Tiga Prajurit TNI Gugur, MUI Minta Pemerintah Menarik Diri dari Board of Peace

Pasukan penjaga perdamaian di perbatasan Israel- Lebanon sedang melakukan operasi. (ist)
www.majelistabligh.id -

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof. Sudarnoto Abdul Hakim, mendesak pemerintah Indonesia menempuh langkah diplomatik tegas, baik melalui jalur bilateral maupun multilateral, untuk menuntut pertanggungjawaban atas insiden tersebut di PBB.

Sudarnoto juga mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan kembali keanggotaan Indonesia dalam forum Board of Peace (BoP). Ia menilai, forum yang dipimpin Donald Trump tersebut tidak memberikan manfaat signifikan bagi upaya perdamaian global.

“Pemerintah juga perlu segera mempertimbangkan agar menarik diri dari keanggotaan Indonesia di BoP,” kata Prof Sudarnoto.

Menurutnya, serangan yang dilakukan Israel dan dibiarkan oleh Amerika menunjukkan tidak adanya niat menciptakan perdamaian. Karena itu, penting bagi Presiden Prabowo Subianto untuk memantapkan langkah menarik diri dari keanggotaan BoP.

“Saya semakin meyakini bahwa BoP yang dipimpin oleh Donald Trump sama sekali tidak bermanfaat karena justru mudharatnya semakin hari semakin nampak dengan jelas. Sehubungan dengan itu, penting Presiden Prabowo untuk memantapkan niat untuk menarik diri dari keanggotaan BoP,” jelas Ketua PP Muhammadiyah ini.

Investigasi PBB

Perserikayan Bangsa Bangsa melakukan investigasi atas peristiwa gugurnya tiga prajurit TNI yang sedang menjalankan misi perdamaian. Dalam kesimpulan sementara, tembakan dari tank pasukan penjajahan Israel (IDF) jadi penyebab gugurnya prajurit TNI anggota pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon.

Sumber di PBB mengatakan bahwa penyelidikan telah menunjukkan bahwa tembakan berasal dari sebuah tank Israel, dan menambahkan bahwa “puing-puing dari peluru tank telah ditemukan” di lokasi tersebut.

Sedangkan pihak TNI melansir, Praka Farizal Romadhon, seorang prajurit TNI dilaporkan gugur akibat serangan artileri di Lebanon Selatan pada Ahad (29/3/2026). Serangan tersebut menghantam area Indobatt UNP 7-1 di Kota Adshit Al-Qusyar, tempat Praka Farizal bertugas dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).

Atas peristiwa tersebut, 10 negara Eropa, termasuk Perancis dan Inggris, mendesak semua pihak untuk menjamin keamanan UNIFIL. “Kami mendesak semua pihak, dalam keadaan apa pun, untuk memastikan keselamatan dan keamanan personel dan lokasi UNIFIL, sesuai dengan hukum internasional,” tulis pernyataan resmi bersama menteri luar negeri Belgia, Kroasia, Siprus, Perancis, Yunani, Italia, Malta, Belanda, Portugal dan Inggris, serta diplomat utama Uni Eropa lainnya. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search