Tawaf Wada, Memaknai dan Merindukan Haji Wada Rasulullah SAW

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: Dr Amirsyah Tambunan
Anggota Amirul Hajj Indonesia 2025

Rombongan Amirul Hajj melakukan tawaf wada, Kamis (12/6/2025) sebelum ke Madinah. Mereka terus mendoakan semoga Jemaah Haji Indonesai aman, damai mabrur sepanjang umur  untuk mewujudkan Indonesia negara aman dan damai.

Haji wada’ merupakan momentum penting dan dalam sejarah peradaban umat Islam. Peristiwa ini menjadi fondasi membumikan ayat-ayat Al-Qur’an, karena berakhirnya wahyu diturunkan dengan wafatnya utusan Allah, Rasulullah SAW.

Makna wada berasal dari bahasa Arab yang artinya perpisahan, karena ibadah haji ini merupakan ibadah pertama sekaligus terakhir Nabi Muhammad SAW sebelum wafat. Sebuah ungkapan yang tak terlupakan, berpisah untuk bertemu kembali. Seluruh umat Islam merindukan kehadiran Rasullah SAW.

Pertanyaannya apakah kerinduan yang sama terhadap ajarannya. Dengan mencintai Rasul sudah 1400 abad lamanya. Namun catatan sejarah panjang menjadi rujukan semua umat manusia untuk menjemput kerinduan dalam setiap melakukan ibadah haji, diakhiri dengan tawaf wada. Haji wada dimulai hari Sabtu, tanggal 25 Dzulqa’dah 10 H atau 22 Februari 632 M.

Ketika sampai di Padang Arafah Rasulullah SAW menyampaikan khutbah di hadapan kaum muslimin di atas untanya. Khutbah inilah yang kemudian dikenal sebagai khutbah terakhir Sang Rasul. Salah satu buku rujukan dari Moenawar Khalil, dalam bukunya Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Volume 2 menyebutkan bahwa Rasulullah dan kaum muslimin sampai di suatu tempat yang bernama Dzulhulaifah, kaum muslimin diperintahkan mengganti pakaian berupa sehelai izar dan sehelai rida sangat sederhana disamakan coraknya dan potongan hingga saat ini dikenal sebagai pakaian ihram sebagai simbol persamaan semua umat manusia.

Rasulullah pun memerintahkan kaum muslimin untuk membaca talbiyah terus hidup di hati sanubari yang terus mengiringi langkah para hujjaj” (حجاج) yakni jamaah haji yang telah menunaikan ibadah haji.

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ

Arab latin: Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika lak.

Artinya: “Ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu, Ya Allah aku memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, sesungguhnya pujian dan kenikmatan hanya milik-Mu, dan kerajaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.

Haji Wada disebut juga sebagai Haji Ta’lim, Talqin, dan Bayan, karena Nabi Muhammad belum pernah melakukan Haji Akbar sekalipun beliau menunaikan haji kecil sebanyak empat kali yang dikenal dengan umroh.

Senada dengan sumber tersebut bahwa Rasulullah tidak pernah melaksanakan haji dari Madinah kecuali pada tahun ke-10 Hijriyah dengan sebutan; pertama, Haji Balagh (haji penyampaian dakwah Allah); kedua, Haji Islam (haji penyerahan diri); ketiga, Haji Wada (haji perpisahan).

Rasulullah berkhutbah kepada umatnya tentang kewajiban berhaji. Salah satu prosesi ibadah haji yang utama adalah wukuf di Arafah. Wukuf menjadi nilai inti (core values ) dari seluruh rangkaian pelaksanaan ibadah haji. Pada 632 M, Rasulullah memberikan khutbah wada’ (khutbah terakhir). Beliau memberikan pesan-pesan penting di atas gunung, di ketinggian 200 kaki (61 m), Jabal Rahmah di atas punggung unta.

Isi khutbah Wada’ memberikan pengajaran yang sangat berharga bagi umat Islam hingga kini.
Khutbah tersebut menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama manusia (habluminannas): menjaga kebersihan hati (tazkiyatun nafsi ) memperhatikan hak-hak wanita, melarang riba, melarang perpecahan dan tumpah darah dan memperhatikan hak-hak Allah serta makhluk-Nya; tidak ada perbedaan antara suku, etnis Arab dan non-Arab, kecuali dalam hal ketaqwaan.Setelah khutbah ini, Allah Ta’ala menurunkan ayat:

اليَومَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3).

Tiga bulan setelah itu beliau pun wafat meninggalkan umatnya.

Pesan Penting Rasulullah

Rasulullah memberikan pesan universal kepada seluruh umat manusia sepanjang masa, antara lain;

Pertama, perlindungan hukum tentang harta dan jiwa. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa melindungi harta (hifdzul mal) misalnya ketika Allah menetapkan aturan tentang masalah warisan yang secara global telah digariskan di dalam Al-Quran agar umat Islam menguasai ilmu faraidh, karena IImu faraidh termasuk ilmu keuangan sosial (social finance) yang tidak dapat berdiri sendiri untuk menjaga harga bagian dari kelangsungan hidup dan jiwa (hifdz nafs).

