Tokoh-tokoh Muslim Indonesia mendesak masyarakat internasional untuk menghentikan berbagai bentuk Islamophobia yang masih terjadi di berbagai belahan dunia. Mereka juga menyoroti tragedi kemanusiaan di Gaza serta pembatasan ibadah di kawasan suci Baitul Maqdis, termasuk penutupan Masjid Al-Aqsa.
Seruan itu disampaikan dalam agenda refleksi memperingati Hari Internasional Memerangi Islamophobia pada 15 Maret 2026 yang mengusung tema “Ramadan Spirit for Global Justice: Dari Indonesia untuk Perdamaian Dunia,” di AQL Islamic Center Jakarta, Ahad (15/3/2026).
Ketua Umum Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI), Ustaz Bachtiar Nasir, menyoroti kondisi kemanusiaan di Gaza yang hingga kini masih memprihatinkan. Menurutnya, penderitaan rakyat Gaza menjadi bukti, dunia internasional belum sepenuhnya konsisten menegakkan nilai keadilan dan kemanusiaan.
Ia menegaskan, tragedi kemanusiaan yang terjadi di Gaza tidak bisa dipandang sekadar sebagai konflik biasa, tetapi merupakan persoalan kemanusiaan global yang menuntut perhatian serius masyarakat dunia.
“Ramadan mengajarkan bahwa kedamaian lahir dari hati yang bersih dan keadilan yang ditegakkan. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak kebencian, tetapi lebih banyak keberanian untuk membela kemanusiaan,” ujar Ustaz Bachtiar Nasir.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ustaz Fahmi Salim, menyoroti situasi di Baitul Maqdis yang menurutnya semakin memprihatinkan.
Ia menyinggung pembatasan bahkan penutupan akses ibadah di Masjid Al-Aqsa yang kerap terjadi, terutama pada momentum penting bagi umat Islam. Tindakan tersebut merupakan bentuk pelanggaran terhadap kebebasan beragama dan hak dasar umat Muslim untuk beribadah di tempat suci.
“Dunia Islam tidak boleh tinggal diam terhadap berbagai pembatasan yang terjadi di kawasan suci tersebut,” kata Ustaz Fahmi.
Ia mendesak negara-negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dan Liga Arab untuk menyatukan kekuatan politik dan diplomatik guna menekan Zionis Israel agar menghentikan berbagai kebijakan yang membatasi akses umat Islam ke Masjid Al-Aqsa.
Selain menyoroti Gaza dan Baitul Maqdis, peringatan Hari Internasional Memerangi Islamophobia ini juga mengangkat keprihatinan atas meningkatnya diskriminasi terhadap komunitas Muslim di sejumlah negara.
Bentuknya beragam, mulai dari stereotip negatif terhadap Islam, diskriminasi terhadap simbol keagamaan, hingga meningkatnya ujaran kebencian di ruang publik dan media sosial.
Melalui momentum Ramadan, para tokoh yang hadir menegaskan, nilai-nilai spiritual Islam seperti empati, solidaritas sosial, dan kepedulian terhadap kaum tertindas harus menjadi inspirasi global untuk membangun dunia yang lebih adil dan damai. (*/tim)
