Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menegaskan komitmennya membangun budaya Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang menyeluruh. Melalui strategi berbasis tiga pilar utama—internalisasi, integrasi, dan kaderisasi—UMY mendorong nilai-nilai Islam tidak sekadar menjadi pelengkap, tetapi ruh yang menjiwai seluruh aktivitas akademik, penelitian, dan pengabdian kampus.
Strategi terstruktur ini langsung berada di bawah koordinasi Direktorat Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), sebagaimana disampaikan oleh Dr. Taufiqur Rahman selaku Direktur Direktorat AIK dalam kegiatan Orientasi Pejabat Struktural UMY, pada Selasa (30/7/2025).
Dalam arahannya, Taufiq menegaskan bahwa implementasi AIK tidak sekadar menjadi pelengkap, tetapi harus terintegrasi dengan seluruh dharma perguruan tinggi UMY.
Dengan pendekatan menyeluruh yang mencakup pembelajaran, riset, hingga organisasi kemasyarakatan, UMY berupaya menumbuhkan budaya AIK yang holistik.
“Unsur Al-Islam dan Kemuhammadiyahan harus menjadi ruh universitas ini, bukan sekadar pelengkap. Seluruh aspek pengembangan UMY harus dilandasi oleh nilai-nilai AIK,” tegas Taufiq.
UMY telah menjalankan berbagai program internalisasi AIK bagi mahasiswa sejak masa orientasi. Program-program seperti Orientasi Studi Dasar Islam (OSDI), Bimbingan Baca Al-Qur’an, Kuliah Intensif Al-Islam (KIAI), hingga Baitul Arqam dan pendampingan agama Islam menjadi bagian dari proses pembudayaan nilai-nilai islami secara berjenjang.
Bagi dosen dan tenaga kependidikan, program internalisasi AIK juga dilaksanakan dengan mencakup pelatihan ibadah praktis, kajian intensif, serta tahsin dan tafsir Al-Qur’an.
Hasil pemetaan terhadap 209 pejabat struktural menunjukkan bahwa 45 persen peserta dinyatakan lulus, dan program ini akan diperluas dengan pelatihan pemahaman kandungan Al-Qur’an.
Tidak hanya internalisasi, AIK juga diintegrasikan dengan keilmuan dan penelitian yang menjadi misi besar UMY dalam membangun pendidikan holistik ala Muhammadiyah.
Taufiq mengungkapkan bahwa ia dan timnya sedang menyusun panduan integrasi keilmuan yang akan digunakan sebagai acuan dalam pembelajaran, penelitian, dan pengabdian.
Langkah ini bekerja sama dengan Center for Integrative Science and Islamic Civilization (CISIC), Direktorat Pendidikan, serta Direktorat Riset dan Pengabdian UMY.
“Selama ini, sebagian besar upaya integrasi antara nilai Islam dan ilmu baru sebatas pencantuman ayat dan hadis. Ke depan, integrasi tersebut harus lebih mendalam secara filosofis dan metodologis. Akan terdapat juga skema hibah riset berbasis AIK sebagai bentuk konkret dari penguatan integrasi ini,” ujarnya.
Kebijakan AIK juga diarahkan untuk memperkuat kaderisasi persyarikatan Muhammadiyah. Melalui program unggulan seperti Unires (University Residence), KIAI, dan Baitul Arqam, mahasiswa diarahkan tidak hanya untuk memahami nilai-nilai Islam, tetapi juga untuk aktif dalam gerakan persyarikatan.
UMY juga mulai mendorong peningkatan jumlah Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah (KTAM) bagi mahasiswa, sebagai bentuk keterikatan resmi dengan organisasi.
“Kami terus menyusun indikator khusus untuk memantau pelaksanaan program AIK di seluruh level. Data keaktifan dosen dan tenaga kependidikan di cabang dan ranting Muhammadiyah juga dikumpulkan sebagai bagian dari evaluasi. Dari survei sementara, 69,4 persen dosen dan 97,5 persen tenaga kependidikan telah dilaporkan aktif di struktur persyarikatan Muhammadiyah,” pungkas Taufiq. (*/wh)
