Judul tulisan ini dapat diterjemahkan dengan bebas sebagai dahsyatnya silaturahmi, atau betapa hebatnya silaturahmi.
Istilah silaturahmi merupakan adaptasi dari bahasa Arab silaturahim. Menurut M. Quraish Shihab dalam Wawasan Islam (1996) silaturahim berasal dari dua kata: silah dan rahim. Silah artinya menyambung tali yang putus atau mengurai benang yang kusut. Rahim (jamak: arham) atau kandungan, kantong peranakan, tempat janin dalam perut.
Janin di dalam rahim adalah buah kasih sayang suami-istri, tempat di mana sang ibu mencurahkan semua kasih sayang dengan penuh ketulusan. Silaturahim berarti menyambung tali kasih sayang yang terputus atau memperbaiki hubungan yang rusak dengan kasih sayang yang tulus.
Al-Qur’an mengaitkan silaturahmi dengan asal kejadian manusia dan taqwa (Qs. An-Nisa [4]:1). Manusia berasal dari keturunan yang sama, Adam dan Hawa. Karena itu sudah seharusnya manusia hidup rukun sebagaimana saudara. Silaturahmi adalah wujud ketakwaan manusia kepada Tuhan.
Secara normatif, the power of silaturahmi dapat dipahami dari Hadis Nabi saw. “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rejeki dan panjang umur hendaklah ia menyambung kasih sayang.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik).
Rejeki yang lapang berarti luas, berlimpah, dan berkah, cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang layak dan sejahtera. Dipanjangkan umur berarti usia yang panjang, berkah, dan dikenang dengan segala kebaikan, legasi setelah mati.
Silaturahmi membuat manusia hidup bahagia. Mereka yang hidup bahagia memiliki tingkat harapan hidup (life expectancy) yang tinggi. Susan Pinker dalam buku The Village Effect: How Face to Face Contact Can Make Us Healthier, Happier, and Smarter (2014) menjelaskan bagaimana orang-orang yang memiliki intensitas pertemuan dan pertemanan hidupnya lebih panjang dari mereka yang hidup menyendiri.
Pertemuan yang hangat dengan sahabat memberikan energi, inspirasi, dan motivasi berbagai kebaikan. Relasi dan koneksi yang kuat memungkinkan manusia membangun jejaring (network) sebagai sumber kekuatan meraih kesuksesan. Network merupakan kekuatan yang dahsyat mengembangkan bisnis, karir profesional, dan pengaruh politik.
“Don”t build a web, build network.” Kata Fareed Zakaria dalam Ten Lessons For A Post Pandemic Wold (2020). Fareed berbagi pengalaman menulis karya nonfiksi. Untuk memiliki ide yang original, seorang penulis perlu memiliki ikatan yang kuat (engagement) dengan sebanyak mungkin orang dan tidak hanya mengandalkan informasi online.
Memiliki jaringan, berdiskusi, bertukar pikiran dengan para pakar dan orang-orang yang kompeten memungkinkan seseorang mengembangkan ilmu, gagasan, dan ide yang brilian, kokoh, dan dapat dipertanggungjawabkan. Silaturahmi adalah sarana silatul fikri, tukar pikiran (exchange ideas). Silaturahmi membuat orang makin cerdas.
Mereka yang rajin bersilaturahmi hidupnya sehat. Silaturahmi memberikan ruang bagi seseorang untuk menyampaikan isi hati secara terbuka kepada sahabat tanpa ada rasa sungkan. Menyampaikan isi hati dapat mengurangi beban dan tekanan pikiran (stress). Banyak orang yang mengakhiri hidup secara tragis dengan bunuh diri karena tidak ada tempat berbagi, tidak ada teman berbagi rasa (sharing) dan tiada orang yang peduli (caring).
Secara teologis, silaturahmi adalah jalan menuju ke surga. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ada dua orang yang yang Allah tidak melihat mereka pada Hari Kiamat. Mereka adalah orang yang memutus tali silaturahmi dan tetangga yang jahat. Para ahli hadis menilai riwayat tersebut sanadnya lemah. Para ahli hadis menyebut riwayat tersebut lemah (dhaif). Meskipun, menurut penulis, isi (matan) riwayat tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadis yang sahih.
Dalam relasi antar manusia, silaturahmi bisa dimaknai sebagai islah, memperbaiki hubungan yang rusak. Dapat pula dimaknai sebagai memelihara kekerabatan, persahabatan, kerjasama, kolaborasi, dan sejenisnya. Banyak relasi bisnis dipengaruhi pertemanan, koneksi, dan ikatan personal. Keberhasilan pemasaran ditentukan oleh kesetiaan dan komunikasi dengan pelanggan.
Dalam konteks politik, silaturahmi dapat dimaknai sebagai bentuk rekonsiliasi. Demi mengakhiri konflik rasial akibat politik apartheid di Afrika Selatan, Nelson Mandela memilih langkah rekonsiliasi untuk merajut persatuan. Dengan kebijakan “healing the past, facing the future”, Mandela memilih jalan damai, silaturahmi, dengan tidak menghukum lawan politik dan aktor apartheid. Di bawah kepemimpinan Mandela Afrika Selatan bersatu, tidak ada lagi konflik rasial. Itulah contoh the power of silaturahmi.
Agar silaturahmi terbina dengan baik, Islam mengajarkan lima prinsip. Pertama, mencintai sesama manusia, seperti mencintai diri sendiri. Kedua, berprasangka baik kepada orang lain, menghindari buruk sangka. Ketiga, jangan merasa superior: lebih baik, lebih tinggi, lebih kuat. Keempat, memaafkan kesalahan, menghindari iri, dengki, dan dendam. Kelima, melihat ke masa depan berbekal pengalaman di masa lalu.
Silaturahmi adalah formula dan kekuatan (power) untuk membangun pribadi yang kuat, persatuan yang kokoh, dan kerjasama yang solid untuk meraih kebahagiaan, kedamaian, dan kesejahteraan hidup bersama. (*)
