Tiga Larangan untuk Mubaligh: Pesan Penting di Halalbihalal Majelis Tabligh PWM Jatim

www.majelistabligh.id -

Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur menggelar acara Halalbihalal di Desa Konang, Kecamatan Glagah Lamongan, Ahad (27/4/2025). Dalam suasana penuh kehangatan dan kekeluargaan, Wakil Ketua PWM Jawa Timur, KH. Sholihin Fanani—yang akrab disapa Abah Shol—menyampaikan tiga pesan penting kepada para mubalig sebagai bekal dalam menjalankan dakwah

Abah Shol mengingatkan bahwa seorang mubalig harus menjauhkan diri dari tiga penyakit hati yang bisa merusak keikhlasan dan meruntuhkan kepercayaan umat: iri dengki, kemunafikan, dan kesombongan.

Pertama, ia menekankan pentingnya menghindari iri dan dengki. Menurutnya, kunci utama untuk menjauhi sifat ini adalah keikhlasan dan rasa syukur atas segala ketentuan Allah.

“Tingkat tertinggi dari rasa syukur adalah bersyukur atas hal-hal yang tampak buruk sekalipun,” ujarnya.

Tiga Larangan untuk Mubaligh: Pesan Penting di Halalbihalal Majelis Tabligh PWM Jatim
Para istri dari angggota Majelis Tabligh PWW Jawa Timur. (foto:ibu)

Ia menegaskan bahwa tanpa rasa syukur, dakwah akan kehilangan keberkahan dan mubalig akan mudah terjebak dalam kecemburuan yang merusak hati.

Kedua, Abah Shol memperingatkan tentang bahaya sifat nifaq atau kemunafikan. Ia mengingatkan para mubalig agar senantiasa menjaga kejujuran dalam ucapan dan amanah dalam tindakan. Ia mengutip hadits Nabi tentang tiga tanda orang munafik: jika berbicara berdusta, jika berjanji ingkar, dan jika diberi amanah berkhianat.

“Sekali kehilangan amanah, akan sangat sulit untuk mengembalikannya,” katanya. Oleh karena itu, integritas adalah harga mati bagi seorang dai.

Ketiga, Abah Shol menyoroti kesombongan sebagai bahaya besar yang mengintai para mubalig. Menurutnya, karena sering tampil di hadapan jamaah, para dai rawan terjebak dalam rasa lebih unggul.

“Kesombongan akan menghilangkan keberkahan ilmu dan amal,” ucapnya seraya mengajak semua mubalig untuk terus bercermin dan menjaga kerendahan hati, karena hanya dengan itu dakwah akan diterima dengan lapang oleh umat.

Baca juga: Hangat dan Penuh Canda, Halalbihalal Keluarga Besar Majelis Tabligh PWM Jatim

Dalam ceramahnya, Abah Shol juga menyinggung makna puasa sebagai sarana tarbiyah atau pendidikan ruhani. Ia menyebut bahwa puasa mengajarkan Tarbiyatul Iradah (kemampuan mengendalikan keinginan), Tarbiyatul Ilahiyah (kesadaran sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi), serta Tariqatul Malaikat (kehidupan yang lurus tanpa maksiat). Semua itu bermuara pada Tazkiyatun Nafs, yakni pembersihan jiwa dari segala penyakit hati.

Ketua Majelis Tabligh PWM Jawa Timur, Abdul Basith, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih atas partisipasi seluruh peserta. Ia menyebut acara ini sebagai momentum penting untuk mempererat silaturrahim dan meneguhkan komitmen dakwah.

“Majelis Tabligh harus tetap menjadi motor penggerak syiar Islam di berbagai lapisan masyarakat,” tegasnya.

Sebagai tuan rumah, KH. Syamsul Ma’arif juga mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas suksesnya acara. Ia berharap kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut di masa mendatang sebagai ajang memperkuat ukhuwah Islamiyah dan kolaborasi dakwah.

“Di jalan dakwah, kita harus saling menguatkan dan mendukung,” tuturnya.

Menutup acara, Abah Shol menyampaikan pesan Rasulullah tentang empat kunci kebahagiaan rumah tangga: istri yang shalehah, anak yang shaleh, teman yang alim, serta rezeki yang dekat dari tempat tinggal. Ia menekankan bahwa semua itu dapat diraih dan dijaga dengan memperkuat silaturrahim.

“Jangan pernah malas bersilaturrahim,” pesannya dengan penuh semangat. Dengan menjaga empat hal ini, keluarga akan menjadi sakinah, mawaddah, dan rahmah. (m. roissudin)

Tinggalkan Balasan

Search