Bintang sepak bola asal Mesir, Mohamed Salah, mengonfirmasi bahwa musim kesembilannya di Liverpool akan menjadi yang terakhir. Meski kontraknya baru akan berakhir pada 2027, kesepakatan khusus antara sang pemain dan klub memungkinkan Salah pergi dengan status bebas transfer pada Mei mendatang.
Keputusan ini mengakhiri spekulasi panjang yang menyelimuti masa depan sang penyerang sejak tahun lalu. Bagi Liverpool, kehilangan Salah secara gratis tentu menjadi kerugian materiil yang besar. Namun, di sisi lain, langkah ini akan memangkas beban gaji klub secara signifikan, mengingat Salah adalah pemain dengan bayaran tertinggi dalam sejarah The Reds.
Meski demikian, Salah melampaui angka-angka di atas kertas. Kepergiannya meninggalkan warisan yang jauh lebih berharga daripada trofi Liga Inggris atau Liga Champions, khususnya wajah Muslim di Inggris.
Fenomena ‘Salah Effect’
Sejak menginjakkan kaki di Anfield pada 2017. Pemain berpaspor Mesir ini bukan sekadar mesin pencetak gol. Sebuah studi bertajuk “Salah Effect” mengungkapkan dampak sosiologis yang luar biasa di Inggris.
Laporan tersebut mencatat bahwa angka kejahatan kebencian (hate crime) di wilayah Merseyside menurun drastis sebesar 16 persen sejak kedatangan pemain berjuluk The Egyptian King tersebut.
Penelitian itu juga memproses 15 juta unggahan di media sosial dan menemukan bahwa cuitan anti-Muslim dari penggemar Liverpool berkurang hingga separuhnya dibandingkan dengan klub-klub besar lainnya. Identitas Muslim Salah yang ditampilkan secara bangga—lewat selebrasi sujud dan kerendahan hatinya—telah mengubah persepsi publik Inggris terhadap Islam.
“Hasil ini memberikan bukti nyata bahwa paparan terhadap selebritas dari kelompok yang sering mendapatkan stigma dapat mengurangi prasangka secara efektif,” tulis laporan tersebut yang dilansir oleh Islamchannel.tv.
Pada saat banyak pemain bintang berlatar belakang Muslim cenderung tidak menonjolkan identitas keagamaannya, Salah justru menjadikannya bagian tak terpisahkan dari personanya di lapangan.
Dampaknya terasa hingga ke sudut-sudut tribun penonton. Nyanyian populer fans Liverpool yang berbunyi, “If he scores another few, then I’ll be Muslim too” (Jika dia mencetak beberapa gol lagi, aku pun akan menjadi Muslim), bukan sekadar gurauan, melainkan bentuk pengakuan terhadap nilai-nilai positif yang dibawa Salah.
Saat Salah melambaikan tangan terakhirnya di Anfield nanti, ia tidak hanya akan dikenang karena rekor golnya yang fenomenal. Ia akan dikenang sebagai jembatan yang menghubungkan dua peradaban.
Salah menjadi sosok yang membuat ribuan orang merasa nyaman berada di masjid, dan pria yang membuktikan bahwa olahraga mampu meruntuhkan tembok kebencian yang paling tebal sekalipun.
Bagi Liverpool, Salah adalah legenda. Bagi komunitas Muslim dunia, ia adalah duta. Dan bagi kemanusiaan, ia adalah bukti bahwa kebaikan yang dilakukan dengan tulus, adalah bahasa universal yang dipahami semua orang. (*/tim)
