Di kalangan kaum muslimin, populer anggapan bahwa Lailatul Qadar hanya terjadi pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir Ramadan. Pendapat ini memang didasarkan pada beberapa hadis Nabi ﷺ yang memerintahkan untuk mencarinya pada malam ganjil.
Namun jika seluruh riwayat hadis dikaji secara komprehensif, para ulama menjelaskan bahwa Lailatul Qadar tidak selalu jatuh pada malam ganjil menurut hitungan awal bulan, bahkan bisa terjadi pada malam genap, terutama jika perhitungan dilakukan dari akhir bulan Ramadan.
Dalam riwayat Sahih al-Bukhari dari Abu Sa’id al-Khudri, Nabi ﷺ bersabda:
الْتَمِسُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ، فِي تِسْعٍ يَبْقَيْنَ، فِي سَبْعٍ يَبْقَيْنَ، فِي خَمْسٍ يَبْقَيْنَ.
“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan: pada sembilan malam tersisa, tujuh malam tersisa, dan lima malam tersisa.”
Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ terkadang menggunakan perhitungan dari akhir Ramadan, bukan dari awal sepuluh hari terakhir.
Penjelasan Ulama tentang “Sembilan Malam Tersisa”
Menurut penjelasan Ibn Hajar al-Asqalani dalam kitab Fath al-Bari:
قَوْلُهُ: (فِي تِسْعٍ يَبْقَيْنَ) أَيْ مِنْ آخِرِ الشَّهْرِ، فَإِنْ كَانَ الشَّهْرُ ثَلَاثِينَ فَالتَّاسِعَةُ هِيَ لَيْلَةُ إِحْدَى وَعِشْرِينَ، وَإِنْ كَانَ تِسْعًا وَعِشْرِينَ فَالتَّاسِعَةُ هِيَ لَيْلَةُ عِشْرِينَ.
“Sabda Nabi ‘pada sembilan malam tersisa’ maksudnya dihitung dari akhir bulan. Jika Ramadan tiga puluh hari maka sembilan yang tersisa adalah malam ke-21, dan jika dua puluh sembilan hari maka yang tersisa sembilan adalah malam ke-dua puluh.”
Penjelasan ini menegaskan bahwa Lailatul Qadar dapat bertepatan dengan malam genap, khususnya jika Ramadan berjumlah dua puluh sembilan hari.
Hadis tentang Malam Ganjil
Di sisi lain, Nabi ﷺ juga bersabda dalam riwayat Sahih al-Bukhari:
الْتَمِسُوهَا فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ.
“Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadan.”
Para ulama menjelaskan bahwa hadis ini tidak bertentangan dengan hadis sebelumnya. Malam ganjil yang dimaksud bisa dihitung dari awal sepuluh malam atau dari akhir bulan.
Menurut Imam al-Nawawi dalam syarahnya terhadap Sahih Muslim:
وَالصَّحِيحُ الَّذِي عَلَيْهِ الْمُحَقِّقُونَ أَنَّهَا تَنْتَقِلُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ، وَلَا تَخْتَصُّ بِلَيْلَةٍ بَعْيِنِهَا.
“Pendapat yang sahih menurut para ulama muhaqqiq adalah bahwa Lailatul Qadar berpindah-pindah pada sepuluh malam terakhir dan tidak terbatas pada satu malam tertentu.”
Hal serupa dijelaskan oleh Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitab Lataif al-Ma’arif:
وَإِنَّمَا أُمِرَ بِالْتِمَاسِهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ لِأَنَّهَا مُنْتَقِلَةٌ فِيهَا.
“Nabi memerintahkan untuk mencarinya pada sepuluh malam terakhir karena Lailatul Qadar berpindah-pindah di dalamnya.”
Pandangan Ulama Kontemporer
Ibn Taymiyyah menjelaskan bahwa Lailatul Qadar bisa terjadi pada malam genap jika dihitung dari akhir bulan:
فَإِذَا كَانَ الشَّهْرُ تِسْعًا وَعِشْرِينَ فَقَدْ تَكُونُ فِي اللَّيْلَةِ الزَّوْجِيَّةِ بِاعْتِبَارِ الْعَدِّ مِنْ أَوَّلِ الشَّهْرِ.
“Jika Ramadan berjumlah dua puluh sembilan hari maka Lailatul Qadar bisa terjadi pada malam genap menurut hitungan dari awal bulan.”
Pandangan ini juga ditegaskan oleh muridnya, Ibn al-Qayyim dalam pembahasan Lailatul Qadar.
Para ulama menjelaskan bahwa tidak ditentukannya waktu Lailatul Qadar secara pasti merupakan hikmah agar kaum muslimin bersungguh-sungguh beribadah sepanjang sepuluh malam terakhir.
Sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Battal:
فِي هَذَا الْحَدِيثِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهَا لَا تُعْلَمُ عَلَى التَّعْيِينِ، وَإِنَّمَا أُبْهِمَتْ لِيَجْتَهِدَ النَّاسُ فِي الْعَشْرِ كُلِّهَا.
“Hadis ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadar tidak diketahui secara pasti. Ia disamarkan agar manusia bersungguh-sungguh beribadah pada seluruh sepuluh malam terakhir.”⁷
Kesimpulan
Dari kajian hadis dan penjelasan para ulama dapat disimpulkan beberapa poin penting:
- Hadis “تِسْعٍ يَبْقَيْنَ” menunjukkan perhitungan malam dari akhir Ramadan.
- Karena Ramadan bisa 29 atau 30 hari, maka Lailatul Qadar dapat terjadi pada malam ganjil maupun genap.
- Para ulama menjelaskan bahwa Lailatul Qadar berpindah-pindah pada sepuluh malam terakhir.
- Hikmah penyembunyian waktunya adalah agar kaum muslimin menghidupkan seluruh malam pada sepuluh terakhir Ramadan.
Dengan demikian, sikap yang paling sesuai dengan tuntunan Nabi ﷺ adalah memperbanyak ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir, bukan hanya fokus pada malam ganjil saja. (*)
