Tawaf: Ikhtiar Menyempurnakan Nilai Tauhid

Munahar, Kepala SD Muhammadiyah 6 Surabaya bersama rombongan sebanyak 50 orang usai menunaikan Tawaf (Foto: M. Rusman Fajar, Muthawif)
www.majelistabligh.id -

Ust. Munahar, Kepala SD Muhammadiyah 6 Surabaya yang sedang menjalankan umrah, telah selesai melakukan tawaf. Baginya, tawaf tidak sekedar mengelilingi Kakbah, tetapi ada nilai spritual yang tinggi. Berikut tulisannya:

***

Perjalanan spiritual ini telah memasuki hari kelima. Setelah empat hari penuh kekhusyukan menyelami jejak peradaban dan kemuliaan di Madinah Al-Munawwarah, kini tiba saatnya kaki melangkah menuju Baitullah, Makkah Al-Mukarramah. Sebuah transisi fisik dan batin yang mendalam, berpindah dari kota sang Nabi menuju rumah Sang Pencipta.

Persiapan Lahir dan Batin

Persiapan dimulai jauh sebelum fajar menyingsing. Sejak sebelum Subuh, kami serombongan telah mandi sunnah ihram dan mengenakan pakaian serba putih. Bagi jamaah laki-laki, dua lembar kain tanpa jahitan menyimbolkan pelepasan segala atribut duniawi—pangkat, harta, dan status sosial seketika tanggal. Sementara jamaah perempuan tampil anggun dan bersahaja dalam balutan jubah serta jilbab putih yang bersih dipadu jaket nuansa cream.

Tepat pukul 08.00 waktu setempat, bus membawa kami menuju Bir Ali, titik miqat untuk memulai niat Umrah. Di sinilah garis start spiritual itu bermula. Begitu niat terucap, berlakulah segala aturan ihram: menjaga lisan dari kata-kata kotor (rafats), menjauhi pertikaian (jidal), hingga larangan membunuh makhluk hidup sekecil apa pun. Sepanjang perjalanan, udara dipenuhi dengan getaran kalimat Talbiyah yang menggetarkan jiwa:

“Labaikallahumma Labaik labbaik… Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah.”

Menembus Jarak dengan Kereta Cepat

Modernitas kini memudahkan perjalanan suci ini. Kami menggunakan kereta cepat yang menghubungkan Madinah dan Makkah. Dengan kecepatan mencapai 250-300 km/jam, jarak 449,2 km yang dahulu ditempuh berhari-hari oleh para pendahulu kita, kini terpangkas hanya dalam waktu kurang lebih 2 jam 10 menit.

Berangkat pukul 10.30, kami tiba di Stasiun Makkah pukul 12.40. Efisiensi waktu ini memberikan kami kesempatan untuk segera menuju Masjidil Haram, melaksanakan salat Zuhur berjamaah, dan langsung bersiap untuk ritual Tawaf.

Munahar dan istri, saat berada di kereta cepat Madinah-Makkah (Foto Dokumen: Munahar)
Munahar dan istri, saat berada di kereta cepat Madinah-Makkah (Foto Dokumen: Munahar)

Filosofi Tawaf: Orbit Ketaatan

Tawaf adalah ritual mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali putaran, dimulai dan diakhiri di garis searah Hajar Aswad. Saat kaki melangkah berputar, sebuah pertanyaan filosofis sering muncul dalam benak: Mengapa Allah SWT memerintahkan manusia mengelilingi bangunan segi empat ini? Mengapa pula kita dianjurkan mencium Hajar Aswad jika memungkinkan?

Secara logika manusiawi, mungkin sulit dicerna mengapa sebuah batu menjadi titik tumpu perputaran. Namun, di sinilah letak ujian keimanan yang sesungguhnya.

Ujian Ketaatan: Tawaf bukan sekadar aktivitas fisik memutari bangunan. Ia adalah instrumen untuk menguji ketaatan hamba kepada Khalik-nya. Apakah kita melakukan perintah karena masuk akal, atau karena itu adalah titah Illahi?

Tauhid yang Terpusat: Seperti halnya elektron yang mengelilingi inti atom, atau planet yang mengorbit matahari, Tawaf mengajarkan bahwa hidup seorang mukmin harus selalu berporos pada Allah Swt.

Penyempurnaan Tauhid: Melakukan Tawaf berarti menundukkan ego dan logika di bawah otoritas wahyu. Ketika seorang hamba mampu menjalankan perintah yang secara akal tampak sederhana namun dilakukan dengan penuh ketundukan, di situlah nilai tauhidnya menjadi sempurna.

Tawaf adalah deklarasi bahwa Allah adalah pusat dari segala tujuan, gerak, dan napas kita. Pulang dari Tawaf, harapannya adalah hati kita tetap “bertawaf” pada garis ketaatan-Nya dalam kehidupan sehari-hari.(*)

 

Tinggalkan Balasan

Search