*) Oleh: Ubaidillah Ichsan, S.Pd
Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) PDM Jombang
“When value trumps honesty.”
(Ketika nilai mengalahkan kejujuran)
Menyontek adalah kebiasaan yang sangat buruk. tujuannya ingin mendapatkan hasil yang baik tapi dengan cara yang salah.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti suatu kegiatan mencontoh, meniru, menjiplak atau meniru tulisan pekerjaan orang. Kebiasaan menyontek banyak dilakukan disaat sedang menghadapi ujian atau tes.
Dalam Ajaran Islam, menyontek adalah perbuatan yang tercela karena ketidak jujuran dalam mengerjakan tugas atau dusta (menipu) untuk mendapatkan pujian dari orang lain. Dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda:
مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا
“Barangsiapa yang menipu kami, maka ia tidak termasuk golongan kami.”(HR Muslim No.101)
Apalah artinya dapat nilai bagus kalau dari hasil nyontek, bukan dari hasil kerja keras sendiri.
Hal demikian seakan-akan membuat nilai akhlak mulia dan pendidikan karakter yang ditanamkan sejak dini di sekolah tidak ada guna dan manfaatnya.
Dampak menyontek sangatlah besar bagi psikologis anak, kedepan saat menjadi pemimpin bisa menjadi pribadi yang hipokrit (munafik).
Ingin menjadi pemimpin tapi lewat jalan yang tidak dibenarkan bukan dari kemampuan dan keluhuran akhlaq atau Budi pekertinya.
Maka solusi bangsa ini kedepan yang dibutuhkan bukan hanya orang pintar tapi butuh orang yang baik dan bijaksana.
Dari Abu Hurairah, bahwasannya Rasulullah saw bersabda:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاث إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَ إِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَ إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
“Tiga tanda munafik adalah jika berkata, ia dusta, jika berjanji, ia mengingkari, dan ketika diberi amanat, maka ia ingkar.”(HR.Bukhari No.33 dan Muslim No. 59)
Jadi hadits ini menjelaskan tanda-tanda munafik, jadi anak yang nyontek saat ujian memiliki perangai buruk seperti orang-orang munafik.
Karena karakter orang munafik itu berbeda antara yang ditampilkan dengan isi hatinya. Menyontek bukanlah akhlak yang baik karena mengikis kejujuran, malas, tidak mau berusaha dengan keras untuk mendapatkan nilai atau posisi yang dia inginkan.
Bila kita berpegang teguh pada ajaran agama dan yakin bahwa setiap gerak Kehidupan kita selalu di awasi Allâh SWT, tentunya kita dapat mengontrol perilaku mana yang baik mana yang buruk. Kita mulai dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitar.
Semoga bermanfaat. (*)
Untuk mendapatkan update cepat silakan berlangganan di Google News
