Dalam upaya mendukung visi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai kampus bereputasi internasional, Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP UMM menggelar workshop bertajuk Program Internship dengan Perguruan Tinggi Luar Negeri, Rabu (24/4/2025).
Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah strategis memperkuat jejaring kerja sama internasional, khususnya dalam bentuk program magang mahasiswa lintas negara.
Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial, Dr. Fauzik Lendriyono menyampaikan bahwa pengembangan institusi harus dilandaskan pada dokumen strategis kampus seperti Statuta, Rencana Operasional (Renop), dan Indikator Kinerja Turunan (IKT) yang telah tersusun secara sistematis.
Menurutnya, keselarasan dokumen ini menjadi landasan penting dalam mendorong pencapaian target-target internasionalisasi yang telah dicanangkan UMM.
“Workshop ini sekaligus menjadi momen evaluasi kerja sama internasional yang telah terjalin, khususnya dengan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM),” terang Fauzik.
Dia lalu menjelaskan, kerja sama UMM dengan Fakultas Sains Sosial dan Kemanusiaan (FSSK) UKM telah berlangsung selama empat tahun.
Salah satu hasil konkret dari kolaborasi ini adalah program magang lintas negara, di mana enam mahasiswa UKM akan menjalani praktikum bersama mahasiswa UMM di Jawa Timur selama dua bulan. Sementara itu, UMM juga akan mengirimkan mahasiswa tahap kedua ke Malaysia dalam program serupa.
Sementara itu, Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda menekankan pentingnya kesiapan sumber daya manusia, ekonomi, dan infrastruktur dalam mendorong internasionalisasi kampus.
Dia menyarankan agar fokus tidak hanya pada “akreditasi internasional”, tetapi diperluas menjadi “rekognisi internasional”.
“Pengakuan global seharusnya bukan sekadar formalitas, melainkan capaian konkret menuju status World Class University (WCU),” tegasnya.
Senada dengan itu, Wakil Rektor IV UMM, Muhammad Salis Yuniardi, Ph.D., menjelaskan bahwa pendekatan internasionalisasi antara perguruan tinggi di Indonesia dan luar negeri memiliki perbedaan signifikan.
“Di luar negeri, hanya ada dua pilar utama: pengajaran dan penelitian. Di Indonesia, kita juga memasukkan pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya.
UMM, lanjut Salis, telah membangun kurikulum berstandar internasional dengan pendekatan Outcome Based Education (OBE) yang menanamkan wawasan global dan kompetensi internasional pada mahasiswa.
“Selain itu, mobilitas internasional terus didorong, baik bagi mahasiswa maupun dosen. Bentuknya beragam, mulai dari short course selama dua minggu hingga satu bulan, credit transfer satu semester di luar negeri, hingga mirroring class dan program double degree,” papar dia.
Tak hanya itu, UMM juga menciptakan atmosfer internasional melalui program Foreign Language for Specific Purposes (FLSP) yang membekali mahasiswa dengan kemampuan komunikasi di forum global.
Dalam aspek riset dan publikasi, dosen dan mahasiswa juga didorong aktif dalam konferensi dan jurnal internasional, termasuk menjadi reviewer jurnal bereputasi.
Dengan berbagai inisiatif tersebut, Prodi Kesejahteraan Sosial UMM menunjukkan komitmennya dalam memperkuat kerja sama internasional demi mendukung transformasi UMM sebagai universitas bertaraf dunia. (*/wh)