Memang bagi orang yang dangkal penghayatannya tentang maqashidut tasyri’ (tujuan Allah menetapkan syari’ah) tidak memperoleh hikmah tentang haji wada. Allah sendiri telah menjawab dengan tegas melalui Al-Qur’an Surah al-Baqarah ayat 179 bahwa hukuman itu untuk menjamin hak hidup manusia secara universal.

Kedua, Rasulullah mengingatkan tentang amanah. Rasulullah memesankan bahwa siapa saja yang menerima amanah harus menunaikan amanah itu sebagaimana mestinya. Jangan sekali-sekali berkhianat baik terhadap diri maupun bangsa, sebab berkhianat itu merupakan ciri munafik yang membahayakan perjalanan umat dan bangsa. Semakin besar amanah yang di emban, semakin berat amanah yang dipikul.

Ketiga, Rasulullah juga mengingatkan tentang riba agar dihindari. Bahkan Allah sendiri telah mengingatkan hal ini melalui AI-Qur’an Surat al-Baqarah (2): 275 yang berbunyi dan Allah menghalalkan jual-beli, tetapi Allah mengharamkan riba. Penekanan Rasulullah agar umat Islam senantiasa menghindarkan diri dari riba, karena Rasulullah telah memperhitungkan betapa banyak umat Islam yang akan terjerumus ke dalam praktik riba yang merusak tatanan ekonomi masyarakat bahkan dunia.

Keempat, Rasululah juga mengingatkan tentang keharusan membayar dam (denda) bagi pelaku pembunuhan tanpa sengaja. Di dalam hukum jinayat Islam ditentukan bahwa pelaku pembunuhan tanpa sengaja harus membayar 100 ekor unta kepada ahli waris terbunuh dan bagi pelaku pembunuhan dengan sengaja vang beroleh kemampunan dari ahli waris korban, ia tetap dibebani membayar l00 ekor unta.

Kelima, Rasulullah juga memesankan tentang wanita agar senantiasa dilindungi hak-haknya, jangan diperkosa hak asasinya, Rasulullah juga mengingatkan agar wanita itu sendiri senantiasa menjaga martabat dan harga dirinya.

Dalam konteks kekinian mari kita jaga harkat dan martabat wanita agar terhindar dari kekerasan baik fisik maupun verbal. Mari kita laksanakan pesan Rasulullah guna mewujudkan bahwa wanita itu adalah tiang negara, jika kaum wanita baik maka akan baiklah negara, tetapi manakala kaum wanitanya telah rusak akan rusak pula masyarakat dan negara.

Islam sebagai agama yang sempurna, tidak hanya membebaskan wanita di zaman jahiliyah, tetapi juga menempatkan kaum wanita pada posisi-posisi strategis sesuai dengan kodrat kewanitaannya, karena Rasulullah mengatakan bahwa surga itu terletak di bawah telapak kaki ibu. Mari kita cegah agar tidak ada pelecehan-pelecehan kepada kaum wanita, secara bersamaan harus tetap menjaga martabat dan harkatnya dengan sungguh-sungguh.

Keenam, kemudian Rasulullah juga memesankan agar umat Islam senantiasa memelihara dan bahkan meningkatkan ukhuwah Islamiyah. Janganlah ukhuwah Islamiyah menjadi rapuh dan sirna sepeninggal Rasulullah. Namun faktanya kini banyak peristiwa yang merusak ukhuwah, karena itu haji wada ini menyadarkan kita agar memperkuat ukhuwah sesama umat Islam (ukhwah Islamiyah), ukhuwah sesama manusia (ukhuwah insaniyah) dan ukhwah sesama bangsa (ukhuwah wathaniyah).

Ketujuh, pada kesempatan itu Rasulullah mengingatkan agar umat Islam menyampaikan agama kepada mereka yang belum mengetahui melalui tugas dakwah kepada setiap individu muslim tanpa membedakan pangkat dan jabatan dengan cara “bilhikmah” sesuai dengan kondisi, situasi dan kemampuan seseorang.

Kedelapan, pada bagian akhir dari Khutbah Wada’ itu, Rasulullah mengingatkan kaum muslimin agar senantiasa menjaga nasab (keturunan) secara hukum. Untuk itu Islam menolak segala bentuk perzinaan, seperti mendekat praktik perzinaan. Semoga pesan haji wada, haji terakhir yang ditunaikan oleh Rasulullah bersama umatnya dapat menjadi motivasi untuk mewujudkan kemaslahatan umum (maslahah ‘ammah) hingga akhir zaman. (*)

Tinggalkan Balasan

Search