Tidur Setelah Sahur, Berisiko Asam Lambung dan Stroke

www.majelistabligh.id -

Kebiasaan sebagian orang yang kembali tidur usai makan sahur, ternyata tidak disarankan dari sisi kesehatan. Selain mengganggu proses pencernaan, kebiasaan ini juga berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan.

Pakar Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Dede Nasrullah, menjelaskan bahwa tubuh membutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk mencerna makanan dengan baik. Jika seseorang langsung tidur setelah sahur, proses tersebut bisa terganggu.

Ia menjelaskan bahwa saat tidur, hampir seluruh fungsi tubuh melambat, kecuali otak, jantung, dan paru-paru. Kondisi ini membuat makanan yang baru dikonsumsi tidak dapat dicerna secara optimal.

“Akibatnya bisa menyebabkan refluk asam lambung Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Sebab cairan asam lambung mengalir kembali ke tenggorokan. Saat tertidur akan terjadi pelonggaran klep lambung sehingga menyebabkan asam lambung dalam perut mengalir balik ke bagian kerongkongan. Panas di dada, tenggorokan panas, mual, bersendawa, dan mulut pahit adalah gejala yang menunjukkan refluks,” kata Dede, Kamis (19/2/2026).

Karena itu, Dede menyarankan agar umat Muslim memberi jeda waktu sebelum kembali beristirahat setelah sahur, minimal selama tiga jam. Dengan demikian, makanan dapat diproses tubuh secara maksimal.

Selain memicu GERD, tidur setelah sahur juga dapat menyebabkan penumpukan lemak. Kalori yang masuk ke tubuh tidak terpakai sebagai energi dan akhirnya tersimpan, terlebih jika menu sahur didominasi karbohidrat dan lemak.

Dampak lainnya adalah sakit tenggorokan akibat efek lanjutan GERD, serta meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular. Tekanan darah cenderung naik jika seseorang langsung tidur setelah mengonsumsi makanan berat.

“Bahaya lain adalah serangan jantung, orang yang mengonsumsi makanan berat dan langsung tidur maka akan menyebabkan peningkatan tekanan darah. Jika tekanan darah tidak kunjung menurun dan berlangsung dalam waktu yang lama, akan meningkatkan risiko terserang penyakit kardiovaskular, seperti penyakit jantung koroner, serangan jantung, stroke, dan penyakit kronis lainnya,” jelasnya.

Lebih jauh, ia menambahkan bahwa kebiasaan tersebut juga berpotensi meningkatkan risiko stroke. Hal ini terjadi karena suplai darah lebih banyak terfokus pada sistem pencernaan yang bekerja keras, sehingga otak dapat kekurangan oksigen dalam jangka panjang. Selain itu, posisi berbaring setelah makan juga bisa memicu gangguan pencernaan seperti sembelit.

“Terakhir adalah konstipasi atau sembelit, proses pengosongan lambung terjadi kurang lebih membutuhkan waktu 2-3 jam setelah makan. Posisi tiduran atau berbaring akan menghambat proses pengosongan lambung, jika hal ini terjadi maka akan memicu terjadinya penyakit konstipasi atau sembelit kesulitan buang air besar,” pungkasnya. (*/tim)

Tinggalkan Balasan

Search