Tiga Puluh Tahun untuk Selamanya: Jangan Tertipu Dunia

*) Oleh : Ferry Is Mirza DM
Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Marilah kita untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan ketaq\kwaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sebenar – benarnya takwa; dengan menjauhi larangan Allah sejauh -jauhnya dan menjalankan perintah-Nya semampunya.

Dengan demikian kita dapat berproses menjadi sebaik- baiknya hamba Allah sebagaimana firman Allah Wa Ta’ala dalam Al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 13 :

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

Al-Miqdad bin al-Aswad ra bercerita:

“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

‘Pada hari kiamat nanti matahari turun mendekati para makhluk hingga hanya berjarak satu mil … pada saat itu kucuran keringat masing-masing manusia tergantung amalannya; di antara mereka ada yang keringatnya sampai mata kakinya, ada pula yang keringatnya sampai lututnya, ada yang keringatnya sampai perutnya serta ada yang tenggelam dalam keringatnya sendiri!’” (HR. Muslim).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menghendaki terjadinya hari kiamat, memerintahkan Malaikat Israfil untuk meniup sangkakalanya dua kali.

Tiupan pertama sebagai pertanda untuk membinasakan seluruh makhluk yang ada di bumi dan langit, sedangkan tiupan kedua untuk membangkitkan mereka kembali.

Allah Wa Ta’ala berfirman:

“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu putusannya masing-masing.” (QS. Az-Zumar: 68)

Maka, setelah Malaikat Israfil meniupkan sangkakala yang kedua kalinya, semua makhluk pun dibangkitkan dari kuburnya oleh Allah Ta’ala, lalu mereka dikumpulkan dalam suatu padang yang amat luas yang rata dengan tanah dalam keadaan tidak berpakaian, tidak memakai sandal, tidak berkhitan, dan tidak membawa sesuatu apa pun.

Rasulullah shallallahu aalaihi wasallam bersabda:

“Pada hari Kiamat nanti manusia akan dikumpulkan dalam keadaan tidak memakai sandal, tidak berpakaian, dan dalam keadaan belum berkhitan.

Aisyah bertanya : ‘Wahai Rasulullah, kaum pria dan wanita berkumpul pada satu tempat semuanya dalam keadaan tidak berbusana? Apakah mereka tidak saling melihat satu sama lain?’

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab, :
‘Wahai Aisyah, kondisi saat itu amat mengerikan sehingga tidak terbetik sedikit pun dalam diri mereka untuk melihat satu sama lain!’.” (HR. Bukhari Muslim)

Saat itu masing – masing dari mereka memikirkan dirinya sendiri dan tidak sempat untuk memikirkan orang lain, meskipun itu adalah orang terdekat mereka.

Allah Ta’ala berfirman, :

“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya. Dari bapak dan ibunya.
Dari istri dan anak – anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS. Abasa: 34-37)

Semua manusia saat itu berada di dalam ketidakpastian. Masing-masing menunggu apakah ia termasuk orang- orang yang beruntung, dimasukkan ke taman-taman surga atau termasuk orang yang merugi terjerembab ke dalam jurang neraka.

Dalam kondisi seperti itu Allah Ta’ala mendekatkan matahari sedekat – dekatnya di atas kepala para hambaNya, hingga panasnya sinar matahari yang luar biasa itu mengakibatkan keringat mereka bercucuran.

Demikianlah para manusia saat itu berada di dalam kesusahan, kebingungan, dan ketidakpastian yang tiada bandingannya. Padahal satu hari pada saat itu bagaikan 50 ribu tahun hari-hari dunia !

Allah Wa Ta’ala berfirman, :

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik menghadap kepada Allah dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.” (QS. Al-Ma’arij: 4)

Jika kita mau merenung, betapa mengerikannya hari-hari itu. Lalu kita bandingkan dengan jalan hidup kebanyakan manusia yang kita lihat selama ini, pasti kita akan sadar bahwa masih banyak di antara kita yang terlena oleh indahnya dunia yang semu.

Mereka lupa, setelah kehidupan sementara ini, masih ada kehidupan lain yang kekal abadi—di mana satu hari di sana setara dengan lima puluh ribu tahun di dunia..

