Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Nur Kholis, mengingatkan umat agar tidak terjebak dalam budaya konsumerisme. Sebab kehidupan masa kini dipenuhi oleh promosi gaya hidup mewah melalui media sosial, iklan barang premium, serta tekanan sosial yang menciptakan ukuran baru tentang kesuksesan
“Dalam kondisi seperti ini, uang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Mulai urusan pendidikan hingga ibadah, dari kebutuhan sehari-hari hingga mimpi masa depan,” kata Nur Kholis, dalam khutbah Jumat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan, Jumat (30/1/2026).
Menurut Nur Kholis, ironinya justru banyak orang terpelajar yang memahami teori investasi, membaca buku keuangan, bahkan mengikuti seminar pengelolaan finansial, tetapi tetap hidup dalam kegelisahan ekonomi. Tidak sedikit yang akhirnya terlilit utang demi memenuhi gaya hidup yang tidak sebanding dengan penghasilan.
Ia menegaskan bahwa harta merupakan ujian sekaligus nikmat dari Allah. Hal itu ditegaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 155: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Ayat tersebut mengingatkan bahwa harta adalah bagian dari ujian kehidupan. Tidak selamanya hadir dalam jumlah banyak dan tidak selalu bertahan di tangan manusia. Yang terpenting adalah bagaimana cara menyikapinya—apakah dengan sabar, syukur, dan bijaksana.
Nur Kholis kemudian mengutip pandangan penulis kontemporer Morgan Housel dalam buku The Psychology of Money yang menyatakan bahwa keberhasilan mengelola uang sedikit berkaitan dengan kecerdasan, tetapi sangat bergantung pada perilaku sehari-hari.
Ia menilai pandangan ini sejalan dengan sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan Imam Muslim:
“Orang beriman yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang beriman yang lemah, namun pada keduanya ada kebaikan. Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu lemah.”
Menurutnya, kekuatan yang dimaksud tidak hanya fisik, tetapi juga kekuatan mengelola harta dengan bijak, menghindari pemborosan, dan membiasakan hidup sederhana.
Ia mencontohkan banyak orang yang secara intelektual memahami pentingnya menabung dan investasi, tetapi dalam praktiknya sulit mengendalikan keinginan berbelanja, mengikuti tren, bahkan memamerkan kekayaan.
Di sisilain, pihaknya menekankan pentingnya memahami konsep takdir. Ia mengutip Al-Qur’an: “Setiap bencana yang menimpa bumi dan yang menimpa dirimu sendiri semuanya telah tertulis dalam kitab sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah.”
Ayat ini, katanya, mengajarkan bahwa hidup tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia. Ada faktor keberuntungan dan risiko yang berada di luar perhitungan. Ia mencontohkan kisah Bill Gates dan Ken Evans yang dikemukakan Morgan Housel—dua sosok sama-sama cerdas, tetapi memiliki nasib berbeda karena faktor keberuntungan dan risiko.
Bill Gates memperoleh akses komputer sejak muda, sementara Ken Evans meninggal lebih awal akibat kecelakaan. “Sebagai muslim kita menyebut ini sebagai qadarullah. Kita diperintahkan berikhtiar semaksimal mungkin, namun tetap berserah diri kepada Allah atas hasilnya. Jangan sombong ketika sukses dan jangan putus asa ketika gagal,” tegasnya.
Dalam Islam, konsep ini sejalan dengan ajaran zuhud dan qanaah. Ia mengingatkan sabda Rasulullah saw: “Kekayaan bukanlah dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.”
Ia juga mengingatkan peringatan Al-Qur’an, “Alhākumut takātsur ḥattā zurtumul maqābir,” sebagai teguran keras bagi mereka yang terjebak gaya hidup konsumtif dan gemar pamer harta. Menurutnya, harta yang dipamerkan sejatinya telah hilang, sementara harta yang disimpan dan digunakan untuk kebaikanlah yang akan menjadi penolong di dunia dan akhirat. (*/tim)
