Tauhid murni bagi Muhammadiyah bukan sekadar doktrin langit, melainkan landasan ideologis yang menggerakkan seluruh dimensi kehidupan sosial, pendidikan, dan dakwah. Hal ini ditegaskan Ketua Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah, Rohimi Zamzam, dalam Pengkajian Ramadan 1447 H PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT).
Sebagai landasan teologis, maka bagi Muhammadiyah tauhid ini harus melahirkan amal salih maupun amal kebajikan nyata, yang dalam hal ini berbentuk Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). “Iman itu selalu disandingkan dengan amal salih. Untuk apa? Agar menunjukkan tauhid itu harus produktif,” katanya.
Pandangan itu yang menjadi pijakan oleh Nyai Siti Walidah dalam bergerak dan memberdayakan, bahwa perempuan bukan sekadar penerima manfaat dakwah, melainkan juga pelaku utama perubahan dalam masyarakat.
Tentu langkah yang diambil oleh Nyai Walidah menjadi anomali di eranya, sebab Nyai Walidah saat itu hidup di tengah budaya patriarki dan penjajah Belanda. Jangankan akses pendidikan ke perempuan, kepada laki-laki saja dibatasi.
“Di tengah kultur patriarki waktu itu beliau mengajarkan baca Al Qur’an, membuka pengajian bagi perempuan dan anak, mendorong perempuan dari kungkungan domestik menuju pendidikan dan aktivitas sosial,” ungkapnya.
Tak bisa dipungkiri, semangat juang yang dilakukan ‘Aisyiyah sejak awal berdirinya langgeng sampai sekarang. Salah satunya disebabkan pemahaman terhadap tauhid dan implementasinya terhadap kehidupan.
Rohimi Zamzam menyebut, ‘Aisyiyah menjadi organisasi perempuan Islam modern pertama yang berdiri di Indonesia. Bahkan bukan hanya di Indonesia, ‘Aisyiyah juga tercatat sebagai ormas perempuan Islam tertua di dunia yang masih eksis sampai sekarang.
‘Aisyiyah lahir salah satunya untuk mematahkan stereotip gender, bahwa perempuan tidak hanya berperan di ruang domestik. Dan semua itu dilakukan berdasarkan pada nilai-nilai tauhid murni sebagaimana yang dipegang Muhammadiyah. (*/tim)
