Dalam pandangan Muhammadiyah, tauhid memiliki implikasi yang luas dalam kehidupan. Tauhid tidak berhenti pada pemahaman teologis tentang keesaan Allah, tetapi menjadi pijakan dalam membangun relasi sosial dengan sesama manusia yang beragam latar belakang etnik, budaya, maupun keyakinan.
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Achmad Jainuri, dalam Pengajian Ramadan 1447 H PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (21/2/2026).
Menurut Jainuri, pemahaman tauhid yang komprehensif menjadi dasar pengembangan konsep pluralitas dan toleransi dalam Muhammadiyah. Bahkan, ibadah dalam perspektif Muhammadiyah memiliki makna sosial yang sangat luas.
“Ibadah menurut Muhammadiyah memiliki makna sosial yang sangat luas,” ujarnya.
Ia menjelaskan, orientasi praktis dalam memahami Islam tersebut dikenal sebagai filsafat praksis, yakni penekanan pada tindakan nyata sebagai perwujudan ajaran. Prinsip ini tercermin dalam semangat “sedikit bicara banyak kerja” yang pernah disampaikan oleh Ahmad Syafii Ma’arif.
Lebih jauh, Jainuri menegaskan bahwa gagasan tersebut berakar pada pemikiran Ahmad Dahlan, yang menekankan bahwa Islam bukan hanya apa yang tertulis dalam Al-Qur’an dan Hadis, tetapi yang tampak dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Orientasi praksis ini kemudian diformalkan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Muhammadiyah, yang mengisyaratkan hadirnya amal usaha sebagai wujud konkret dakwah sebelum persyarikatan didirikan di suatu wilayah.
Jainuri menambahkan, pemikiran KH Ahmad Dahlan sangat mewarnai orientasi ideologis dan keagamaan Muhammadiyah dalam memaknai tauhid. Konsep ibadah di Muhammadiyah pun tidak terbatas pada ibadah mahdhah, tetapi berimplikasi luas pada persoalan sosial.
Puasa, misalnya, tidak semata dipahami sebagai ritual individual, melainkan memiliki dimensi pembentukan karakter.
“Puasa memiliki implikasi makna sosial yang sangat luas, membentuk kepribadian yang amanah, berfokus pada kebenaran, sabar, dan ikhlas. Ikhlas secara teologis berarti memahami bahwa semua pikiran, perkataan, dan perbuatan kita semata-mata didasarkan karena Allah,” tegasnya.
Melalui pemahaman tersebut, tauhid dalam Muhammadiyah ditegaskan sebagai kekuatan transformatif yang menuntun umat untuk menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata. (*/tim)
