Tidak Semua Syiah Sesat, Tidak Semua Sunni Lurus

Nurbani Yusuf.
*) Oleh : Nurbani Yusuf
Komunitas Padhang Makhsyar
www.majelistabligh.id -

Ikhtiar untuk saling memahami perbedaan sebagai keniscayaan, meski musykil.

“Umat Islam tak bisa disatukan, itu pasti. Tidak bisa dikalahkan musuh kecuali sesama umat Islam saling mengalahkan, itu pasti. Tidak ditimpa kelaparan dan paceklik, juga pasti.” Nabi saw quotes

Di antara penyimpangan Ulama Sunni: ada yang mengaku bisa mikraj 70 kali dalam semalam. Ada yang mengaku bisa padamkan api neraka jahanam. Bahkan Tuhan harus minta ijin ketika hendak memberi azab dan rahmat.

Dan yang paling tidak bisa dilupakan adalah pembantaian terhadap cucu Nabi saw: Sayidina Husain ra. Termasuk Lailatul Horor di Madinah, ketika ribuan laki-laki dibunuh, ribuan perempuan hamil tanpa ayah.

Syiah juga sama: Beberapa sahabat dikafirkan. Disebut merampok hak Imamah Sayidina Ali karamallah wajhah (krwjh). Syiah membangkang dan membrontak tidak mengakui legalitas khulafaur rasyidin. Sayidina Abu Bakar ra dan Sayidina Umar ra dicaci dan direndahkan. Pun dengan para isteri Nabi saw mengalami nasib sama.

Dan masih banyak lagi kesesatan dan penyimpangan berserak dari sekte-sekte yang tidak dikenali, berbaur dengan banyak paham sinkrestis.Realitasnya, pada keduanya ada puluhan sekte, kelompok, manhaj, aliran, madzab dengan beragam versi.

Penyimpangan itu lumrah. Kesesatan itu nyata tidak terbantah. Sebab itu tak ada jaminan bahwa Sunni mesti lurus. Syiah mesti sesat. Ini pangkal soalnya. Pangkal segala selisih. Pertengkaran bermula. Perselisihan dipelihara. Saling mengkafirkan, saling mengahalalkan darah, padahal masih satu iman pada Rabb yang sama. Bersaksi pada Nabi yang sama. Membaca kitab yang sama.

Pendapat Buya HAMKA

Buya HAMKA berpendapat, Syiah adalah perbedaan politik yang diagamakan. Bukan menyoal tentang siapa Tuhan yang disembah. Nabi yang dipersaksikan dan kitab yang jadi pedoman. Pada titik ini, Sunni dan Syiah sama tak ada beda. Tegasnya, kesesatan keduanya tidak sampai membatalkan iman atau keluar dari Islam.

Sebab itu saya berani bersaksi bahwa siapapun yang mengaku Allah adalah Tuhan yang disembah. Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya: ia layak disebut muslim betapapun itu. Sedang hisabnya terserah Gusti Allah.

Bukankah sesama Sunni juga bertengkar saling menyesatkan: sebagian menyebut sesat karena tidak beraqidah As’ariyah. Sebagian yang lain menyebut sesat karena tidak mengikut aqidah Wahabi dalam Trilogi Tauhid: Uluhiyah, Rubbubiyah dan Asma’ wa Sifat. Dan puluhan aliran kalam lainnya yang semisal.

Bukankah jargon kembali kepada Al Qur’an dan As Sunah ditujukan. buat sesama sunni. Bukankah membrantas tahayul bid’ah dan khurafat juga kepada sesama sunni?

Kafirkah karena aqidahnya mengikuti madzhab Asy‘ariyah? Kafirkah karena mengikuti Trilogi Wahabi? Kafirkah karena merujuk pada kitab sembilan ahli hadis? Kafirkah karena merujuk pada ahlu bait saja?  Kafirkah karena tidak mengakui legalitas konsep khulafa’ur rasyidin hasil kompromi bikinan khalifah Abdul Malik bin Marwan abad ke tujuh?

***

Sunni dan Syiah punya alasan untuk saling mengkafirkan. Menghalalkan darah kemudian saling membunuh. Sebab itu tak perlu bertanya hukum pasukan Mu’awiyah membunuh pasukan Sayidina Ali krwjh dalam perang Shiffin atau sebaliknya. Dan tak perlu bertanya tentang peristiwa Tahkim, politik siasat paling memalukan.

***

Tanyakan pada Sunni, Syiah itu seperti apa?

Tanyakan pada Syiah, Sunni itu seperti apa?

Tanyakan pada Wahabi, Muhammadiyah dan NU itu seperti apa?

Tinggalkan Balasan

Search