Umat Butuh Aksi, Masjid Harus Jadi Pusat Ilmu dan Kesejahteraan

www.majelistabligh.id -

Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, KH. Fathurrahman Kamal, Lc., M.Si., menegaskan pentingnya transformasi pengelolaan masjid Muhammadiyah agar lebih profesional, berorientasi ilmu, dakwah, dan kesejahteraan umat.

Dengan tema “Transformasi Jenis Masjid Muhammadiyah Jawa Timur”, KH. Fathurrahman mengingatkan bahwa masjid harus menjadi pusat dakwah yang berkemajuan, bukan sekadar tempat ritual ibadah.

“Kalau takmir masjid itu gagal, siapa nabinya nanti? Dalam sejarah, arah dan pijakan dakwah sudah sangat jelas,” tegasnya di hadapan peserta Konsolidasi Majelis Tabligh se-Malang Raya di Kota Batu, Jawa Timur, Ahad (26/10/2025).

Menurutnya, selama ini masjid sering kali menjadi amal usaha yang “paling menderita” di tubuh Persyarikatan. Tidak seperti sekolah, kampus, dan rumah sakit yang berkembang pesat, banyak masjid justru stagnan karena tidak memiliki sistem pengelolaan yang jelas.

“Sekolah maju karena ada Dikdasmen, kampus maju karena ada Dikti, PKU maju karena ada MPKU. Tapi masjid, semua lepas tangan. Lalu orang lain disalahkan, Salafi berdaulat, HTI berdaulat. Padahal, status masjid di Muhammadiyah sendiri belum jelas,” ujarnya.

KH. Fathurrahman menegaskan, pedoman kemasjidan Muhammadiyah sudah menetapkan bahwa masjid adalah amal usaha Persyarikatan. Artinya, pengelolaannya harus mengikuti mekanisme organisasi, bukan berjalan sendiri-sendiri.

Ia juga menyoroti perlunya membedakan karakter masjid. Masjid yang berorientasi populis dapat menjadi wilayah LPCR, sementara masjid yang berbasis ilmu, dakwah, dan kesejahteraan menjadi tanggung jawab Majelis Tabligh.

“Masjid masa depan harus menjadi pusat ilmu, pusat ekonomi umat, dan pusat pemberdayaan. Bukan hanya tempat shalat berjamaah,” katanya.

Dalam paparannya, KH. Fathurrahman juga menyerukan agar pengelolaan masjid tidak lagi bersandar pada semangat semata, tetapi dengan sistem yang profesional.

“Tidak mungkin masjid bisa maju hanya dengan semangat tanpa sistem. Kita butuh tenaga profesional yang digaji layak, dilatih dan dikawal tim pengawas syariah,” tegasnya.

Beliau menegaskan, masjid harus menjadi ruang yang ramah generasi muda. “Buat co-working space, wifi zone, tempat diskusi agar anak muda betah di masjid. Jangan jadikan teknologi musuh dakwah,” tambahnya.

KH. Fathurrahman menekankan agar seluruh gerakan dakwah Muhammadiyah berfokus pada tiga hal utama: Ilmu, Dakwah, dan Kesejahteraan.

“Umat tidak butuh debat, umat butuh kita bekerja. Jangan merasa berjasa hanya karena memberi ustaz sejuta rupiah. Itu bukan jasa, tapi hak, karena orang yang mengajarkan Al-Qur’an adalah yang paling berhak atas harta kita,” ucapnya dengan lantang.

Beliau juga menegaskan pentingnya memperkuat kesejahteraan para mubalig dan takmir masjid. Salah satunya melalui program “Sundukul Birr”, yaitu solidaritas dana bagi da’i.

Selain itu, Majelis Tabligh juga menyiapkan koperasi masjid sebagai instrumen ekonomi umat dengan sistem syariah dan pelatihan profesional.

Dalam penutupnya, KH. Fathurrahman menyerukan agar dakwah Muhammadiyah tidak terjebak pada simbol-simbol superfisial, tetapi fokus pada substansi dan kebermanfaatan sosial.

“Kita jangan sibuk mengideologikan simbol seperti cingkrang, jenggot, atau cadar sampai lupa substansi dakwah. Dakwah Muhammadiyah harus berkemajuan: berbasis sosiologis, inklusif, proaktif, dan filosofis,” pesannya.

Ia menegaskan, semangat dakwah Muhammadiyah hari ini harus menjawab tantangan zaman dengan kerja nyata, profesionalisme, dan solidaritas umat.

“Kalau untuk maksiat orang bisa totalitas, kenapa untuk dakwah kita setengah hati? Inilah jihad kita: membangun masjid berilmu, berdakwah dengan sistem, dan menyejahterakan umat,” tutupnya. (Afifun Nidlom)

Tinggalkan Balasan

Search