Kamis siang (17/7/2025), udara Surabaya menyengat hangat. Di sela persiapan menjadi narasumber program budaya “Sinau Bahasa dan Aksara Jawa” di RRI Pro 4 Tanjung Perak, saya menyelami kembali jejak-jejak sejarah suara perjuangan: Radio Pemberontakan Bung Tomo.
Program siang itu bertema “Melalui Karya Radio Bung Tomo, Turut Merawat Semangat Perjuangan.”
Sebuah tema yang bukan sekadar romantisme sejarah, melainkan pintu masuk untuk menyelami satu bagian penting dari perjuangan Arek-Arek Suroboyo, melalui gelombang suara.
Sambil menunggu pukul 14.00, saya membuka kembali berbagai literatur dan dokumen daring yang menyingkap sejarah RRI Surabaya. Saya mendapati tanggal krusial: Kamis, 27 September 1945 pukul 18.00 WIB.
Untuk pertama kalinya, Radio Surabaya—yang sebelumnya di tangan Jepang dengan nama Soerabaja Hoso Kyoku—mengudarakan identitas barunya: Radio Republik Indonesia (RRI) Surabaya. Sebuah transisi kekuasaan yang dilakukan dengan cepat dan berani.
Namun siaran resmi RRI Surabaya baru dimulai pada 1 Oktober 1945, dengan menyiarkan pidato Gubernur Jawa Timur, Suryo, yang kala itu juga menjabat sebagai pemimpin Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI).
Momen itu menandai babak baru penggunaan media suara sebagai alat perjuangan dan konsolidasi semangat rakyat.
Tanggal 13 Oktober 1945, menjadi hari penting dalam sejarah penyiaran kemerdekaan Indonesia. Bung Tomo untuk pertama kalinya diberi kesempatan berpidato melalui corong RRI Surabaya.
Dari sinilah lahir istilah “Radio Pemberontakan”, yang mengudara dari Jalan Mawar No. 10, Surabaya.
Meski lokasi fisik siaran berbeda dengan studio utama RRI, secara teknis diatur seolah-olah Bung Tomo bersiaran langsung dari pemancar utama. Hal ini bagian dari strategi, mengingat alat pemancar Bung Tomo sendiri belum rampung dibangun.
Dalam siasat perjuangan saat itu, penting untuk membedakan antara siaran resmi negara (RRI) dan siaran gerakan rakyat (Radio Pemberontakan) meski keduanya memiliki tujuan yang sama: mempertahankan kemerdekaan.
Namun, tak hanya isi pidato yang membakar semangat rakyat, ada satu elemen siaran yang tak kalah penting: jingle pembuka dan penutup pidato Bung Tomo.
Musik instrumental yang penuh ketegangan dan determinasi, menjadi ikon tak terpisahkan dari suara Bung Tomo.
Musik itu adalah lagu “The Tiger Shark”, karya Peter Hodgkinson, seorang komponis asal Inggris. Jingle ini kemudian menjadi identik dengan siaran-siaran heroik Bung Tomo.
Usai siaran budaya RRI, saya bersama A. Hermas Thon, tokoh budaya yang juga menjadi narasumber siang itu, terusik oleh satu rasa ingin tahu: benarkah The Tiger Shark masih tersimpan dalam koleksi musik RRI Surabaya?
Kami pun menyusuri lorong-lorong Gedung RRI Surabaya menuju lantai 2, tempat koleksi ribuan piringan hitam disimpan.
Di sana kami menemui Pataka Swahara Sanja, Music Director RRI Surabaya, yang akrab disapa Ata. Kami tanyakan langsung padanya, apakah masih ada plat piringan hitam yang menyimpan lagu tersebut.
Dengan sigap Ata menjelaskan tantangan besar dalam penelusuran ini. “The Tiger Shark” adalah lagu rilisan tahun 1938.
Mencari plat piringan hitam dari masa itu seperti mencari jarum dalam jerami. Terlebih, sebagian besar koleksi belum terdigitalisasi.
Di ruang koleksi, ribuan piringan hitam dari berbagai genre—pop, jazz, klasik, bahkan keroncong lawas—tersimpan rapi namun menua dalam diam.
“Satu sisi piringan ini bisa berisi empat hingga lima lagu. Dan labelnya bisa sangat sederhana,” terang Ata sambil membuka satu demi satu plat dengan hati-hati.
Lebih lanjut Ata menjelaskan bahwa jingle The Tiger Shark kemungkinan sudah terinstal di perangkat radio Bung Tomo. Hal itu masuk akal, mengingat format siaran yang mobile dan berpindah-pindah.
“Tak mungkin siaran perjuangan diawali dengan repot memutar piringan hitam. Apalagi alat siarnya portable,” jelasnya.
Menjawab permintaan kami, Ata berjanji akan terus menelusuri keberadaan rekaman itu. Bila ditemukan, bukan hanya akan menjadi dokumen suara semata, tapi juga warisan emosional dari sejarah kemerdekaan bangsa.
Dalam ruangan penuh piringan hitam, atmosfer terasa seperti museum hidup. Saya membayangkan satu plat kecil bertuliskan Peter Hodgkinson – The Tiger Shark, tergeletak diam namun sarat makna.
Mungkin dulu, musik ini terdengar dari pemancar yang dikerubungi anak muda bersarung dan berikat kepala, menenteng bambu runcing, bersemangat menyambut pekikan “Merdeka atau Mati!” dari Bung Tomo.
Di era digital ini, kita mungkin tak lagi mendengarkan siaran radio dari gelombang AM. Tapi semangat yang pernah dikobarkan lewat suara dan jingle perlawanan, masih bisa hidup jika kita mau melacak dan merawatnya.
Menemukan The Tiger Shark bukan hanya soal menemukan musik pengiring, tapi tentang menemukan kembali denyut suara bangsa yang tak pernah tunduk.
“Saya akan kabari kalau platnya ketemu,” kata Ata menutup pembicaraan dengan nada penuh harapan.
Dan kami pun meninggalkan lantai dua RRI Surabaya dengan satu keyakinan: suara perjuangan tak pernah benar-benar hilang, ia hanya menunggu untuk didengarkan kembali. (*)
Catatan:
Untuk mengetahui bagaimana alunan lagu Tiger Shark, bisa download video dengan link https://youtu.be/Ns8BhkVa0SM?si=VbOBjpLBf7bO00TH.
