Dalam berbagai riwayat dan ajaran para ulama, terdapat ungkapan yang sangat menarik terkait penyebab kehancuran umat-umat terdahulu, yaitu tiga hal yang nampak sederhana namun membawa dampak besar jika dibiarkan berlebihan: terlalu banyak bicara, terlalu banyak makan, dan terlalu banyak tidur.
Meskipun tidak secara eksplisit disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai satu teks ayat, pernyataan ini didasarkan pada berbagai hikmah dan pengamatan yang mendalam dari para ulama, termasuk dalam karya klasik seperti Nasrul ‘Ibad karya Imam Nawawi al-Bantani.
Ketiga hal ini menjadi simbol kelalaian dalam mengendalikan diri dan mengarahkan hidup pada jalan yang benar. Mari kita telaah satu per satu penyebab tersebut secara lebih rinci.
1. Terlalu Banyak Bicara (Katsratul Kalam)
Bicara adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah karuniakan kepada manusia. Namun, jika tidak dijaga, bicara yang berlebihan bisa menjadi pintu masuk bagi berbagai dosa lisan seperti ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), dusta, dan kesombongan. Ketika seseorang terlalu banyak berbicara tanpa manfaat, maka ia bukan hanya kehilangan keberkahan waktu, tetapi juga berpotensi menyebarkan kerusakan dalam masyarakat.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pesan ini sangat jelas mengajarkan umat Islam untuk selalu menjaga ucapan, hanya berbicara jika membawa manfaat dan kebaikan.
Imam Nawawi dan para ulama tasawuf juga menekankan bahwa diam adalah bentuk penjagaan diri yang mulia. Umat yang tenggelam dalam perdebatan sia-sia dan omongan kosong akan kehilangan keberkahan ilmu, keharmonisan sosial, dan bahkan bisa terpecah-belah karena pertikaian yang tidak perlu.
2. Terlalu Banyak Makan (Katsratul Akli)
Makan adalah kebutuhan pokok manusia untuk mempertahankan hidup. Namun, makan secara berlebihan atau berfoya-foya dapat melemahkan tubuh dan jiwa. Kelebihan makan sering kali membuat seseorang menjadi malas, mudah terjerumus dalam syahwat, serta menimbulkan sifat sombong karena keterikatan pada kenikmatan duniawi.
Islam menganjurkan umatnya untuk makan secukupnya dengan pola yang seimbang, sebagaimana sabda Rasulullah:
“Tidak ada wadah yang lebih buruk yang diisi oleh manusia daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika harus, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Umat yang terlalu terbuai oleh nafsu makan dan kenikmatan dunia sering kehilangan semangat juang, baik dalam aspek spiritual maupun sosial. Mereka cenderung terlena dan kehilangan kekuatan ruhani yang diperlukan untuk beribadah dan berkontribusi bagi kemaslahatan masyarakat.
3. Terlalu Banyak Tidur (Katsratun Naum)
Tidur adalah kebutuhan alami manusia yang penting untuk menjaga kesehatan fisik dan mental. Namun, jika seseorang terlalu banyak tidur hingga lalai dari kewajiban ibadah, menunda belajar, dan malas beraktivitas, maka hal ini bisa menjadi sumber kerusakan dalam kehidupan spiritual dan sosialnya.
Orang-orang saleh di masa lalu dikenal sebagai pribadi yang rajin bangun malam untuk bermunajat kepada Allah dan memperbanyak ibadah. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Rabb mereka dengan rasa takut dan harap.”
(QS. As-Sajdah: 16)
Umat yang tenggelam dalam kenyamanan tidur berlebihan seringkali kehilangan ketajaman akal dan kekuatan spiritual untuk menghadapi berbagai tantangan zaman. Mereka menjadi kurang produktif dan kurang mampu menjaga konsistensi dalam beribadah serta menjalankan amanah kehidupan.
Menjaga Keseimbangan Hidup
Ketiga hal tersebut — banyak bicara tanpa manfaat, makan berlebihan, dan tidur terlalu banyak — sesungguhnya merupakan gambaran dari sikap kelalaian, keterikatan pada duniawi secara berlebihan, dan lemahnya pengendalian diri. Jika sikap ini menjadi budaya dominan dalam suatu umat, maka kehancuran moral, intelektual, dan spiritual tidak bisa dihindari.
Islam mengajarkan prinsip tawazun (keseimbangan), muhasabah (introspeksi diri), dan mujahadah (kesungguhan dalam melawan hawa nafsu).
Dengan menjaga ketiga hal tersebut secara seimbang, umat Islam akan mampu menggapai kehidupan yang penuh berkah, mampu berkontribusi positif bagi masyarakat, serta terhindar dari kehancuran yang menimpa umat-umat terdahulu.
Oleh karena itu, marilah kita renungkan kembali hidup kita. Apakah kita sudah mampu menjaga lidah, pola makan, dan waktu istirahat dengan baik?
Ataukah kita masih sering terjerumus dalam tiga penyebab kehancuran tersebut? Semoga Allah senantiasa memberi kita taufik untuk istiqamah di jalan-Nya. (*)
