Beberapa tahun lalu, berita tawuran biasanya diisi oleh pelajar SMA atau remaja usia tanggung. Tapi kini, yang mengejutkan: anak-anak SD pun mulai terlibat.
Seperti kasus di Depok awal Mei 2025 lalu, sekelompok siswa SD tertangkap kamera terlibat tawuran di siang bolong. Usia mereka masih sangat muda — ada yang belum genap 11 tahun.
Tentu ini bukan soal siapa yang salah lebih dulu. Tapi pertanyaan besarnya: bagaimana bisa anak sekecil itu memilih kekerasan sebagai jalan? Mereka belum tahu dunia secara utuh, tapi sudah belajar melukai.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menanggapi kasus ini dengan tegas namun bijak.
Ia mengatakan bahwa anak-anak ini bukan pelaku kriminal, tapi korban dari sistem yang belum cukup hadir untuk menjaga mereka.
Artinya, anak-anak tidak tiba-tiba menjadi agresif — mereka meniru, mereka bereaksi, mereka belajar dari apa yang ada di sekitar.
Secara psikologis, anak usia SD berada dalam fase meniru dan membentuk identitas. Jika yang mereka lihat sehari-hari adalah kekerasan, tontonan penuh aksi, atau kakak kelas yang menyelesaikan masalah dengan pukulan, maka bagi mereka, itu jadi normal.
Ditambah kurangnya pengawasan, absennya dialog, dan minimnya ruang ekspresi positif, anak pun mencari cara untuk menunjukkan dirinya — dan sayangnya, lewat jalan yang salah.
Dari sudut pandang agama dan nilai kemanusiaan, ini peringatan keras. Rasulullah saw bersabda:
“Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam perkelahian, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan amarah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Anak-anak butuh diajari bahwa kekuatan sejati bukan ada di tangan, tapi di hati yang mampu memilih sabar, dan kepala yang mampu berpikir tenang.
Tawuran anak SD bukan sekadar berita aneh. Ini alarm. Tanda bahwa kita — orang tua, guru, dan masyarakat — perlu hadir lebih dekat.
Anak-anak tidak butuh hukuman, mereka butuh bimbingan. Bukan bentakan, tapi teladan. Bukan hanya sekolah yang keras, tapi lingkungan yang hangat dan bisa merangkul.
Karena jika usia 10 tahun saja sudah belajar saling melukai, bagaimana mereka akan belajar saling mencintai saat dewasa nanti? (*)
