Tiga Hal yang Dibenci Yahudi-Nasrani, Ustaz Abdul Basith Kupas Tuntas di Kajian Subuh GCA Gempol

Tiga Hal yang Dibenci Yahudi-Nasrani, Ustaz Abdul Basith Kupas Tuntas di Kajian Subuh GCA Gempol
www.majelistabligh.id -

Dalam kajian Ahad Subuh di Masjid Baitii Jannatii, Perumahan Gempol Citra Asri (GCA), Gempol, Pasuruan, Ahad  (13/7/2025), Ustaz Abdul Basith Mualy, S.Ag, M A membawakan ceramah yang mengupas tentang tiga hal prinsipil yang dibenci oleh Yahudi dan Nasrani terhadap umat Islam.

Dalam ceramahnya, ustadz yang dikenal aktif di berbagai lembaga keislaman ini menegaskan bahwa kebencian mereka menyangkut nilai-nilai fundamental dalam ajaran Islam, yang membedakan antara kebenaran dan penyimpangan.

Mengutip hadis shahih riwayat Ahmad, Ustaz Abdul Basith menyampaikan bahwa ada tiga hal yang sangat dibenci oleh Yahudi dan Nasrani:

1. Hari Jumat

“Sebaik-baik hari adalah hari Jumat,” terang beliau.

Sementara Yahudi mengagungkan hari Sabtu dan Nasrani memuliakan hari Ahad, Islam dimuliakan dengan hari Jumat.

Di hari Jumat itulah Nabi Adam AS diciptakan, dimasukkan dan dikeluarkan dari surga, serta kiamat kelak terjadi.
Maka tidak heran jika hari Jumat menjadi sumber kebencian mereka karena menjadi simbol keistimewaan umat Islam.

2. Arah Kiblat
Ustaz Basith menjelaskan bahwa awalnya Rasulullah SAW menghadap ke Baitul Maqdis dalam salat selama sekitar 17 bulan.

Namun setelah hijrah ke Madinah, turunlah perintah Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 142–145 untuk memindahkan arah kiblat ke Masjidil Haram di Mekkah.

“Mereka (Yahudi dan Nasrani) mempertanyakan dan memprotes perpindahan kiblat ini.

Padahal Allah berfirman, “Timur dan Barat milik Allah, Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki,” tegasnya.

Ustaz Abdul Basith juga menjabarkan perbedaan pendapat para ulama terkait arah kiblat.

Imam Hanafi dan Malik berpendapat bahwa kiblat adalah arah Masjidil Haram, bukan Kakbah secara tepat.

Namun Imam Syafi’i dan Hambali berpendapat bahwa kiblat adalah tepat ke arah Kakbah.

Bahkan soal salat di atas Ka’bah, Imam Hanafi menganggap makruh, sementara jumhur ulama menyatakan tidak sah.

3. Ucapan “Aamiin” di Belakang Imam

Mengakhiri kajian, Ustadz Basih menyoroti pentingnya pengucapan “Aamiin” setelah membaca Al-Fatihah, khususnya pada ayat,

“…ghairil maghdluubi ‘alaihim waladdhaalliin.”
(Bukan jalan orang yang dimurkai (Yahudi), dan bukan pula jalan orang yang sesat (Nasrani)).”

Karena makmum mengaminkan ayat yang menyebutkan kesesatan mereka, inilah yang menyebabkan mereka membencinya.

“Ucapan Aamiin kita adalah bentuk penegasan bahwa kita tidak ingin mengikuti jalan mereka,” tandasnya. (a. nidlom)

Tinggalkan Balasan

Search