UMY Perkuat Budaya Riset Sehat, Cegah Jurnal Predator dan Kutipan Tak Relevan

www.majelistabligh.id -

Temuan Research Integrity Risk Index (RI²) yang menunjukkan banyak kampus Indonesia masuk zona merah dalam integritas riset menjadi peringatan keras bagi dunia akademik.

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) merespons dengan memperkuat ekosistem riset yang beretika, bersih dari jurnal predator, dan menghindari praktik kutipan tidak proporsional demi menjaga mutu akademik dan reputasi internasional.

Wakil Rektor UMY Bidang Riset, Inovasi, dan Hilirisasi, Dr. Med. dr. Supriyatiningsih, M.Kes, Sp.OG, menekankan bahwa hasil penelitian RI² perlu disikapi secara kritis dan konstruktif.

Salah satu indikator penting dalam indeks tersebut adalah jumlah publikasi yang dikirim ke jurnal yang kemudian dikeluarkan dari Scopus atau teridentifikasi sebagai jurnal predator.

Selain itu, praktik self-citation yang tidak relevan dan proporsional juga menjadi perhatian utama.

“Penilaian dalam Research Integrity Risk Index ini sebagian besar merujuk pada praktik yang merusak kredibilitas ilmiah. Perguruan tinggi perlu mengambil langkah-langkah sistemik dalam mencegah praktik semacam ini agar tidak merusak kualitas dan kepercayaan terhadap hasil riset dari civitas academica,” ujar Supriyatiningsih pada Selasa (22/7/2025).

Meski UMY tidak termasuk dalam daftar perguruan tinggi yang tercatat dalam indeks tersebut, Supriyatiningsih menyadari pentingnya penguatan sistem dan budaya riset yang berintegritas dan sesuai dengan etika ilmiah.

UMY terus melakukan optimalisasi ekosistem riset yang kuat, mengembangkan tim internal, serta evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola riset.

Salah satu bentuk nyatanya adalah pembentukan basis data publikasi dosen yang terindeks Scopus untuk mendorong proses sitasi yang sehat dan relevan antar-peneliti di lingkungan UMY.

Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena mendorong kolaborasi dan komunikasi langsung antar-peneliti. Basis data ini juga dapat diakses oleh seluruh civitas academica untuk memudahkan proses sitasi ilmiah yang sahih.

“Kami ingin menciptakan budaya penelitian dan sitasi yang sehat dan kolaboratif. Jika ada dosen UMY lain yang sudah meneliti topik serupa, sitasi atau kutipan internal dapat dilakukan selama tidak melebihi 30 persen dari keseluruhan penelitian. Ini juga mendorong kolaborasi penelitian transdisipliner yang berdampak lebih luas,” ujar dokter yang biasa disapa Upi ini.

Melalui koordinasi dari Direktorat Riset dan Pengabdian (DRP), UMY telah membentuk tim reviewer internal yang bertugas memeriksa naskah publikasi sebelum dikirim ke jurnal.

Proses review ini tidak hanya mencakup kesesuaian konten dengan jurnal tujuan, tetapi juga potensi risiko etis, seperti publikasi di jurnal predator. Seluruhnya dilakukan secara kolektif di tingkat fakultas, dengan dukungan administratif dari universitas.

“Sistem review ini tidak hanya melihat konten penelitian, tetapi juga kejelasan tujuan jurnal dan rekam jejaknya. Jangan sampai dosen kami terkecoh dengan jurnal predator, bahkan jurnal yang berpotensi dikeluarkan atau dihentikan dari indeks Scopus,” imbuhnya.

Upi menyadari adanya tantangan besar dalam mendorong transformasi budaya riset di lingkungan kampus.

Perubahan budaya membutuhkan waktu dan strategi yang masif. Oleh karena itu, reformasi riset tidak bisa hanya bertumpu pada individu, tetapi harus menjadi gerakan kolektif.

Upi menegaskan bahwa UMY senantiasa mendorong riset melalui pendekatan klaster dan sub-klaster riset yang dirancang untuk mendorong riset transdisipliner.

Melalui pendekatan ini, dosen dari berbagai bidang ilmu berkolaborasi untuk menjawab isu-isu strategis dan kompleks yang membutuhkan pendekatan multidimensi. (*/tim)

Tinggalkan Balasan

Search