Tak ingin riset hanya berakhir di ruang laboratorium atau laporan akademik, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) terus mendorong hasil-hasil inovasinya menembus pasar industri.
Melalui berbagai program pelatihan, kerja sama strategis, hingga pendaftaran kekayaan intelektual, UMY mempercepat langkahnya menjadi entrepreneurial university—sebuah kampus yang tak hanya mencetak lulusan unggul, tetapi juga solusi nyata bagi masyarakat.
Kepala Direktorat Riset dan Hilirisasi UMY Dr. Novi Caroko menjelaskan bahwa hilirisasi inovasi tidak hanya menjadi tanggung jawab dosen, namun juga melibatkan mahasiswa sebagai aktor utama dalam proses penciptaan produk dan solusi kreatif.
“Kami ingin mahasiswa tidak sekadar menjadi pendamping riset dosen, tapi juga mampu menghasilkan inovasi sendiri. Mereka perlu memahami proses inovasi sejak dini. Inovasi pun tidak selalu harus berasal dari penelitian ilmiah, bisa juga dari produk sehari-hari yang memiliki potensi pasar,” ujar Novi, saat menghadiri ‘Workshop dan Bimbingan Teknis Pendaftaran Desain Industri’, Kamis (26/6/2025).
Sebagai bagian dari upaya sistematis, UMY telah menginisiasi berbagai program akselerasi dan pelatihan, termasuk bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).
Dalam program ini, mahasiswa yang telah menciptakan produk inovatif diarahkan untuk mendaftarkan kekayaan intelektual mereka.
Hal ini menjadi langkah awal dalam skema hilirisasi, sebelum produk dapat dikomersialisasikan atau digunakan secara luas oleh masyarakat dan industri.
Lebih lanjut, UMY juga membuka jalur kemitraan strategis dengan berbagai pihak untuk menghubungkan inovasi kampus dengan kebutuhan industri.
Salah satu kerja sama yang telah membuahkan hasil adalah dengan Kamar Dagang dan Industri (KADIN), yang membuka akses bagi perusahaan untuk mengadopsi produk berpatent hasil karya UMY.
“Kemitraan ini menjadi pintu awal bagi dunia industri untuk mengenal dan memanfaatkan inovasi dari kampus. Kami ingin inovasi tidak hanya selesai di meja riset, tapi benar-benar digunakan dan bermanfaat bagi masyarakat luas,” tambah Novi.
Meski menunjukkan progres signifikan, Novi mengakui tantangan terbesar terletak pada membentuk budaya inovasi yang kuat di lingkungan akademik.
Perubahan pola pikir, dari sekadar mengajar dan belajar menjadi berpikir solutif dan berorientasi pada penciptaan nilai, menjadi kunci penting.
“Kita perlu membiasakan sivitas akademika untuk melihat peluang dan berani mengambil langkah nyata. Jika tantangan ini dapat diatasi, maka kita tidak hanya akan melahirkan inovasi, tetapi juga menjawab kebutuhan industri yang selama ini belum terjawab,” pungkasnya.
Melalui berbagai program strategis ini, UMY menunjukkan komitmennya sebagai kampus berdampak, yang tidak hanya fokus pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga pada pemanfaatannya secara nyata untuk kemajuan bangsa. (*/tim)
