Ustadz Adi Hidayat: Muhammadiyah Harus Jadi Umat Terbaik, Bukan Cuma Umat Kumpul-Kumpul

Ustadz Adi Hidayat Pidato Iftitah, Rakernas 2 Majelis Tabligh. Batu (24/10/2025)
www.majelistabligh.id -

Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Ustadz Dr (HC) KH Adi Hidayat, Lc., MA., Ph.D. (UAH), menyerukan agar Majelis Tabligh Muhammadiyah memposisikan diri sebagai Umat Terbaik sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an.

Seruan itu disampaikan UAH dalam pidato iftitah bertema “Kolaborasi Dakwah dalam Menghadirkan Kesejahteraan bagi Umat” pada pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II Majelis Tabligh Muhammadiyah, Jumat (24/10/2025), di Kota Batu, Jawa Timur.

Acara tersebut turut dihadiri Wali Kota Batu Nurrochman, Wakil Wali Kota, serta perwakilan Majelis Tabligh PWM se-Indonesia.

Lawan Tipologi Umat Kumpul-Kumpul
Dalam paparannya, UAH mengkritik fenomena yang disebutnya sebagai ‘Umat Standar’. Umat yang hanya suka berkumpul tanpa menghasilkan resolusi kebaikan yang jelas.

“Kumpul, duduk, ramai. Ada rebutan sesuatu, teriak-teriak, kumpulan. Bukan salah, namun monyet kan begitu, kalau kumpul-kumpul kan rebutan kacang, lagi-lagi gitu kan,” sindirnya tajam.

UAH menyebut umat semacam ini kehilangan arah karena hanya berhenti pada aktivitas seremonial tanpa menghasilkan perubahan nyata.

Tiga Golongan Umat dalam Al-Qur’an
Menurut UAH, kata “umat” disebut 64 kali dalam Al-Qur’an dan terbagi menjadi tiga tipologi besar:

Pertama, umat Standar. Golongan yang hanya berkumpul untuk keramaian atau status sosial tanpa arah kolektif yang jelas.

Kedua, Umat Ideal. Umat yang berkumpul untuk mengurus dan melahirkan resolusi. Mereka menjalankan empat unsur kebaikan. Yaitu kebaikan fisik lewat makanan yang halal, kebaikan sifat, tindakannya karena Allah dan berbuah amal yang nyata.

Ketiga, Umat Terbaik (Umat Pilihan). Umat yang berpegang pada Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 104: “Waltakum minkum ummatun yada’una ilal khairi wa ya’murūna bil-ma’rūfi wa yanhawna ‘anil-munkar.”

“Umat terbaik adalah mereka yang memiliki komitmen secara kolektif menjauhi kemungkaran,” tegas UAH.

Metafora “Tongkat dan Batu” untuk Wali Kota
Dalam pidatonya, UAH juga memberi apresiasi khusus kepada Wali Kota Batu, menggunakan metafora “tongkat dan batu” sebagai simbol dakwah dan potensi daerah.

“Bapak Wali Kota punya tongkat yang besar. Dipukulkan ke batu. Karena dimaksud maknanya bukan harus cari tongkat, pukul batu. Bukan. Itu majasnya,” jelas UAH.

Metafora “tongkat besar” sebagai amanah dan kewenangan pemimpin untuk memukul potensi positif yang ada di Batu agar memancarkan manfaat seluas-luasnya, seperti 12 mata air yang keluar dari batu.

Menurutnya, Kota Batu harus menjadi tempat yang jernih, nyaman, dan menjadi hijab (benteng) yang mencegah maksiat, agar kenikmatan kota itu tidak berubah menjadi sumber keburukan.

Dakwah Kolaboratif dan Amalan Nyata
Menutup pidatonya, UAH menegaskan bahwa dakwah harus menghadirkan niat kolektif yang menyatukan semua unsur kebaikan menjadi amalan nyata.

“Kolaborasi dakwah itu harus menghadirkan niat kolektif yang menyatukan semua sifat kebaikan untuk melahirkan amalan nyata,” pesan UAH. (Firnas)

Tinggalkan Balasan

Search