Kita telah terlena dengan gemerlapnya dunia dan lupa untuk beribadah kepada Allah dan beramal saleh.

Padahal pada hakikatnya kita hanya diminta untuk beramal selama 30 tahun saja!
Tidak lebih dari itu.  Suatu waktu yang amat singkat!

Ya, kalaupun umur kita 60 tahun, sebenarnya kita hanya diminta beramal selama 30 tahun.

Waktu tersebut dikurangi dengan masa tidur kita di dunia. Jika dalam satu hari adalah 8 jam, berarti masa tidur kita adalah sepertiga dari umur kita yaitu: 20 tahun.

Lalu kita kurangi lagi dengan masa kita sebelum baligh. Masa dimana seseorang tidak berkewajiban untuk beramal. Jika kita baligh pada umur 10 tahun berarti, umur kita hanya tinggal 30 tahun!

Subhanallah, bayangkan, pada hakikatnya kita diperintahkan untuk bersusah payah dalam beramal shalih di dunia hanya selama 30 tahun saja!

Alangkah naifnya jika kita enggan untuk bersusah payah selama 30 tahun di dunia beramal saleh, sehingga akan berakibat kita mendapat siksaan yang amat pedih di akhirat selama puluhan ribu tahun!

Allah Subhanahu Wa Ta’ala, telah memperingatkan supaya kita tidak tertipu dengan kehidupan duniawi yang fana ini :

“Wahai para manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdaya kalian, dan janganlah sekali-kali setan yang pandai menipu, memperdayakan kalian dari Allah.” (QS. Fathir: 5)

Mengapa orang yang tertipu dengan kehidupan duniawi benar-benar telah merugi? Karena kenikmatan dunia seisinya tidak lebih berharga di sisi Allah dari sebuah sayap seekor nyamuk!

Sahl bin Sa’d bercerita bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Seandainya dunia sepadan dengan harga sayap seekor nyamuk, niscaya orang kafir tidak akan mendapatkan kenikmatan dunia meskipun hanya seteguk air.” (HR. Tirmidzi)

Maka, mari kita manfaatkan kehidupan dunia yang hanya sementara ini untuk benar-benar beribadah kepada Allah Ta’ala, mulai dari mencari ilmu, salat lima waktu, berbakti kepada orang tua, berbuat baik kepada sesama terutama tetangga, mendidik keluarga sebaik-baiknya, dan lain lain. Juga berusaha untuk menjauhi apa yang dilarang-Nya.

Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang disebutkan Allah Ta’ala dalam firman-Nya:

“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: ‘Ya Rabb kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amalan sholih berlainan dengan apa yang telah kami kerjakan.’ Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup bagi orang yang mau berpikir ?! Maka rasakanlah adzab Kami dan tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun.” (QS. Fathir: 37)

Namun, mereka tidak akan mungkin bisa kembali lagi ke dunia. Demikian pula mereka tidak akan mati di neraka.

Allah Ta’ala bercerita,

“Mereka berseru: ‘Wahai Malik, biarlah Rabb-Mu membunuh kami saja.’
Dia menjawab:
‘Kalian akan tetap tinggal di neraka ini. Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepada kalian, namun kebanyakan kalian benci terhadap kebenaran tersebut.” (QS. Az-Zukhruf: 77-78)

Jangankan untuk menghentikan siksaan, untuk mendapatkan setetes air pun mereka tidak bisa.

Allah Ta’ala mengisahkan :

“Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga:
‘Berilah kami sedikit air atau makanan yang telah diberikan Allah kepada kalian.’

Mereka penghuni surga menjawab: ‘Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir.’ Yaitu orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka.

Maka pada hari kiamat ini Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini dan sebagaimana mereka lalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 50-51)

Semoga kita semua bukan termasuk golongan orang orang kafir, bukan termasuk golongan calon penghuni neraka , tetapi termasuk golongan calon penghuni Surga yang mengalir sungai sungai dibawahnya.

Aamiin ya Robbal ‘aalamiin. (*)

Tinggalkan Balasan

Search