingga hati dipenuhi cinta dan rindu kepada-Nya.
Akhirnya, visi Ramadan yaitu apa yang kita inginkan dengan puasa Ramadan adalah untuk meraih:
- Ridha Allah,
- Rahmat Allah,
- maghfirah Allah.
- Husnul khatimah,
- Kedamaian di alam kubur,
- Dijauhkan dari siksa neraka,
- Masuk surga tanpa hisab bersama keluarga dalam rombongan Nabi dan Rasul, dan bertemu dengan Allah dalam surga-Nya.
Dengan demikian, Tarhib Ramadan bukan sekadar tradisi, melainkan ungkapan cinta dan pengharapan akan kehidupan yang lebih baik di dunia dan akhirat. (*)
