Citra global kini menjadi pertimbangan penting bagi calon mahasiswa, terutama mereka yang berasal dari luar negeri, dalam memilih perguruan tinggi.
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), yang kini memiliki lebih dari 140 mahasiswa internasional aktif, baru saja meluluskan tujuh di antaranya dalam Wisuda Periode IV yang berlangsung Rabu dan Kamis (11–12/6/2025).
Sebagai salah satu perguruan tinggi swasta di Indonesia yang menarik banyak minat dari mahasiswa luar negeri, UMY tidak hanya berfokus pada peningkatan reputasi, tetapi juga berupaya keras menjaga mutu pendidikan melalui penerapan standar internasional.
Komitmen ini diwujudkan melalui berbagai strategi, program unggulan, dan sistem penjaminan mutu yang konsisten.
Bagi UMY, menjaga mutu pendidikan bertaraf global bukan hanya target, melainkan juga bentuk tanggung jawab akademik sebagai institusi yang mendorong kemajuan ilmu dan riset.
Kepala Bidang Penjaminan Mutu Eksternal Badan Penjaminan Mutu (BPM) UMY, Novita Kurnia Sari, Ns., M.Kep., menegaskan bahwa kurikulum di UMY telah mengadopsi standar pendidikan internasional.
“Kurikulum kami dirancang secara menyeluruh dengan pendekatan Outcome-Based Education (OBE), yang diselaraskan dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) serta standar global. Kurikulum ini juga telah dibandingkan (benchmarking) dengan sejumlah perguruan tinggi ternama dunia. Kami mengupayakan agar mahasiswa dapat terlibat dalam isu-isu global dan menjalin kerja sama internasional dalam kegiatan pembelajaran,” ungkap Novita pada Kamis (12/6/2025).
Selain kurikulum, UMY juga melengkapi pembelajaran dengan infrastruktur dan teknologi yang mendukung sistem pendidikan global. BPM UMY merancang sistem ini untuk menjawab dinamika global dan mendukung mobilitas akademik lintas negara.
Seluruh proses dijalankan dalam sistem penjaminan mutu yang responsif terhadap perkembangan ilmu dan kebutuhan pasar global. Hasilnya, 13 program studi di UMY telah berhasil memperoleh akreditasi internasional.
Standar internasional juga diterapkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya dosen. Untuk menjaga kompetensi para pengajar, UMY mendorong studi lanjut di luar negeri, pelatihan pengajaran internasional, serta meningkatkan partisipasi dalam publikasi ilmiah dan riset global.
“UMY terus mendukung proses internasionalisasi dosen melalui pelatihan berskala global, sertifikasi internasional, serta kehadiran ratusan dosen asing sebagai visiting professor dan guest lecturer. Kami juga mengirim dosen untuk mengajar dan berkolaborasi di luar negeri. Tujuannya agar mahasiswa kami memiliki daya saing global, serta menjadi insan yang kompeten dan inovatif,” tambah Novita.
Sejak 2015, UMY telah menyusun kebijakan internasionalisasi yang berorientasi jangka panjang hingga 2040, sebagai bagian dari langkah menuju universitas kelas dunia.
Dengan strategi tersebut, UMY tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menciptakan lingkungan akademik yang inklusif dan tetap berfokus pada mutu pendidikan. (id/tim)
