Ibadah haji 2025 telah memasuki fase akhir pelaksanaan di Mina, setelah puncaknya berlangsung pada Kamis (5/6/2025) dengan wukuf di Arafah. Malam harinya, jemaah bermalam di Muzdalifah untuk mabit dan mengumpulkan batu. Keesokan harinya, Jumat 6 Juni, jemaah memulai lempar jumrah aqabah sebagai bagian dari tahapan menuju penyempurnaan haji.
Kini, sejak Jumat, jemaah berada dalam masa hari tasyrik, yakni 11–13 Zulhijah, di mana lempar jumrah dilanjutkan pada tiga jamarat (Ula, Wusta, dan Aqabah) selama tiga hari. Dalam rentang waktu ini, jemaah memiliki dua pilihan: nafar awal atau nafar tsani.
Nafar awal adalah opsi meninggalkan Mina lebih cepat, yakni setelah menyelesaikan lempar jumrah pada 12 Zulhijah (Ahad, 8 Juni 2025) sebelum matahari terbenam. Jika jemaah masih berada di Mina setelah itu, maka mereka harus melanjutkan ibadahnya hingga 13 Zulhijah dengan melakukan lempar jumrah pada hari terakhir. Pilihan kedua ini disebut nafar tsani.
Untuk mengantisipasi kepadatan pergerakan menuju Makkah, terutama dari jemaah yang memilih nafar awal, Pemerintah Indonesia melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) telah menyiapkan evakuasi bertahap dalam tiga trip keberangkatan. Hal ini dikonfirmasi oleh Kasatops Armuzna, Kolonel Laut Harun Ar Rasyid, saat ditemui di Pos Komando Mina, Ahad (8/6/2025).
“Pergerakan nafar awal ini disiapkan dalam tiga trip keberangkatan dari Mina menuju Makkah,” ujar Harun seraya menegaskan, pembagian ini bertujuan untuk mencegah penumpukan jemaah di jalur keluar Mina.
Jemaah pun diminta tetap berada di tenda masing-masing dan tidak terburu-buru keluar sebelum jadwal yang ditentukan.
“Jangan hanya berkumpul menunggu di luar tenda, itu bisa membuat kondisi semakin padat. Ini penting agar proses berjalan tertib dan aman,” jelasnya.
Setiap sektor diberi tugas mengawal rombongan secara ketat agar tidak tertinggal atau salah naik bus. “Jemaah harus bersabar dan mengikuti arahan petugas. Tidak perlu terburu-buru,” imbuh Harun.
Ia menyebutkan bahwa seluruh jemaah nafar awal dijadwalkan keluar dari Mina sebelum pukul 16.30 waktu Arab Saudi atau sekitar pukul 20.30 WIB. Jika melewati batas waktu itu, maka secara otomatis mereka akan mengikuti nafar tsani dan wajib melempar jumrah lagi pada 13 Zulhijah.
Di sisi lain, sektor keamanan dan layanan darurat turut dikerahkan untuk mendukung kelancaran mobilisasi. Jika terjadi kendala seperti bus mogok atau kemacetan, tim siap berkoordinasi dengan otoritas Saudi.
“Jika ada bus tidak bisa bergerak atau terjadi kerusakan, kami langsung berkoordinasi untuk menurunkan armada pengganti,” katanya.
Harun juga menyebut bahwa esok hari, yakni 13 Zulhijah, seluruh sektor ad-hoc akan melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada jemaah tertinggal ataupun barang yang tercecer. “Barang tertinggal akan dikumpulkan dan didistribusikan melalui daker,” jelasnya.
Dengan langkah ini, pemerintah berharap proses akhir ibadah haji berjalan lancar dan seluruh jemaah Indonesia dapat menuntaskan ibadahnya secara sempurna dan aman. (afifun nidlom)
