Tujuh Langkah Menjaga “Nafas” Masjid Pascaramadan

Imam Sapari, S.HI., M.Pd.I.
*) Oleh : Imam Sapari, S.HI., M.Pd.I.
Ketua Majelis Tabligh PDM Surabaya – Kepala SMP Muhammadiyah 7 Surabaya
www.majelistabligh.id -

Ramadan telah berlalu dan ujian keikhlasan bagi kita para takmir baru saja dimulai. Menjaga masjid tetap makmur di luar Ramadan adalah perjuangan mulia. Sebagaimana pesan Almarhum Ustadz Jazir ASP (Takmir Masjid Jogokariyan) pernah menegaskan, “Tugas takmir itu bukan melarang orang, tapi melayani jamaah sampai mereka merasa masjid adalah rumahnya sendiri.”

Mari kita jaga semangat pengabdian dengan 7 langkah praktis ini:

  1. Menjaga Kebersihan sebagai Bentuk Pemuliaan

Pak Kusnadi Ikhwani (Masjid Al-Falah Sragen) selalu menekankan bahwa masjid harus lebih bersih dari hotel bintang lima. Rasulullah saw sangat menghargai penjaga kebersihan masjid dan menyalatkan jenazahnya secara khusus di makamnya (HR. Bukhari no. 458).

عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ: أَنَّ رَجُلًا أَسۡوَدَ، أَوِ امۡرَأَةً سَوۡدَاءَ، كَانَ يَقُمُّ الۡمَسۡجِدَ، فَمَاتَ، فَسَأَلَ النَّبِيُّ ﷺ عَنۡهُ، فَقَالُوا: مَاتَ، قَالَ: (أَفَلَا كُنۡتُمۡ آذَنۡتُمُونِي بِهِ؟ دُلُّونِي عَلَى قَبۡرِهِ)، أَوۡ قَالَ: (قَبۡرِهَا). فَأَتَى قَبۡرَهَا فَصَلَّى عَلَيۡهَا.

Dari Abu Hurairah: Bahwa dahulu ada seorang laki-laki atau wanita berkulit hitam yang biasa menyapu masjid lalu meninggal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakannya. Para sahabat berkata, “Dia sudah meninggal.” Nabi bersabda, “Mengapa dahulu kalian tidak memberitahuku? Tunjukkan kuburannya kepadaku!” Nabi pun mendatangi kuburannya lalu salat di situ.

Cek kembali kebersihkan AC, Lantai, halaman, kaca, karpet dan toilet masjid. Jangan biarkan mukena atau sajadah ada sedikit kotoran atau bau yang kurang sedap. Ingat! Fasilitas yang bersih dan wangi adalah magnet pertama jamaah.

  1. Ramah dan Merangkul (Bukan Memukul)

Ustadz Jazir sering mengingatkan, “Jangan jadi takmir yang hobinya melarang.” Ingatlah saat Rasulullah saw melarang sahabat menghardik orang Badui yang kencing di masjid, beliau justru bersabda:

دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ

“Biarkanlah dia, dan siramlah bekas kencingnya dengan seember air.” (HR. Bukhari no. 220).

Ingat, senyum adalah sedekah! Jadi, Takmir harus murah senyum dan muka jangan terkesan angker atau “jutek”. Jadikan masjid tempat yang paling ramah di lingkungan kita. Generasi muda paling anti melihat wajah takmir yang seakan menjadi hakim atau polisi bagi mereka.

  1. Konsistensi (Istikamah) Walau Sederhana

Masjid Al-Falah Sragen sukses karena pelayanan yang konsisten tiap hari, bukan cuma pas event besar. Rasulullah saw bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus (rutin) meskipun sedikit.” (HR. Bukhari no. 6465 & Muslim no. 782).

Takmir mengatur kembali petugas muazin supaya azan tepat waktu dengan irama yang enak didengar. Ingat! Salat berjamaah adalah “denyut nadi” masjid yang tidak boleh berhenti.

  1. Menghidupkan Majelis Ilmu yang Ringan

Belajar dari Jogokariyan, kajian tidak harus berat. Rasulullah saw sering duduk bersama sahabat setelah Subuh untuk berbincang ringan. Selenggarakan dan jadwalkan kegiatan kultum meskipun singkat antara 5-10 menit. Jadikan masjid pusat literasi dan solusi bagi masalah jamaah sehari-hari. Salah satu syiar kegiatan ini bisa bekerjasama dengan Majelis Tabligh PDM dengan menyelenggarakan kegiatan safari subuh.

Konten-konten kajian harus berbasis digitalisasi dakwah seperti Ramadan kemarin. Upload dan unggah setiap narasi dakwah dari para mubaligh kita.

  1. Mempererat Kerja Sama Antar Pengurus

Kekuatan masjid ada pada solidnya tim. Rasulullah saw bersabda:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti satu bangunan yang saling menguatkan.” (HR. Bukhari no. 481 & Muslim no. 2585).

Takmir masjid bukan “superman” tapi “superteam”. Jalin komunikasi hangat antarpengurus takmir. Jangan sampai antara takmir yang satu dengan yang lain bermusuhan atau terlibat “like and dislike”. Jika hal ini terjadi maka inilah sumber perpecahan dan kemunduran masjid.

  1. Menjadi Teladan di Shaf Terdepan

Jika takmirnya tidak terlihat di masjid, jamaah akan ragu untuk datang. Rasulullah saw bersabda tentang keutamaan saf pertama:

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ… لَاسْتَهَمُوا عَلَيْهِ

“Seandainya manusia mengetahui pahala pada azan dan saf pertama, niscaya mereka akan mengundinya.” (HR. Bukhari no. 615 & Muslim no. 437).

Takmir harus jadi orang pertama yang mengisi saf depan sebagai bentuk undangan nyata bagi jamaah. Takmir harus datang lebih awal dan tampil ke depan sebagai uswatun hasanah bagi para jamaah.

  1. Meluruskan Niat: Melayani, Bukan Berkuasa

Filosofi utama di Jogokariyan dan Al-Falah Sragen adalah “Kas Masjid Harus Nol”. Artinya, uang umat harus segera kembali ke umat dalam bentuk pelayanan. Rasulullah saw bersabda:

سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ

“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.” (HR. Muslim no. 2623).

Jadilah takmir yang melayani, bukan yang merasa memiliki. Keikhlasan melayani tamu Allah adalah kunci kemakmuran masjid yang abadi.

Penutup

Mari kita niatkan setiap lelah kita sebagai amal jariyah. Sebagaimana pesan para tokoh takmir kita, “Masjid yang makmur adalah masjid yang pintunya selalu terbuka dan pengurusnya selalu tersenyum.” (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search