Tiga Wasiat Nabi kepada Mu’adz Bin Jabal

*) Oleh : Dr. Ajang Kusmana
Pengajar Mata Kuliah AIK UMM
www.majelistabligh.id -

Allah subhana Wata’ala telah merahmati Islam, dan Allah memuliakan kita dengan Islam. Maka perhatikanlah apa yang telah diwasiatkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabat mulia Muadz bin Jabal, ketika Muadz bin Jabal meminta kepada Nabi wasiat.

Tiga wasiat utama Rasulullah saw kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu adalah:  bertakwa di mana pun berada, mengikuti perbuatan buruk dengan kebaikan, dan berakhlak mulia kepada sesama manusia.

Wasiat ini mencakup hubungan dengan Allah dan makhluk, serta menjadi pedoman hidup yang komprehensif bagi setiap Muslim untuk meraih keselamatan. Wasiat tersebut dapat dilihat pada hadis berikut:

عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ ” [رواه الترمذي وقال حديث حسن وفي بعض النسخ حسن صحيح]

“Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdirrahman Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskan (keburukan). Dan pergauilah manusia dengan akhlak yang mulia.” (HR. At-Tirmidzi, dan dia berkata: Hadis Hasan Shahih).

Dalam hadis tersebut terkandung 3 wasiat Nabi yang sangat penting, baik hubungan manusia kepada Allah maupun hubungan manusia ke sesama manusia.

  1. Perintah Takwa dimana pun kita berada

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ

Nabi tidak hanya memerintahkan takwa semata, namun bertakwa dimana pun kita berada, baik di tengah keramaian maupun di sunyi bersendirian. Inilah takwa yang sebenar benarnya, dan takwa yang paling berat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Aku mengetahui kata Rasulullah, ada orang yang mempunyai amal yang banyak, seperti gunung di Hama, banyak amalnya, banyak kebaikannya. Tiba-tiba kebaikan itu kata Allah habis tidak bernilai, tidak ada lagi pahalanya di hadapan Allah subhana wata’ala. Sahabat bertanya, Ya Rasulullah sebutkan orang itu, kelompok itu, golongan itu, agar kami tidak masuk ke dalam golongan itu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Mereka seperti kalian, beramal seperti kalian, salat malam seperti kalian, berpuasa seperti kalian, sedekah seperti kalian, tapi apabila mereka berhadapan dengan perkara yang haram, yaitu saat sendirian tidak ada yg orang lain, cuma dia sendiri saja, dia kerjakan yang haram itu.”

Apa maknanya, dia bertakwa di hadapan orang ramai, tapi kalau sendirian dia tidak lagi menjadi orang yang bertakwa kepada Allah Subhana wata’ala.

Sebagaimana kata Imam Syafi’i rahimahullah:

وقال الشافعي : أعزُّ الأشياء ثلاثة : الجودُ من قِلَّة ، والورعُ في خَلوة ، وكلمةُ الحقِّ عند من يُرجى ويُخاف

Imam Syafii mengatakan, “Perkara yang paling berat itu ada 3, dermawan saat memiliki sedikit harta, meninggalkan hal yang haram saat sendirian dan mengatakan kebenaran saat berada di dekat orang yang diharapkan kebaikannya atau ditakuti kejahatannya” (Jami’ Ulum wa Hikam 2/18).

Orang yang mulia di sisi Allah adalah orang yang bertaqwa,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.”

  1. Segera lakukan amal shalih

وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَ

Nasihat yang kedua menjelaskan perintah untuk bersegera melakukan kebaikan tatkala kita terjerumus dalam keburukan. Nasihat yang mulia ini menjelaskan perintah untuk segera bertaubat. Karena taubat adalah bagian dari amal salih yang paling mulia dan harus disegerakan.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu.”

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)

  1. Akhlak Mulia kepada manusia

وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Wasiat yang terakhir adalah perintah untuk berakhlak yang mulia kepada sesama manusia. Setelah 2 wasiat di atas menyebutkan perintah yang berhubungan antara Allah dan manusia.

Contoh gampang dalam berakhlak mulia adalah senyuman yang diiringi wajah yang berseri dan sebarkan salam:

أَفْشُوا السَّلاَمَ تَسْلَمُوْا

“Sebarkanlah salam, niscaya kalian akan selamat.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih).

Oleh karena itu, Rasulullah mengkaitkan antara akhlak dengan iman yang sempurna. Dimana Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaknya.” (HR. At-Tirmidzi No. 2612, ia berkata: Hadis Shahih).

Bahkan dalam hadis lain juga disebutkan bahwa orang yang paling dekat dengan Rasulullah pada hari kiamat adalah yang paling bagus akhlaknya. Orang yang memiliki akhlak mulia, tidak hanya dicintai oleh Rasulullah, namun ia akan dicintai oleh manusia yang lainnya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search