Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur HM. Sholihin Fanani menyampaikan pesan penting dan pencerahan tentang strategi dakwah dan prinsip berorganisasi yang efektif di rapat kerja Majelis Tabligh PMW Jatim, Selasa (135/2025). Rapat digelar di kediaman Ketua MT PWM Jatim Abdul Basith, Lc, MPd I di Desa Babaksari, Kecamatan Dukun, Gresik.
Dalam forum yang dihadiri jajaran pimpinan MT PWM Jatim, Abah Shol, panggilan akrabnya, menekankan pentingnya memahami tiga faktor utama dalam ilmu komunikasi untuk menyampaikan dakwah secara tepat sasaran, terutama kepada anak-anak dan generasi muda.
Mengutip teori komunikasi kontemporer, penyandang gelar doktor bidang pengembangan SDM Unair itu menjelaskan, keberhasilan dakwah tidak hanya ditentukan oleh substansi pesan, tetapi juga oleh kondisi psikologis penerima informasi. Ia menyoroti tiga momen strategis yang paling efektif dalam menyampaikan nilai-nilai dakwah, yaitu: saat seseorang sedang healing atau dalam perjalanan liburan, menjelang tidur, dan ketika kadar hormon indorfin sedang meningkat.
Indorfin yang tinggi akan merangsang produktivitas dan penerimaan pesan yang lebih optimal, sedangkan kadar hormon kortisol yang tinggi justru akan menurunkan efektivitas komunikasi karena berkaitan dengan stres.
Dalam konteks ini, Sholihin menegaskan bahwa para dai, guru, dan pendidik harus jeli memilih waktu dan kondisi terbaik dalam menyampaikan pesan dakwah.
“Anak-anak, misalnya, lebih mudah menerima pesan saat hatinya gembira dan suasananya nyaman. Jangan sampaikan pesan penting ketika mereka sedang stres atau tertekan,” tegasnya.
Hal ini juga berlaku dalam konteks organisasi, bahwa pemimpin dan kader harus membangun suasana yang kondusif untuk berkomunikasi agar nilai dakwah tidak hanya disampaikan, tetapi juga ditanamkan secara mendalam.
Lebih lanjut, Sholihin Fanani menyinggung prinsip dasar dalam berorganisasi Muhammadiyah. “Dalam prinsip berorganisasi, patuh pada AD/ART adalah fondasi, tapi di atasnya ada kebijaksanaan, dan yang paling tinggi adalah keikhlasan serta kepemimpinan,” ungkapnya.
Ia menggambarkan bahwa seorang pemimpin sejati adalah “leader yang sip”, yaitu pemimpin yang mampu membawa arah dengan tenang namun kokoh. Ciri-cirinya antara lain: memiliki ide dan gagasan yang segar, mudah berkomunikasi dengan siapa saja, mampu berkolaborasi lintas sektor, serta memiliki kemampuan manajemen—yakni cara mencapai tujuan melalui orang lain.
“Semakin banyak yang terlibat dalam kerja dakwah dan organisasi, maka akan semakin bagus,” pungkasnya.
Hal ini ditekankan dalam pembahasan program-program besar yang menjadi agenda rapat, antara lain penyempurnaan panduan Fashmu ke-2 tahun 2025, pembahasan program Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM), serta persiapan Rapat Kerja ke-3 se-Jawa Timur. Sholihin mengingatkan bahwa semangat kolaborasi dan kepemimpinan yang kuat menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan dakwah di era modern ini.
Rapat yang berlangsung dengan penuh kehangatan ini dihadiri oleh para tokoh penting MT PWM Jatim seperti Dr. Slamet Muliono Redjosari, Dr. Syamsul Ma’arif, Dr. Shollik Al Huda, dan Sekretaris MT PWM, Munahar, M.Pd.I. Para kyai yang hadir dari berbagai daerah—seperti Kyai Ridwan menyatakan komitmen kuat dalam memperkuat barisan dakwah Muhammadiyah di wilayah masing-masing.
Dengan koordinasi yang intens dan strategi dakwah yang berbasis ilmu komunikasi, MT PWM Jawa Timur optimis mampu mencetak gerakan dakwah yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berdampak luas bagi umat.
Melalui forum ini, nilai-nilai keikhlasan, kebijaksanaan, dan kepemimpinan yang tulus kembali ditegaskan sebagai ruh dalam menjalankan dakwah dan roda organisasi. Bagi Sholihin Fanani, komunikasi yang efektif, kepemimpinan yang mengayomi, serta kolaborasi yang terbuka adalah kunci agar nilai-nilai Islam dapat disampaikan bukan hanya sebagai informasi, tapi juga sebagai transformasi kehidupan umat. (m roissudin)
