Teladan Rumah Tangga Nabi ﷺ dalam Menjawab Problematika Zaman Modern

*) Oleh : Moh. Mas’al, S.HI. M.Ag
Kepsek SMP Al Fattah dan Anggota MTT PDM Kab SIdoarjo
www.majelistabligh.id -

Kehidupan Rumah tangga sering diuji oleh godaan dunia, seperti kemewahan, gaya hidup, dan tuntutan sosial. Terlebih di tengah arus kehidupan modern yang penuh persaingan materi.

Akibatnya, tidak sedikit keluarga yang goyah karena keseimbangan antara cinta, iman, dan kebutuhan duniawi hilang arah. Padahal, lebih dari empat belas abad lalu, rumah tangga Rasulullah ﷺ telah memberi teladan abadi bagaimana menghadapi ujian semacam itu — dengan pilihan yang berpihak pada Allah dan akhirat.

Peristiwa takhyīr (pemberian pilihan) kepada istri-istri Nabi ﷺ sebagaimana termaktub dalam Surah al-Aḥzāb ayat 28–29 adalah pelajaran mendalam tentang makna cinta, zuhud, dan kepemimpinan dalam rumah tangga Islam. Ia bukan sekadar sejarah, melainkan cermin bagi keluarga Muslim masa kini yang mencari keseimbangan antara dunia dan akhirat.

Ayat dan Latar Peristiwa Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا ۝ وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kemarilah, akan aku berikan kepadamu mut‘ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Tetapi jika kalian menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah telah menyediakan bagi yang berbuat baik di antara kalian pahala yang besar.” (QS. al-Aḥzāb [33]: 28–29)

Ayat ini turun ketika sebagian istri Nabi ﷺ meminta tambahan nafkah agar kehidupan mereka sedikit lebih lapang. Rasulullah ﷺ yang hidup dalam kesederhanaan justru merasa berat hati, hingga Allah menurunkan ayat ini sebagai bentuk pendidikan ruhani. Nabi ﷺ kemudian memanggil istri-istrinya satu per satu untuk memberikan pilihan.

Dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (no. 4475–4476) dan Ṣaḥīḥ Muslim (no. 1478) diriwayatkan bahwa beliau memulai dari ‘Āisyah r.a. Nabi berkata:

“Wahai ‘Āisyah, aku hendak mengemukakan sesuatu kepadamu. Jangan tergesa menjawab hingga engkau bermusyawarah dengan orang tuamu.”

Maka ‘Āisyah bertanya: “Apa itu, wahai Rasulullah?”

Beliau membacakan ayat ini.

Āisyah pun berkata: “Apakah aku perlu bermusyawarah dengan kedua orang tuaku tentang hal ini? Aku memilih Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat.”

Pernyataan tulus ‘Āisyah ini menjadi teladan bagi seluruh istri Nabi ﷺ yang kemudian semuanya memilih hal yang sama: Allah dan Rasul-Nya.

Kisah Umar bin Khaththab dan Putrinya Hafshah

Ketika peristiwa itu terjadi, suasana rumah tangga Nabi ﷺ sempat memanas. Umar bin al-Khaṭṭāb r.a., ayah Hafshah, datang dengan maksud menenangkan Nabi ﷺ, tetapi suasana justru bertambah tegang.

Diriwayatkan dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (no. 4913) dan Ṣaḥīḥ Muslim (no. 1479), Umar berkata:

“Wahai Rasulullah, jika mereka (istri-istri Nabi) meminta dunia, ceraikan saja mereka. Sesungguhnya Allah akan menggantikan mereka dengan yang lebih baik.”

Namun setelah mendengar bahwa Hafshah—putrinya sendiri—termasuk di antara istri-istri yang ikut dalam suasana itu, Umar pun marah dan menasihatinya:

“Wahai Hafshah! Janganlah engkau tertipu oleh sahabatmu ‘Āisyah yang lebih dicintai Rasulullah daripadamu. Ketahuilah, Rasulullah tidak membutuhkan kalian bila kalian condong kepada dunia.”

