Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menegaskan perannya dalam menjawab tantangan zaman dengan mengukuhkan dua guru besar baru yang fokus pada isu strategis: kesehatan mental dan pembangunan berkelanjutan.
Dalam Sidang Terbuka Senat di Auditorium Moh. Djazman, Kamis (19/6/2025), Prof. Dr. Eny Purwandari dan Prof. Ir. Mochamad Solikin menyampaikan orasi ilmiah yang menyoroti pentingnya literasi kesehatan jiwa dan teknologi beton ramah lingkungan di era modern.
Prosesi pengukuhan dipimpin oleh Rektor UMS sekaligus Ketua Senat, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum.
Acara dihadiri pimpinan universitas, anggota senat, dosen, mahasiswa, serta tamu undangan dari berbagai institusi.
Dalam pidatonya, Eny menyoroti isu kesehatan mental di tengah era disrupsi. Ia menyampaikan bahwa gangguan mental bukan hanya persoalan individu, tetapi juga dipengaruhi ketimpangan sosial dan tekanan sistemik.
Hal tersebut disampaikan berdasarkan data WHO yang menyebut 1 dari 8 orang di dunia mengalami gangguan mental.
“Di Indonesia, sekitar 9,8 persen penduduk usia 15 tahun ke atas mengalami gangguan mental emosional,” jelas Eny.
Ketua Program Studi Magister Psikologi UMS itu mendorong penguatan literasi dan layanan kesehatan mental berbasis komunitas.
Dirinya juga menekankan pentingnya inovasi seperti tele-mental health sebagai strategi preventif dan rehabilitatif.
UMS sendiri telah membentuk unit Student Mental Health and Well-being Support (SMHWS). Lembaga ini fokus mendampingi mahasiswa dalam menjaga kesehatan psikologis selama menempuh studi.
Pada kesempatan yang sama, Solikin memaparkan pidatonya yang mengangkat isu emisi karbon dari industri beton. Ia menawarkan solusi melalui teknologi High Volume Fly Ash Concrete (HVFA) yang menggantikan hingga 50 persen komposisi semen.
“Jadi, penerapan teknologi ini mampu menekan emisi sekaligus meningkatkan workability beton melalui bentuk partikel fly ash yang bulat dan halus,” kata Solikin.
Fly ash adalah limbah pembakaran batu bara yang tidak lagi tergolong limbah B3 dan memiliki potensi besar sebagai pengganti semen.
Indonesia sendiri memproduksi sekitar 13 juta ton fly ash per tahun yang dapat mengurangi kebutuhan semen nasional hingga 21 persen.
Teknologi HVFA dikembangkan bersama tim Pusat Studi Rekayasa Struktur UMS dan telah diterapkan dalam berbagai inovasi.
Beberapa di antaranya adalah genteng beton ringan, plat lantai half slab, dan panel beton berongga.
Rancangan beton tersebut telah diajukan paten dan dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi. Teknologi ini dinilai Solikin ramah lingkungan, efisien, dan memiliki ketahanan jangka panjang.
Terakhir, Solikin menegaskan teknologi beton tidak boleh lepas dari isu lingkungan. “Insinyur masa kini harus membangun tanpa merusak, mencipta tanpa mencemari,” tutup dia.
Dengan pengukuhan dua guru besar ini, UMS kini memiliki total 61 profesor. Hal ini menjadi bagian dari komitmen UMS dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang berdampak bagi masyarakat, lingkungan, dan bangsa. (genis dwi gustati)
