Limbah kolang-kaling di Pekalongan, yang selama ini hanya menjadi tumpukan sampah organik, kini berubah menjadi bahan baku produk tekstil ramah lingkungan berkelas dunia.
Di balik terobosan ini ada sosok M. Miftakhul Huda, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang mendirikan startup Terramitra, perusahaan berbasis teknologi yang berhasil menembus pasar internasional dengan mengolah limbah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
“Selama ini orang hanya mengambil daging buahnya, sementara sisanya dibuang. Padahal limbahnya bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomi,” ujar Huda seperti dilansir di laman resmi UMY, pada Selasa (24/6/2025).
Terramitra merupakan perusahaan manufaktur berbasis teknologi yang berfokus pada pengolahan limbah industri kolang-kaling menjadi bahan tekstil berkelanjutan.
Gagasan Terramitra lahir pada akhir 2022, saat Huda mengikuti program design thinking yang diselenggarakan SEBI (Startup and Business Incubator) UMY.
Program tersebut mendorong mahasiswa untuk mencari solusi dari permasalahan nyata di lingkungan mereka.
Melihat tumpukan limbah di kampung halamannya, Huda mulai melakukan riset sederhana, yang kemudian mendapatkan dukungan pendanaan dari Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) Kemendikbudristek.
Selama setahun penuh, ia menjalani riset intensif dengan menggandeng mitra seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU).
Hasilnya, Terramitra berhasil meluncurkan produk tekstil berbasis serat limbah kolang-kaling secara resmi pada September 2024 di Bali.
Kini, limbah yang sebelumnya hanya menjadi sampah, berhasil diubah menjadi bahan baku tas, alas kaki, hingga dekorasi rumah.
Proses produksinya juga melibatkan pemberdayaan masyarakat di Pekalongan dan Gamplong, Yogyakarta, sekaligus menghidupkan kembali desa-desa pengrajin tenun yang sempat terpuruk. Huda bahkan telah merekrut 30 karyawan untuk menjalankan bisnisnya.
Terramitra tidak hanya bertahan, tapi berkembang pesat. Huda mencatat omzet bulanan yang pernah menembus Rp 100 juta, dengan kebutuhan produksi mencapai 10 ton limbah per bulan.
Produk-produk Terramitra kini telah menembus pasar empat negara dan membuka toko resmi di Amsterdam, Belanda.
“Kami sadar, pasar domestik belum sepenuhnya siap membayar lebih untuk produk ramah lingkungan. Karena itu, kami perluas ke luar negeri untuk menutup celah pasar yang masih sepi di dalam negeri,” ungkap Huda.
Menjalankan bisnis sambil tetap aktif sebagai mahasiswa, apalagi sebagai penerima Beasiswa Kader Muhammadiyah, bukan perkara mudah.
Namun, Huda membuktikan bahwa dengan manajemen waktu dan skala prioritas yang tepat, keduanya dapat berjalan beriringan.
Kini, ia tengah mempersiapkan langkah strategis berikutnya: membawa Terramitra ke ajang Expo Kementerian Perindustrian di Osaka, Jepang, serta memperjuangkan agar produk tekstil berbasis limbah ini dapat diakui sebagai identitas khas Pekalongan.
“Sekarang malah muncul masalah baru. Yang dulu jadi produk utama adalah buah kolang-kaling, sekarang justru kulitnya yang lebih dicari, sedangkan buahnya jadi ‘limbah’. Jadi kebalik. Saya pun sudah diskusi dengan dinas terkait untuk mengembangkan inovasi baru agar baik buah maupun limbahnya sama-sama termanfaatkan,” pungkasnya. (*/wh)
