Universitas Al-Azhar dan Dilema Negeri Bernama Mesir

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: M. Ainul Yaqin Ahsan, M. Pd
Anggota MTT PDM Lamongan

Al-Azhar dan Suara yang (Terpaksa) Diredam. Ketika lembaga sebesar Universitas Al-Azhar akhirnya mengeluarkan pernyataan keras atas tragedi kemanusiaan di Gaza, dunia menaruh hormat. Pernyataan itu bukan sekadar sikap institusional, tetapi juga gema hati nurani dari warisan keilmuan Islam berabad-abad lamanya. Kata-kata seperti “genosida yang sempurna” dan “mitra kejahatan” bagi para penyokong entitas penjajah bukanlah frasa ringan. Kata-kata itu adalah jeritan moral dari institusi yang selama ini berdiri menjaga marwah keilmuan umat.

Namun, yang mengejutkan adalah pencabutan pernyataan tersebut. Alasan yang dikemukakan adalah “bahwa pernyataan itu bisa mengganggu proses negosiasi gencatan senjata”, alasan itu menjadi tamparan paradoks. Di satu sisi, alasan yang disebutkan menunjukkan sikap kehati-hatian. Tapi di sisi lain, ia memperlihatkan tekanan yang begitu besar, entah dari internal negara, kekuasaan yang otoriter atau tekanan geopolitik yang rumit.

Mesir: Kekuatan Ilmu dan Ketakutan Rezim

Memahami mengapa Al-Azhar akhirnya mencabut pernyataannya tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik Mesir. Negara ini bukan hanya sekadar tetangga Gaza; Mesir adalah “gerbang utama” keluar-masuknya bantuan kemanusiaan, jalur diplomasi dan bahkan medan pengaruh antara kepentingan regional maupun global.

Mesir pasca-kudeta Abdul Fattah As-Sisi adalah negeri yang masih berkutat dengan luka. Kudeta terhadap Presiden Mursi (presiden sipil pertama hasil pemilu demokratis yang diusung Ikhwanul Muslimin) mengubah arah politik dan kebebasan sipil di negeri itu. Al-Azhar, mau tidak mau harus menavigasi diri dalam labirin kekuasaan militeristik yang seringkali alergi terhadap suara perlawanan. Bukan karena Al-Azhar kehilangan keberanian, tetapi karena negeri yang menaunginya sedang tidak aman bagi suara yang lantang.

Dan kita tahu di dunia Islam, siapa yang bisa membungkam Al-Azhar? Hanya satu: kekuasaan politik di negerinya sendiri.

Menghormati Ulama, Menjaga Adab

Di tengah gelombang kekecewaan banyak pihak termasuk umat Islam sendiri, kita juga diingatkan bahwa mengkritik tidak boleh menghilangkan adab. Al-Azhar bukan sekadar institusi. Ia adalah mercusuar keilmuan, tempat ribuan ulama besar menimba ilmu, mengalirkan sanad dan membentuk tradisi intelektual Islam yang kaya ke penjuru dunia.

Kita boleh kecewa, kita boleh bertanya, bahkan kita boleh merasa geram atas pembungkaman terhadap suara kebenaran. Namun kita tidak boleh kehilangan takzim terhadap ulama yang tetap menjadi penjaga warisan Islam di tengah tekanan yang luar biasa.

Pernyataan Al-Azhar yang sempat terbit dan kemudian dicabut, tetap memiliki nilai historis. Hal ini menandai bahwa para ulama tidak buta, tidak tuli dan tidak bisu terhadap penderitaan umat. Hanya saja mereka terkepung oleh realitas negeri yang rumit, diantaranya tekanan politik, ketakutan militer, bahkan ancaman dari dalam negerinya sendiri.

Sebagai umat Islam, kita memiliki dua tugas:
1. Terus mendukung perjuangan saudara-saudara kita di Gaza dengan doa, dana, dan suara.

2. Menjaga agar para ulama kita tetap bisa menyalakan obor ilmu, meskipun berada dalam ruang yang sempit.

Bukan zamannya lagi kita saling menuding siapa yang terlalu keras dan siapa yang terlalu lembek. Hari ini, yang kita butuhkan adalah sinergi antara para pejuang di medan tempur, para ulama di menara ilmu dan masyarakat dunia yang sadar akan keadilan dan kemanusiaan.

Universitas Al-Azhar mungkin memilih jalan sunyi hari ini. Tapi bukan berarti ia mati rasa. Ia hanya sedang menyusun strategi bertahan agar kelak, saat badai reda, masih ada cahaya ilmu yang bisa diwariskan. Dan tugas kita hari ini: jangan matikan cahaya itu. Jangan biarkan kebenaran hanya menjadi bisikan.

Kita boleh kecewa, tapi jangan sampai lupa, kita masih perlu mereka yang menjaga mimbar ilmu agar tetap tegak, walau dihimpit kekuasaan. (*)

Tinggalkan Balasan

Search