Tidak Khusyuk dalam Salat

*) Oleh : Dr. Ajang Kusmana
Pengajar Mata Kuliah AIK UMM
www.majelistabligh.id -

Khusyuk berasal dari kata khasya‘a yang berarti diam, tenang, dan merendahkan diri. Sebagai bentuk kepasrahan jiwa dan raga kepada Allah, khusyuk menjadi ruh dalam tiap kali melaksanakan salat.

Salat yang tidak khusyuk tetap sah secara hukum fikih selama rukun dan syarat terpenuhi, sehingga tidak wajib diulang. Namun, ketidakkhusyukan mengurangi nilai dan pahala salat. Cara mengatasinya adalah dengan menambal kekurangan melalui salat sunah (qabliyah/ba’diyah), meningkatkan pemahaman bacaan, serta fokus penuh saat berwudu.

Al-Qur’an menegaskan bahwa orang beriman yang salatnya khusyuk akan memperoleh keberuntungan:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam salatnya.” [QS. al-Mukminun (23): 1-2].

Tafsir Surat Al-Mu’minun ayat 1-2 menegaskan bahwa keberuntungan sejati (di dunia dan akhirat) milik orang beriman yang khusyuk dalam salatnya. Khusyuk bermakna ketenangan hati dan anggota badan, fokus penuh menghadap Allah, serta tidak bermain-main atau berpaling pikiran, menunjukkan ketundukan total kepada-Nya.

Kata aflaha dalam ayat ini bermakna beruntung, berbahagia, dan berhasil. Inilah janji Allah: kekhusyukan dalam salat menjadi salah satu tanda kebahagiaan sejati seorang mukmin.

Tak hanya kebahagiaan, kekhusyukan juga membawa kemudahan. Allah berfirman:

وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah)  melalui cara sabar dan salat. Dan salat itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” [QS. al-Baqarah (2): 45].

Bagi hati yang lalai, salat terasa berat. Namun, bagi mereka yang khusyuk, salat justru menjadi penolong dan penyejuk jiwa. Lebih dari itu, salat yang khusyuk akan berpengaruh langsung pada kehidupan sehari-hari. Allah menegaskan:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [QS. al-‘Ankabut (29): 45].

Tafsir Surat Al-‘Ankabut ayat 45 menekankan bahwa salat yang didirikan dengan khusyuk, memenuhi syarat dan rukun, akan membentengi diri dari perbuatan keji (dosa besar/zina) dan munkar (maksiat/kejahatan). Salat mendidik jiwa, menghidupkan zikrullah (mengingat Allah), dan merupakan ibadah tertinggi yang membuat pelakunya merasa diawasi Allah.

Salat yang hidup oleh kekhusyukan akan menjadi benteng moral seorang muslim, menjaganya dari perilaku keji dan munkar.

Agar Khusyuk dalam Salat

Pertanyaannya, bagaimana agar hati bisa khusyuk ketika salat? Para ulama memberi sejumlah petunjuk:

  1. Mengenal Allah dengan benar (ma‘rifatullah).
  2. Mengikhlaskan salat semata-mata karena Allah.
  3. Membaca bacaan salat dengan tartil, perlahan, dan penuh penjiwaan.
  4. Menganggap setiap salat adalah salat terakhir.
  5. Mengembalikan pikiran yang melayang agar sadar sedang menghadap Allah.

Perlu dicatat, para ulama menjelaskan bahwa khusyuk tidak termasuk syarat sahnya salat. Syarat sah salat adalah menghadap kiblat, menutup aurat, serta suci dari hadas. Adapun rukunnya meliputi niat, takbiratul ihram, membaca al-Fatihah, rukuk, i‘tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, tasyahud, shalawat, dan salam. Semuanya dengan tuma’ninah (ketenangan).

Maka, salat seseorang tetap sah meski kekhusyukan belum hadir sepenuhnya. Namun, nilainya di sisi Allah tentu berbeda. Sebab khusyuk adalah ruh salat yang menentukan kualitas ibadah tersebut.

Pada akhirnya, diterima atau tidaknya salat hanya Allah yang menilai. Namun setiap muslim wajib berusaha meningkatkan kualitas kekhusyukan salatnya. Usaha ini tidak cukup dengan niat, tetapi perlu ikhtiar, latihan, dan doa yang tulus. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search