Madinah, Senin pagi, mentari telah tinggi menggantung. Jam menunjukkan pukul sepuluh waktu Arab Saudi. Langit bersih, tapi panas menyengat, nyaris mencapai 39 derajat. Namun cuaca terik tak menyurutkan langkah para jemaah haji yang tengah berkunjung ke kompleks Jabal Uhud, salah satu situs sejarah penting dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad saw.
Di tengah kerumunan yang sibuk mengabadikan momen, pandangan saya tertumbuk pada sosok muda perempuan yang terus berjalan di samping seorang lelaki paruh baya. Ada sesuatu yang mengikat mereka: bukan hanya hubungan darah, tapi juga kisah cinta, kehilangan, dan pengabdian.
Namanya Inayatul. Usianya baru 28 tahun. Dia tersenyum lembut saat memperkenalkan diri, namun mata beningnya menyimpan sesuatu yang lebih dari sekadar kebahagiaan. Di sampingnya berdiri ayahnya, Syafaruddin Pagising, lelaki 57 tahun yang tampak tenang dengan raut penuh kehangatan.
“Kebetulan saya menggantikan ibu saya yang sudah tiada. Beliau wafat tahun 2021 karena sakit gula,” tutur Inayatul pelan. Kalimatnya menggantung sejenak, lalu ia menarik napas panjang, seolah hendak menahan gelombang emosi yang tiba-tiba datang begitu saja.
Air mata tumpah, tak bisa lagi ditahan. Dia mengusap pelan pipinya, namun tidak berhenti bercerita. “Haji ini perjalanan spiritual ya, jadi terasa sangat dalam ke hati. Saya ingin menghadiahkan doa terbaik untuk ibu.”
Kepergian haji kali ini bukanlah perjalanan biasa bagi Inayatul. Dia datang sebagai pengganti sang ibu yang lebih dulu menghadap Ilahi. Dan tidak hanya itu, ia juga baru saja menikah tiga minggu sebelum keberangkatan. Suaminya ia tinggalkan di tanah air, demi menemani sang ayah menunaikan rukun Islam kelima ini.
“Rasanya berat, Kak. Tapi saya percaya ini perjalanan suci. Mudah-mudahan Allah jaga suami saya, dan kami bisa berkumpul kembali dalam keadaan sehat nanti,” ucapnya, seraya bersandar perlahan di bahu ayahnya, mencari kekuatan.
Inayatul adalah seorang dokter umum yang bertugas di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Profesi yang ia tekuni sejak 2024. Ia tumbuh dalam keluarga pekerja keras. Kedua orang tuanya pernah menjadi Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia sejak tahun 1996.
Ayahnya, Syafaruddin, bercerita dengan suara lirih penuh kenangan. “Saya dan istri sudah niat naik haji sejak 2011. Kami kumpulkan uang dari hasil kerja di Malaysia. Tapi Allah berkehendak lain, istri saya meninggal sebelum sempat berangkat.”
Jenazah sang istri dibawa pulang ke kampung halaman dan dimakamkan di tanah kelahirannya, Bulukumba. Setelah itu, Syafaruddin segera mengurus segala dokumen untuk mewujudkan keinginan sang istri: berhaji.
“Saya urus ke Kementerian Agama agar porsi haji istri saya bisa digantikan oleh anak kami, Inayatul. Saya ingin dia yang lanjutkan, sekaligus bisa mendoakan ibunya,” ungkap Syafaruddin, suaranya bergetar.
Dan kini, mereka akhirnya di Tanah Suci. Bergabung dalam kloter 14 UPG, berangkat dari Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, pada Sabtu siang (10/05), dan tiba di Bandara AMAA Madinah pada malam harinya. Mereka disambut hangat oleh petugas haji dan langsung merasakan pelayanan yang mereka sebut “baik dan memuaskan”.

“Alhamdulillah, pelayanannya baik, Kak. Petugasnya juga semangat. Saya merasa dihormati dan diperhatikan,” kata Inayatul.
Kisah mereka berpuncak di Jabal Uhud, tempat di mana Nabi Muhammad SAW pernah merasakan duka mendalam atas gugurnya sang paman tercinta, Hamzah. Bagi Inayatul, tempat itu seakan menjadi cermin dari apa yang ia rasakan: kehilangan, tapi tetap harus kuat dan tegar.
“Jabal Uhud ini, Kak… mengajarkan ikhlas dan pengorbanan. Seperti Rasulullah saat kehilangan pamannya, saya juga merasa begitu. Tapi saya tahu, saya harus tetap sabar dan tabah,” ucapnya lirih.
Hari itu, mentari mungkin menyengat, namun lebih panas lagi hati yang sedang menahan rindu. Rindu pada sosok ibu yang dulu membesarkan dengan kasih sayang. Namun, lewat air mata dan doa yang dibisikkan di tanah suci, Inayatul yakin, cintanya sampai ke langit.
Dan di pelataran Jabal Uhud yang bersejarah itu, seorang anak perempuan yang baru menjadi istri, seorang dokter muda, berdiri di sisi ayahnya—menggenapkan cinta yang belum sempat selesai. Untuk sang ibu, untuk keluarga, untuk surga yang dijanjikan. (afifun nidlom)
