Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Prof. Achmad Nurmandi menegaskan komitmen UMY untuk memperkuat ekosistem inovasi berbasis kewirausahaan melalui enam pilar utama: Consultation, Transmission, Effort, Commercialization, Business Activity, dan Use.
Langkah ini diharapkan menjadikan UMY bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi juga motor penggerak kolaborasi akademik dan peluang ekonomi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Dalam arahannya kepada dosen dan pejabat struktural UMY pada kegiatan Orientasi Pejabat Struktural UMY Periode Tahun 2025, Nurmandi menyatakan bahwa konsep entrepreneurial university sesungguhnya berawal dari hal-hal sederhana seperti memanfaatkan keahlian dan potensi yang dimiliki civitas academica untuk mengembangkan UMY secara bersama-sama.
“Dosen UMY memiliki keahlian di bidangnya masing-masing dan sering diundang dalam berbagai forum nasional maupun internasional. Potensi ini dapat dikembangkan menjadi peluang kelembagaan, seperti membentuk unit konsultasi resmi di bawah universitas. Dengan demikian, keahlian dosen dapat terorganisasi sebagai sumber daya universitas yang memberikan manfaat lebih besar bagi individu maupun institusi,” ungkap Nurmandi, pada Selasa (29/7/2025).
Konsep entrepreneurial university yang diusung UMY memiliki enam pilar utama, yaitu Consultation, Transmission, Effort, Commercialization, Business Activity, dan Use. Setiap pilar merepresentasikan peran aktif perguruan tinggi dalam menciptakan ekosistem inovasi yang bernilai ekonomis.
Prof. Nurmandi mencontohkan beberapa proyek yang sudah berjalan, seperti pendampingan pendirian Fakultas Kedokteran di Universitas Islam Riau yang difasilitasi UMY.
Proyek-proyek tersebut menunjukkan bagaimana kolaborasi kelembagaan dapat membuka peluang-peluang baru yang lebih besar. Di mana konsultasi menjadi salah satu bentuk kontribusi keilmuan yang bisa dilembagakan.
Selain itu, hasil-hasil penelitian dosen yang aplikatif dapat dikembangkan lebih lanjut menuju tahap komersialisasi, terutama produk-produk yang berkaitan dengan kebutuhan rumah sakit dan industri kesehatan.
Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara perguruan tinggi dan mitra industri agar produk inovasi bisa masuk ke pasar dengan optimal.
“Kita saat ini perlu membangun budaya berpikir yang lebih kreatif dan proaktif dalam mencari peluang. Setiap dosen harus bisa menjalin kemitraan, baik dengan dunia industri, lembaga pemerintahan, hingga program internasional seperti Erasmus guna memperluas akses pendanaan dan memperkuat jejaring kolaborasi,” tegasnya.
Lebih lanjut, Nurmandi menekankan bahwa konsep entrepreneurial university bukan sebagai bentuk upaya kapitalisasi untuk mencari uang semata. Esensi utamanya adalah bagaimana universitas mampu mengelola sumber daya yang dimiliki agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, institusi, dan civitas academica.
“Entrepreneurial university itu bukan berarti hanya bicara soal uang dan keuntungan finansial. Yang terpenting adalah bagaimana kita menciptakan nilai tambah, memperkuat kebermanfaatan keilmuan, dan membangun kemandirian institusi agar lebih berdaya saing. Jika dikelola dengan baik, potensi keilmuan kita bisa memberikan dampak yang jauh lebih besar bukan hanya untuk universitas tapi juga bagi masyarakat dan bangsa,” jelas Nurmandi.
Konsep ini, menurutnya, harus dipahami sebagai strategi bersama untuk membangun ekosistem akademik yang produktif, kolaboratif, dan berorientasi pada pemecahan masalah nyata di masyarakat.
Kewirausahaan berbasis institusi harus menjadi budaya kerja yang melibatkan seluruh unsur universitas, bukan hanya menjadi beban individu dosen, melainkan kerja kolektif yang terorganisasi. (*/tim)