Kemarahan Umar bukanlah karena kebencian, melainkan cermin kecemburuan iman (ghirah). Ia ingin agar keluarganya menjaga kemuliaan rumah tangga Nabi ﷺ dengan menahan diri dari godaan dunia. Sikap tegas ini menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam rumah tangga tidak cukup dengan kasih sayang, tetapi juga harus disertai arah dan prinsip yang kokoh.

Refleksi Tafsir Kekinian: Rumah Tangga di Tengah Godaan Dunia Modern

Peristiwa takhyīr bukan sekadar episode masa lalu, tetapi cermin yang memantulkan realitas masa kini. Rumah tangga modern menghadapi ujian serupa — hanya bentuknya yang berbeda. Jika dulu ujian datang dari keterbatasan materi, kini justru datang dari kelimpahan dan ekspektasi yang berlebihan.

Beberapa hikmah besar yang relevan dengan konteks kekinian antara lain:

  1. Zuhud bukan menolak dunia, tetapi menempatkannya di tangan, bukan di hati.

Tafsir kontemporer seperti Sayyid Quṭb dalam Fī Ẓilāl al-Qur’ān menjelaskan bahwa ayat ini mendidik umat agar menjadikan dunia sebagai sarana menuju Allah, bukan tujuan akhir. Dalam rumah tangga modern, prinsip ini berarti bekerja keras mencari nafkah tanpa menjadikan materi sebagai ukuran bahagia.

  1. Dialog dan transparansi adalah fondasi cinta.

Rasulullah ﷺ memberikan pilihan kepada istri-istrinya tanpa tekanan. Ini mengajarkan pentingnya komunikasi terbuka dalam keluarga. Banyak konflik modern muncul karena pasangan enggan jujur tentang kebutuhan dan perasaannya.

  1. Kepemimpinan suami menuntut kebijaksanaan dan keberanian menegakkan nilai.

Sikap Nabi ﷺ dan Umar r.a. menunjukkan keseimbangan antara kasih sayang dan ketegasan. Dalam konteks kekinian, suami dan ayah perlu meneladani ini: menjadi pelindung moral di tengah arus budaya konsumtif.

  1. Cinta sejati berorientasi pada akhirat.

Istri-istri Nabi memilih Allah dan Rasul-Nya, bukan kemewahan. Cinta seperti ini melahirkan ketenangan batin, yang menjadi pondasi kokoh bagi setiap keluarga Muslim di era modern.

Penutup

Kisah pilihan para istri Nabi ﷺ bukan sekadar sejarah, melainkan pelajaran abadi bagi setiap rumah tangga yang ingin tetap harmonis di tengah derasnya arus dunia. Cinta yang sejati bukan tentang kemewahan, melainkan kesetiaan dalam berjuang bersama menuju ridha Allah.

Rumah tangga Nabi ﷺ mengajarkan bahwa ujian, perbedaan, dan keterbatasan bukan alasan untuk menyerah, melainkan jalan untuk memperdalam cinta. Maka ketika dunia menawarkan gemerlapnya, orang beriman akan selalu memilih seperti mereka: memilih Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat.

Daftar Referensi

  1. Al-Qur’an al-Karīm, QS. al-Aḥzāb [33]: 28–29.
  2. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb aṭ-Ṭalāq, no. 4475–4476, 4913.
  3. Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb aṭ-Ṭalāq, no. 1478–1479.
  4. Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī, Fatḥ al-Bārī, Juz 9.
  5. Al-Nawawī, Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, Juz 10.
  6. Sayyid Quṭb, Fī Ẓilāl al-Qur’ān, Tafsir QS. al-Aḥzāb.
  7. Muḥammad Mutawallī al-Sha‘rāwī, Tafsīr al-Sha‘rāwī, Juz 22.
  8. Al-Mubārakfūrī, Tuḥfat al-Aḥwadzī, Bab Tafsīr al-Aḥzāb.

Tinggalkan Balasan

Search