Menjelang Ramadan, kebanyakan umat islam sibuk mempersiapkan makanan, pasar ramai, dapur dipenuhi bahan-bahan menu sahur dan berbuka disusun jauh-jauh hari. Namun Rasulullah saw tidak pernah menyambut dengan itu. Yang beliau persiapkan bukan perut, tapi hati.
Ramadan bukan bulan yang datang mendadak. Ia adalah tamu agung yang disambut dengan persiapan ruhani jauh sebelumnya. Beliau mempersiapkan amalan, bukan hidangan.
Puasa yang kuat bukan dimulai dari menahan lapar, tapi dari membersihkan hati. Karena puasa tanpa hati yang bersih hanya menyisakan lapar dan dahaga.
Tarhib bukan sekadar menyambut Ramadan dengan acara seremonial, melainkan menyiapkan jiwa agar Ramadan benar-benar menjadi bulan penyucian diri. Membersihkan hati adalah inti dari tarhib itu sendiri.
Mengapa Membersihkan Hati Penting?
- Ramadan adalah bulan ampunan: Allah membuka pintu rahmat dan maghfirah. Hati yang bersih lebih mudah menerima cahaya Al-Qur’an dan keberkahan ibadah.
- Hati adalah pusat amal: Rasulullah ﷺ bersabda, “Dalam diri manusia ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Itulah hati.” (HR. Bukhari-Muslim).
- Persiapan spiritual: Seperti membersihkan wadah sebelum diisi air jernih, hati perlu dibersihkan dari iri, dengki, sombong, dan dendam agar ibadah Ramadan tidak tercemar.
Langkah Praktis Membersihkan Hati Menjelang Ramadan
- Tafakkur dan muhasabah: Luangkan waktu untuk refleksi diri, mengingat dosa, dan menyesalinya.
- Taubat nasuha: Memohon ampunan Allah dengan sungguh-sungguh, bertekad tidak mengulang kesalahan.
- Memaafkan sesama: Jangan bawa dendam ke Ramadan. Membuka hati dengan memaafkan adalah bentuk kebersihan jiwa.
- Menghidupkan dzikir dan doa: Dzikir melembutkan hati, doa menghubungkan kita dengan Allah.
- Sedekah dan berbagi: Membersihkan hati dari cinta dunia dengan memberi kepada yang membutuhkan.
Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang sering dijadikan landasan untuk tarhib Ramadan dengan membersihkan hati. Ayat-ayat ini menekankan pentingnya qalbun salim (hati yang bersih), sikap memaafkan, dan taubat sebelum memasuki bulan suci:
Asy-Syu’ara: 88–89
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ
- (Yaitu) pada hari ketika tidak berguna (lagi) harta dan anak-anak.
- Kecuali, orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
Ayat ini menegaskan bahwa bekal utama bukanlah materi, melainkan hati yang bersih. Sangat relevan untuk menyambut Ramadan dengan muhasabah dan taubat
Ali ‘Imran: 134
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ
“(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Ayat ini mengajarkan pembersihan hati melalui pengendalian emosi dan memaafkan sesama, sangat sesuai untuk tarhib Ramadan.
Al-Baqarah: 183
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Puasa adalah sarana penyucian jiwa dan hati, sehingga tarhib Ramadan berarti menyiapkan hati agar puasa benar-benar melahirkan takwa.
Inti Pesan:
- Ramadan bukan sekadar ritual fisik, tetapi momentum penyucian hati.
- Membersihkan hati berarti: bertaubat, memaafkan, menahan amarah, dan memperbanyak amal kebajikan.
- Dengan hati yang bersih, Ramadan menjadi bulan penuh cahaya, bukan sekadar perubahan jadwal makan. (*)
