Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menegaskan komitmennya dalam memperluas jejaring global melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Parallaxnet, sebuah perusahaan berbasis teknologi yang berkantor pusat di California, Amerika Serikat.
Penandatanganan kerja sama tersebut dilangsungkan bertepatan dengan agenda International Guest Lecture bersama CEO Parallaxnet Mazhar Durrani yang digelar di Auditorium KH Ahmad Dahlan, pada Selasa (17/6/2025).
Rektor Umsida Dr. Hidayatulloh dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kedatangan Durrani dan menyampaikan profil serta capaian kampus kepada mitra internasional tersebut.
Dia menjelaskan bahwa Umsida merupakan satu dari 14 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang telah meraih akreditasi “Unggul”.
“Dalam jajaran perguruan tinggi Muhammadiyah, Umsida menjadi kampus ke-11 yang memperoleh predikat tersebut,” ungkapnya.
Hidayatulloh menegaskan, kampus yang mengusung tagline “Dari Sini Pencerahan Bersemi” ini tidak hanya fokus pada pencapaian akademik, tetapi juga menjadikan kerja sama dengan berbagai pihak sebagai strategi untuk memajukan institusi.
“Muhammadiyah hadir bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk kemajuan bangsa dan mencerahkan semesta. Maka kerja sama seperti ini menjadi bagian dari langkah strategis Umsida untuk terus berkembang,” ujarnya.
Kerja sama dengan Parallaxnet ini, lanjut Rektor, tidak hanya terbatas pada penandatanganan MoU di tingkat institusi, tetapi juga ditindaklanjuti dengan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara seluruh fakultas yang ada di Umsida dengan mitra dari Amerika Serikat tersebut.
Hal ini menandakan keterlibatan aktif dari seluruh unit akademik dalam memanfaatkan peluang kolaborasi internasional.
Umsida sendiri memiliki tujuh fakultas yang tersebar di tiga lokasi kampus. Kampus 1 menaungi Fakultas Agama Islam (FAI), Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), serta sebagian dari Fakultas Bisnis, Hukum, dan Ilmu Sosial (FBHIS).
Di Kampus 2 terdapat Fakultas Sains dan Teknologi (FST), sementara Kampus 3 menjadi tempat bagi Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan (FPIP) serta sebagian FBHIS. Secara keseluruhan, Umsida memiliki 32 program studi dengan jumlah mahasiswa mencapai lebih dari 11.000 orang.
Melalui kolaborasi ini, berbagai program strategis telah disiapkan, termasuk peluang beasiswa bagi mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan yang ingin mengikuti pelatihan berbasis teknologi yang disediakan oleh Parallaxnet.
Program-program pelatihan ini nantinya akan memberikan sertifikat internasional yang bisa menjadi dokumen pendamping ijazah serta bukti kompetensi peserta di bidang teknologi dan kewirausahaan digital.
“Umsida akan memfasilitasi siapa pun yang ingin mengikuti program pelatihan ini. Kami ingin kerja sama ini benar-benar memberi manfaat besar, khususnya dalam membekali generasi muda menghadapi masa depan,” tutur Dr. Hidayatulloh.
Dia juga berharap kuliah tamu internasional yang dibawakan oleh Mr. Mazhar Durrani menjadi momentum awal yang positif, tidak hanya memberikan wawasan baru kepada mahasiswa, tetapi juga membuktikan pentingnya informasi global untuk pembangunan sumber daya manusia di Indonesia.
Sementara itu, dalam sesi kuliah tamu, Mazhar Durrani menyampaikan alasan mengapa dirinya memilih Indonesia sebagai negara mitra kerja sama.
Dia mengaku terkesan dengan keberagaman budaya dan kekayaan kuliner Indonesia. “Makanan Indonesia luar biasa, penuh cita rasa dan sangat bervariasi,” ujarnya.
Selain itu, Durrani menyoroti keunikan masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam namun hidup dalam kedamaian dan harmoni.
Hal ini sangat berbeda dengan kondisi di negara asalnya, yang menurutnya lebih individualistis dan kurang memperhatikan budaya.
“Di Indonesia saya belajar banyak tentang Islam sebagai agama yang damai. Ini menjadi pengalaman berharga bagi saya,” tuturnya.
Mengakhiri acara, Hidayatulloh menyampaikan harapan agar kemitraan ini tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi berkembang menjadi berbagai kolaborasi jangka panjang yang produktif, baik dalam bentuk pertukaran pengetahuan, pelatihan profesional, hingga pengembangan kewirausahaan berbasis teknologi. (romadhona s).
