Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus menegaskan komitmennya dalam meraih predikat sebagai kampus unggulan bertaraf internasional.
Upaya ini diwujudkan melalui penyelenggaraan lokakarya bertajuk “Capacity Building Workshop for Internationalization: Dream Big, Think Global, Act Now” di Ruang Seminar Gedung Induk Siti Walidah, Kampus UMS, pada Senin (21/4/2025).
Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk ikhtiar nyata UMS dalam membangun pemahaman bersama di kalangan civitas academica, terutama pimpinan fakultas dan program studi, mengenai pentingnya orientasi internasional dalam pengembangan institusi pendidikan tinggi
. Lokakarya ini merupakan hasil kolaborasi antara Education USA dan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, bekerja sama dengan UMS serta Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT).
Kepala Biro Kerja Sama dan Urusan Internasional (BKUI) UMS, Andy Dwi Bayu Bawono, Ph.D, dalam sambutannya menyampaikan bahwa workshop ini bertujuan mendorong transformasi UMS agar lebih terlibat aktif di dunia pendidikan global.
“Kami ingin mengarahkan UMS untuk semakin berpijak pada konteks internasional. Internasionalisasi bukan hanya tanggung jawab lembaga, tetapi harus menjadi pemahaman dan gerakan bersama seluruh komponen kampus,” ungkap Andi.
Lebih lanjut, Andi menjelaskan bahwa UMS telah merancang sejumlah agenda internasionalisasi, mulai dari memperluas program pertukaran mahasiswa dengan universitas di Amerika Serikat, meningkatkan jumlah mahasiswa serta dosen asing yang hadir di UMS, hingga mengirimkan dosen UMS untuk mengajar dan meneliti di luar negeri. Selain itu, kerja sama riset dan publikasi ilmiah bersama mitra internasional juga menjadi prioritas utama.
“UMS sebagai kampus yang mengedepankan nilai-nilai keislaman memiliki potensi besar dalam menarik minat akademisi dari luar negeri, terutama mereka yang ingin mendalami studi keislaman dan budaya lokal. Kami ingin menjadikan UMS sebagai pusat studi Islam yang inklusif dan terbuka bagi siapa pun,” tambahnya.
Workshop ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Jacob Hosier, MA, Director of Access Programs, Continuing and Professional Education dari University of California, Davis, serta Dr. I Made Andi Arsana, Ph.D., Ketua Program Studi Magister Teknik Geomatika Universitas Gadjah Mada.
Dalam sesi pertama, Jacob Hosier menyampaikan materi tentang karakteristik mahasiswa Amerika Serikat dalam memilih studi di luar negeri.
Dia menekankan pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan menawarkan pengalaman budaya yang autentik.
“Mahasiswa Amerika ingin merasakan pengalaman berbeda—belajar bahasa lokal, hidup di tengah masyarakat baru, dan memperluas wawasan global mereka,” ujar Jacob.
Sementara itu, pada sesi kedua, Dr. I Made Andi Arsana menyoroti sejumlah tantangan yang masih dihadapi perguruan tinggi di Indonesia dalam proses internasionalisasi.
Dia menyebutkan isu seperti keterbatasan jumlah kelas internasional, hambatan bahasa, hingga kurangnya alokasi anggaran sebagai beberapa faktor yang perlu segera diatasi.
Menurutnya, strategi kerja sama resiprokal bisa menjadi solusi yang efektif. “Idealnya, mahasiswa asing yang datang ke Indonesia mendapat dukungan dari institusi tuan rumah, demikian pula mahasiswa Indonesia yang menempuh studi ke luar negeri. Dengan sistem yang saling mendukung seperti ini, kolaborasi akan lebih berkelanjutan dan menguntungkan kedua belah pihak,” jelas Andi.
Lokakarya yang berlangsung selama hampir tujuh jam ini mendapat antusiasme tinggi dari para peserta. Salah satunya adalah Dr. Peni Indrayudha, dosen Program Studi Farmasi UMS. Ia mengaku mendapatkan banyak wawasan baru mengenai strategi menarik mahasiswa dan dosen dari luar negeri untuk bergabung dengan UMS.
Menurut Peni, setiap program studi harus mampu mengembangkan keunikan tersendiri agar menarik perhatian mitra internasional.
“Contohnya, Prodi Farmasi bisa menonjolkan keunggulan lokal seperti jamu tradisional dan tanaman obat herbal sebagai daya tarik bagi mahasiswa asing. Ini adalah peluang besar untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan pengetahuan lokal ke kancah global,” tuturnya.
Ia juga berharap langkah internasionalisasi ini mendapat dukungan penuh dari seluruh unit akademik di lingkungan UMS, agar proses transformasi menuju kampus global benar-benar berdampak positif terhadap kualitas pendidikan dan peringkat institusi di tingkat dunia.
“Semoga kerja sama internasional ini semakin berkembang, dan UMS benar-benar menjadi salah satu kampus unggulan di tingkat global,” pungkasnya.
Dengan terselenggaranya lokakarya ini, UMS tidak hanya menunjukkan keseriusannya dalam mempersiapkan diri menjadi kampus berkelas dunia, tetapi juga membuka jalan bagi lahirnya jejaring akademik yang kuat lintas negara, demi menghadirkan pendidikan tinggi yang inklusif, kolaboratif, dan berorientasi masa depan. (*/wh)
