Sering kali kita lelah karena merasa gagal mengubah orang lain. Padahal, Al-Qur’an menegaskan bahwa tugas manusia —termasuk guru, orang tua, dan pemimpin— bukanlah memaksa perubahan, melainkan menyampaikan kebenaran dengan hikmah. Selebihnya, hidayah adalah hak mutlak Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebagaimana Allah berfirman:
اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚوَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
“Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) tidak (akan dapat) memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk). Dia paling tahu tentang orang-orang yang (mau) menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56)
Tafsir Singkat
Konteks turunnya ayat: Ayat ini turun berhubungan dengan Abu Thalib, paman Nabi Muhammad ﷺ, yang sangat beliau cintai namun wafat dalam keadaan tidak beriman. Rasulullah ﷺ sangat berharap Abu Thalib mendapat hidayah, tetapi Allah menegaskan bahwa hidayah adalah hak prerogatif-Nya.
Makna utama: Nabi ﷺ hanya bisa menyampaikan risalah, bukan memberi hidayah ke dalam hati. Allah lah yang menentukan siapa yang diberi petunjuk, sesuai kesiapan hati seseorang. Hidayah bukan sekadar pengetahuan, tetapi penerimaan dan ketundukan kepada kebenaran.
Ayat ini mengingatkan bahwa cinta dan kasih sayang tidak cukup untuk menjamin hidayah. Bahkan Nabi ﷺ, dengan segala kedekatan dan doa, tidak bisa memaksa hidayah masuk ke hati orang yang beliau cintai.
Dalam konteks pendidikan dan kepemimpinan, ayat ini bisa menjadi cermin: tugas seorang guru atau pemimpin adalah menyampaikan dengan penuh hikmah, tetapi hasil akhirnya tetap bergantung pada Allah.
Hal ini selaras dengan prinsip: “Manusia diciptakan bukan untuk sempurna, tapi untuk berguna.” Guru atau pemimpin berguna dengan menyampaikan kebenaran, meski hasil penerimaan ada di tangan Allah.
Inti dari QS. Al-Qashash: 56. Allah menegaskan bahwa tugas Rasulullah ﷺ hanyalah menyampaikan risalah, bukan memaksa atau mengubah hati orang lain. Hidayah sejati adalah hak Allah semata.
Pelajaran penting dari ayat ini:
- Manusia hanya bisa menyampaikan: lewat dakwah, pendidikan, teladan, atau nasihat.
- Allah yang memberi hidayah: Dialah yang membuka hati seseorang untuk menerima kebenaran.
- Kesabaran dan keikhlasan: Seorang pendidik, pemimpin, atau orang tua harus ikhlas bahwa hasil akhirnya bukan di tangan kita.
Guru, orang tua, atau pemimpin tidak bertugas “mengubah” orang lain, melainkan menjadi pelita yang menyampaikan kebenaran dengan hikmah. Perubahan hati adalah urusan Allah.
Dalam kitab Fathul Majid, Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Asy-Syaikh menukil perkataan Ibnu Katsir rahimahullah tentang tafsir ayat di atas:
“Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada RasulNya, ‘Sesungguhnya engkau, wahai Muhammad, tidak akan dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau kasihi,’ artinya, (memberi hidayah atau petunjuk) itu bukan urusanmu. Akan tetapi, kewajibanmu hanyalah menyampaikan, dan Allah akan memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia lah yang memiliki hikmah yang mendalam dan hujjah yang mengalahkan.
Dalam kitab At Tamhid Li Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Asy-Syaikh berkata: ‘Hidayah yang dinyatakan oleh Allah tidak dimiliki oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di sini ialah hidayah taufik, ilham dan bantuan yang khusus.
Hidayah inilah yang disebut oleh ulama sebagai hidayah at-taufiq wal ilham. Yaitu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan dalam hati seorang hamba kemudahan secara khusus untuk menerima petunjuk; sebuah bantuan kemudahan yang tidak diberikan kepada orang selainnya.
Jadi, hidayah taufik ini, secara khusus Allah memberikan kepada orang yang Dia kehendaki, dan pengaruhnya orang tersebut akan menerima petunjuk dan berusaha meraihnya. Oleh karena itu, memasukkan hidayah ini ke dalam hati seseorang bukanlah tugas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sebab hati hamba berada di tangan Allah, Dia yang membolak-balikannya sesuai dengan kehendakNya. Sehingga orang yang paling Beliau cintai sekalipun, tidak mampu Beliau jadikan menjadi seorang muslim, yang mau menerima petunjuk”.
Adapun jenis hidayah yang kedua, berkaitan dengan hamba yang mukallaf, yaitu hidayah ad-dilalah wal irsyad (memberi penjelasan dan bimbingan). Allah menetapkan jenis hidayah ini pada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seluruh nabi dan rasul, dan setiap dai yang menyeru manusia kepada Allah. (*)
